Tantangan Kecerdasan Buatan, Sekolah Berperan Lahirkan Generasi yang Miliki Kepedulian Lingkungan dan Sosial
- Istimewa
Jakarta, tvOnenews.com - Pendidikan kini dituntut melahirkan generasi yang inovatif, adaptif, serta memiliki kepedulian terhadap sesama maupun lingkungan di era pesatnya perkembangan teknologi maupun sosial.
Dalam upayanya, Redea Institute turut menyelenggarakan Redea International Conference bertajuk 'Guardians of the Future: Sustainably Impactful and Future-Driven School' di Oktober 2026 ini.
Konferensi ini turut melibatkan berbagai pakar dalam dan luar negeri dengan isu pokok pembahasan berupa transformasi sekolah menuju ekosistem pembelajaran yang berorientasi pada keberlanjutan, inovasi, dan kesejahteraan manusia.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie memaparkan data dari OECD (2026) menunjukkan bahwa siswa yang menggunakan AI terkategori setiap hari memiliki rata-rata skor sains paling rendah dibandingkan mereka yang jarang atau tak pernah menggunakan kecerdasan buatan tersebut.
Menurutnya jika hanya AI yang memecahkan masalah, meringkas, dan menyusun informasi sendiri, manusia akan kehilangan proses belajar.
Padahal, kata Stella, data World Economic Forum (2025) menyebutkan bahwa agilitas, pembelajaran yang konsisten, dan kreativitas merupakan keahlian utama paling dibutuhkan pada 2030.
“Guru seharusnya tidak sekadar mengajarkan cara menggunakan AI, tetapi mengajarkan agar posisi murid di masa depan tidak bisa digantikan oleh AI. Kita harus mampu mengevaluasi hasil dari AI secara kritis,” kata Stella, Jakarta, Minggu (11/10/2026).
Sementara, Direktur Perlindungan dan Pengelolaan Mutu Udara Kementerian Lingkungan Hidup BPLH, Edward Nixon Pakpahan mengatakan memperbaiki lingkungan hidup adalah kebutuhan mendesak yang tidak dapat ditunda.
"Sebagaimana amanat UUD 1945 Pasal 28 H Ayat 1 setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat. Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat adalah kunci keberhasilan,” jelasnya.
Di sisi lain, pendiri dan CEO Redea Institute, Antarina S.F. Amir menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara kemajuan teknologi dan nilai-nilai kemanusiaan.
Menurutnya sekolah berkelanjutan adalah ekosistem hidup yang terus belajar, beradaptasi, dan berkembang agar teknologi memiliki tujuan jelas yakni membentuk pribadi yang tangguh, kreatif, dan berempati.
Load more