Ali Khamenei, Sang Simbol Perlawanan Iran: Dari Presiden Perang hingga Penguasa Bayangan Timur Tengah
- ANTARA
Jakarta, tvOnenews.com - Kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dalam serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel, Sabtu (28/2/2026), menandai berakhirnya satu era paling menentukan dalam sejarah Republik Islam Iran. Sosok yang selama lebih dari tiga dekade menjadi pusat gravitasi kekuasaan, ideologi, dan perlawanan Iran itu kini pergi, meninggalkan warisan yang kompleks—antara keteguhan melawan Barat dan luka mendalam di dalam negeri.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim Khamenei tewas dalam serangan presisi yang menghantam kompleks kediamannya. Otoritas Iran kemudian membenarkan kabar tersebut. Siaran televisi pemerintah bahkan menampilkan presenter yang menitikkan air mata saat mengumumkan wafatnya sang pemimpin, dengan negara menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari.
Dari Revolusi ke Kekuasaan
Ali Khamenei naik ke tampuk kekuasaan tertinggi Iran pada 1989, menggantikan Ayatollah Ruhollah Khomeini, arsitek Revolusi Islam 1979. Berbeda dengan Khomeini yang dikenal sebagai figur ideolog revolusi, Khamenei membangun kekuasaannya secara perlahan namun sistematis—mengokohkan negara melalui kekuatan militer, aparat keamanan, dan jaringan pengaruh regional.
Sebelum menjadi pemimpin tertinggi, Khamenei menjabat Presiden Iran di masa paling berdarah: Perang Iran-Irak 1980–1988. Konflik panjang itu membentuk pandangannya terhadap dunia luar, khususnya Amerika Serikat yang mendukung Irak di bawah Saddam Hussein. Sejak saat itu, kecurigaan terhadap Barat menjadi fondasi kebijakan strategisnya.
Pengalaman perang membuat Khamenei percaya satu hal: Iran harus selalu siap menghadapi ancaman eksistensial. Prinsip inilah yang kemudian membentuk hampir seluruh kebijakannya, dari pertahanan hingga politik luar negeri.
Negara Keamanan dan “Ekonomi Perlawanan”
Di bawah Khamenei, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) berkembang jauh melampaui fungsi militer. IRGC menjadi aktor politik dan ekonomi utama, mengendalikan sektor strategis dari energi hingga infrastruktur. Iran pun berubah menjadi negara dengan arsitektur keamanan berlapis, dirancang untuk tetap bertahan meski kepemimpinan pusat terguncang.
Khamenei juga mengusung konsep “ekonomi perlawanan”—strategi kemandirian nasional untuk menghadapi sanksi Barat. Bagi pendukungnya, kebijakan ini adalah bukti keteguhan Iran melawan tekanan global. Namun bagi pengkritiknya, pendekatan tersebut justru memperdalam isolasi dan memperburuk kesejahteraan rakyat.
Penindakan keras terhadap protes pemilu 2009 dan gelombang demonstrasi 2022 terkait hak perempuan menegaskan gaya kepemimpinan Khamenei yang memandang oposisi domestik sebagai ancaman keamanan nasional. Stabilitas negara, dalam pandangannya, harus dijaga dengan segala cara.
Dari Pragmatis ke Konfrontatif
Meski dikenal keras, Khamenei bukan tanpa pragmatisme. Ia memberi restu pada perjanjian nuklir 2015 atau JCPOA demi meredakan tekanan ekonomi. Namun keputusan AS di era Trump untuk menarik diri dari kesepakatan itu mengubah segalanya. Sejak saat itu, Khamenei menutup pintu dialog dengan Washington dan kembali ke garis konfrontasi.
Ia mendorong strategi “bukan damai, bukan perang”, sembari memperkuat jaringan sekutu regional yang dikenal sebagai “poros perlawanan”—mulai dari Hizbullah di Lebanon, Hamas di Palestina, hingga Houthi di Yaman. Strategi ini menjadikan Iran aktor kunci di Timur Tengah, sekaligus target utama Israel.
Ketegangan mencapai puncaknya setelah perang Israel-Hamas dan serangkaian serangan Israel terhadap target Iran. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahkan secara terbuka melontarkan ancaman langsung terhadap Khamenei—sebuah eskalasi yang sebelumnya nyaris tabu.
Simbol Perlawanan, Figur Kontroversial
Bagi pendukungnya, Ali Khamenei adalah simbol keteguhan—pemimpin yang menolak tunduk pada Amerika Serikat dan Israel, serta menjaga martabat Iran di panggung global. Bagi para pengkritiknya, ia adalah simbol stagnasi: pemimpin yang kian terputus dari aspirasi generasi muda yang mendambakan reformasi, kebebasan, dan perbaikan ekonomi.
Warisan Khamenei bukanlah hitam-putih. Ia berhasil menjaga kelangsungan Republik Islam selama lebih dari 30 tahun di tengah tekanan eksternal yang luar biasa. Namun, harga yang dibayar rakyat Iran juga tak kecil—dari isolasi internasional hingga represi domestik.
Meninggalnya Ali Khamenei berpotensi menjadi titik balik terbesar Republik Islam Iran sejak 1979. Sosok “Simbol Perlawanan” itu telah tiada, tetapi pengaruhnya masih membekas dalam struktur negara, militer, dan arah politik Iran. Dunia kini menanti: apakah warisan perlawanan itu akan dilanjutkan, atau justru membuka babak baru bagi Iran dan Timur Tengah. (nsp)
Load more