Siapa Sih Mojtaba Khamenei? Putra Ali Khamenei yang Dikabarkan Terpilih Jadi Pemimpin Tertinggi Iran Baru
- X/@_GlobeObserver
Dalam hal ini, ia mendapat sebutan sebagai simbol represi elit penguasa. Meski wajahnya sering di balik layar, indikasinya mengarahkan namanya semakin dikenal luas khususnya oleh masyarakat Iran.
Kemudian, relasi dengan unit elite IRGC, seperti Pasukan Quds terbilang sangat kuat. Apalagi dalam urusan pengelolaan operasi luar negeri Iran.
Dalam diskusi strategis, Mojtaba diyakini memiliki keterlibatan menentukan kebijakan Iran di beberapa negara di kawasan Timur Tengah, seperti Irak, Suriah, Lebanon, Palestina hingga wilayah inti menjadi poros perlawanan.
Pewaris Tahta Potensi Jadi Kontroversi
Mojtaba pun kini digadang sebagai calon terkuat mengisi jabatan Pemimpin Tertinggi yang dipilih Majelis Ahli Iran.
Rencana ini potensi menimbulkan penolakan keras dari sebagian ulama maupun rakyat Iran terkait pewarisan kekuasaan dari ayah ke anaknya.
Gaya Mojtaba Dianggap Lebih Bahaya
Mojtaba selama ini jarang muncul ke ruang publik. Ia bahkan hampir tidak pernah bercuap-cuap dalam sesi pidato atau berbagai kegiatan forum resmi lainnya.
Berdasarkan informasi liar, Mojtaba dikabarkan ikut tewas dari 40 ajudan utama Ali Khamenei saat awal serangan AS-Israel ke Iran pada Sabtu lalu.
Namun begitu, Mojtaba dikabarkan masih hidup dan sehat setelah namanya disebut dalam suksesi kepemimpinan selanjutnya. Hal ini dapat melanjutkan harapan mendiang ayahnya melawan "Barat".
Kepada New York Times, pakar Iran dari Universitas Johns Hopkins, Vali Nasr menilai, jika Mojtaba terpilih melanjutkan tugas sang ayah, maka putra kedua Ali Khamenei itu akan memberikan kejutan besar.
"Itu menunjukkan rezim yang sekarang berkuasa adalah sayap Garda Revolusi yang jauh lebih garis keras," imbuh Vali Nasr.
Sementara, ahli lainnya berpendapat jika Mojtaba terpilih, keputusan Majelis Ahli dianggap telah bijaksana. Sebab, historisnya begitu dekat dengan jajaran senior IRGC menjadi keuntungannya.
"Sebagian masyarakat akan bereaksi negatif dan keras terhadap keputusan ini, dan akan ada reaksi balik," ucap analisis politik Iran, Mehdi Rahmati.
(hap)
Load more