News Bola Daerah Sulawesi Sumatera Jabar Banten Jateng DI Yogya Jatim Bali

Perundingan AS-Iran Ambruk di Islamabad: Tuntutan Berubah, Ego Kekuatan Besar Jadi Pemicu Utama

Perundingan AS-Iran di Islamabad gagal usai 21 jam. Perubahan tuntutan, ego geopolitik, hingga faktor Trump jadi penyebab utama kebuntuan.
Senin, 13 April 2026 - 19:33 WIB
Bendera Iran
Sumber :
  • Li Muzi-Xinhua

Jakarta, tvOnenews.com - Perundingan antara Amerika Serikat dan Iran kembali menemui jalan buntu. Setelah sebelumnya mediasi di Oman gagal, upaya diplomasi yang berlangsung selama 21 jam di Islamabad, Pakistan, pada Minggu (12/4/2026) juga berakhir tanpa kesepakatan.

Kegagalan ini bukan sekadar dinamika negosiasi biasa. Sejumlah analis menilai, ada faktor mendasar yang membuat kedua negara sulit menemukan titik temu—mulai dari perubahan tuntutan di tengah perundingan, perbedaan kepentingan strategis, hingga faktor kepemimpinan politik di Washington.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Tuntutan Berubah di Tengah Negosiasi

Salah satu penyebab utama gagalnya perundingan adalah perubahan tuntutan dari pihak Amerika Serikat di saat negosiasi hampir mencapai kesepakatan.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengungkapkan bahwa delegasi kedua negara sebenarnya sudah mendekati titik kompromi. Namun situasi berubah ketika muncul tuntutan baru yang dinilai lebih berat, disertai ancaman blokade Selat Hormuz.

Perubahan sikap ini membuat proses negosiasi kehilangan arah. Alih-alih mempersempit perbedaan, tuntutan baru justru memperlebar jarak posisi kedua pihak.

Tuntutan Maksimal AS Sulit Diterima Iran

Dalam perundingan tersebut, Amerika Serikat mengajukan sejumlah syarat keras yang sulit diterima Iran. Di antaranya:

  • Pelucutan total program pengayaan uranium

  • Penyerahan seluruh uranium yang telah diperkaya

  • Penghentian seluruh aktivitas nuklir lanjutan

  • Mengakhiri blokade Selat Hormuz

  • Menghentikan dukungan terhadap kelompok bersenjata di kawasan

Bagi Iran, tuntutan tersebut dinilai terlalu ekstrem dan menyentuh kedaulatan negara. Tidak adanya ruang kompromi membuat negosiasi berjalan stagnan.

Sebaliknya, Iran menginginkan penghentian konflik secara menyeluruh di kawasan, termasuk menghentikan serangan Israel di Lebanon dan Palestina—syarat yang tidak sepenuhnya dapat dikendalikan oleh Amerika Serikat.

Perbedaan Strategi: Cepat vs Bertahap

Perbedaan pendekatan juga menjadi faktor krusial. Amerika Serikat menginginkan kesepakatan cepat dengan hasil konkret, bahkan cenderung menekan Iran untuk segera menyetujui seluruh tuntutan.

Sementara itu, Iran memilih pendekatan bertahap dan tidak ingin terburu-buru dalam mengambil keputusan strategis.

Perbedaan ritme ini membuat proses negosiasi tidak sinkron. Ketika satu pihak mendorong percepatan, pihak lain justru menahan laju, sehingga kesepakatan sulit tercapai.

Faktor Donald Trump Jadi Penentu

Sejumlah pengamat menilai faktor Presiden AS Donald Trump berperan besar dalam kegagalan perundingan ini.

Trump disebut kerap mengubah posisi dan tuntutan secara mendadak, sehingga menimbulkan ketidakpastian dalam proses negosiasi. Bahkan, ancaman blokade Selat Hormuz yang muncul di tengah perundingan dinilai sebagai langkah sepihak yang memperkeruh situasi.

Selain itu, gaya negosiasi Trump yang cenderung menekan dan mengedepankan ultimatum membuat Iran semakin enggan untuk berkompromi.

Salah Persepsi Kedua Negara

Kegagalan perundingan juga dipicu oleh kesalahan asumsi dari kedua belah pihak.

Amerika Serikat menganggap Iran berada dalam posisi lemah dan dapat dipaksa menerima tuntutan. Sebaliknya, Iran merasa masih cukup kuat untuk bertahan, bahkan menilai AS tidak siap menghadapi dampak perang berkepanjangan.

Perbedaan persepsi ini menciptakan kebuntuan. Kedua pihak sama-sama merasa memiliki posisi tawar yang lebih kuat, sehingga enggan mengalah.

Pengaruh Konflik Regional dan Israel

Faktor eksternal juga turut memperumit perundingan. Iran menilai bahwa Amerika Serikat tidak mampu mengendalikan Israel, yang terus melancarkan serangan di kawasan, termasuk ke Lebanon dan Palestina.

Situasi ini membuat Iran ragu terhadap komitmen AS dalam menjaga stabilitas kawasan. Bahkan, kehadiran pejabat Iran di Islamabad disebut berisiko karena dapat dipantau oleh pihak Israel.

Ketidakpastian ini semakin memperkecil peluang tercapainya kesepakatan.

Blokade Selat Hormuz Perkeruh Situasi

Pasca kegagalan perundingan, ketegangan meningkat dengan langkah Amerika Serikat mengikuti Iran dalam memblokade Selat Hormuz.

Langkah ini dinilai bukan hanya sebagai respons militer, tetapi juga strategi untuk meningkatkan daya tawar dalam negosiasi. Namun di sisi lain, kebijakan ini justru berisiko memperluas konflik, termasuk potensi gesekan dengan China sebagai pembeli utama energi Iran.

Jika kapal-kapal China ikut terdampak, konflik berpotensi melebar menjadi krisis global yang lebih besar.

Tekanan Domestik dan Ekonomi AS

Di sisi internal, Amerika Serikat juga menghadapi keterbatasan. Presiden hanya memiliki waktu terbatas untuk mengerahkan militer tanpa persetujuan Kongres, sesuai aturan Resolusi Perang 1973.

Selain itu, tekanan ekonomi dan kekhawatiran publik terhadap kenaikan harga energi menjadi faktor yang membatasi ruang gerak Washington.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kondisi ini membuat strategi AS menjadi tidak konsisten—di satu sisi ingin menekan Iran, namun di sisi lain tidak siap menghadapi konsekuensi jangka panjang. 

Kegagalan perundingan di Islamabad menunjukkan bahwa konflik AS-Iran tidak hanya soal diplomasi, tetapi juga benturan kepentingan, strategi, dan persepsi. Selama faktor-faktor ini belum terselesaikan, peluang kesepakatan damai akan tetap sulit terwujud. (nsp)

Berita Terkait

Komentar

Topik Terkait

Saksikan Juga

Jangan Lewatkan

Di Era Bupati Jeje, Jalan yang Bertahun-tahun Rusak di Bandung Barat Kini Mulus

Di Era Bupati Jeje, Jalan yang Bertahun-tahun Rusak di Bandung Barat Kini Mulus

Pemerintah Kabupaten Bandung Barat telah merampungkan perbaikan 26 dari 34 ruas jalan yang menjadi target penanganan sepanjang 2026. Artinya, sekitar 76 persen
PSMS Medan Tak Gentar Hadapi Persija Jakarta di League Cup 2026, Ayam Kinantan Siap Beri Kejutan

PSMS Medan Tak Gentar Hadapi Persija Jakarta di League Cup 2026, Ayam Kinantan Siap Beri Kejutan

Pelatih PSMS Medan, Eko Purdjianto, menegaskan bahwa skuadnya tidak gentar menghadapi Persija Jakarta dalam pertandingan pembuka League Cup 2026/2027.
Tembus Pasar Internasional, UMKM Pertamina Unjuk Gigi di Kancah Global

Tembus Pasar Internasional, UMKM Pertamina Unjuk Gigi di Kancah Global

Lima UMKM binaan PT Pertamina (Persero) berhasil memanfaatkan forum internasional 51st ASEAN Council on Petroleum (ASCOPE) 2026 di Bali, 16–28 Oktober lalu, untuk memperluas jangkauan pasar. 
Miris! 7 Fakta Kasus Pembunuhan Bayi 20 Bulan di Kebayoran Lama, Tersangka Sempat Tutupi Lokasi Jasad

Miris! 7 Fakta Kasus Pembunuhan Bayi 20 Bulan di Kebayoran Lama, Tersangka Sempat Tutupi Lokasi Jasad

Kasus pembunuhan bayi perempuan berusia 20 bulan di kawasan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, viral di media sosial. Berikut 7 fakta soal kasus tersebut.
Peran Keji Pasangan AR dan J Habisi Nyawa Balitanya di Jaksel: Satu Lakukan Kekerasan, Ibu Kandung Rela Tutupi Jejak

Peran Keji Pasangan AR dan J Habisi Nyawa Balitanya di Jaksel: Satu Lakukan Kekerasan, Ibu Kandung Rela Tutupi Jejak

Kasus tragis menimpa balita perempuan yang meregang nyawa akibat tindak kekerasan. Polres Metro Jakarta Selatan bersama Polsek Kebayoran Lama menetapkan dua tersangka, yakni pria AR dan wanita J, yang merupakan ibu kandung korban.
Bisa Jadi Penerus Ole Romeny di Timnas Indonesia, Top Skor Klub Belanda Keturunan Bandung Ini Layak Dilirik Jadi Mesin Gol Garuda

Bisa Jadi Penerus Ole Romeny di Timnas Indonesia, Top Skor Klub Belanda Keturunan Bandung Ini Layak Dilirik Jadi Mesin Gol Garuda

Timnas Indonesia berpotensi memiliki opsi baru di lini depan. Nama Siegert Baartmans layak dilirik berkat produktivitasnya bersama FC Eindhoven di Liga Belanda.

Trending

Viral Video Herri Pras Digeruduk Kelompok Bela Diri Usai Tantang 'Fight Sampai Mati'

Viral Video Herri Pras Digeruduk Kelompok Bela Diri Usai Tantang 'Fight Sampai Mati'

YouTuber Herri Pras digeruduk dan ditendang oleh sekelompok orang dari komunitas bela diri di kediamannya usai menyebarkan konten viral tantangan bertarung.
Profil Prof. Endang Warsiki yang Meninggal Dunia, Guru Besar IPB University dengan Segudang Prestasi

Profil Prof. Endang Warsiki yang Meninggal Dunia, Guru Besar IPB University dengan Segudang Prestasi

Prof. Endang Warsiki, Guru Besar IPB University, meninggal dunia pada 2 November 2026. Simak profil, pendidikan, perjalanan hidup, dan kontribusinya di bidang agroindustri.
Kronologi Pembunuhan Anak Usia 20 Bulan di Toilet Stasiun Kebayoran Lama: Pelaku Kesal hingga Dicelupkan ke Bak Air

Kronologi Pembunuhan Anak Usia 20 Bulan di Toilet Stasiun Kebayoran Lama: Pelaku Kesal hingga Dicelupkan ke Bak Air

Menurut pelaku AR (22), ia membunuh SF dengan cara mencelupkan kepala korban ke bak air di toilet dekat Stasiun Kebayoran Lama dan kakinya diangkat ke atas.
Hasil Pemain Timnas Indonesia di Mancanegara: Joey Pelupessy Bawakan Kabar Bahagia

Hasil Pemain Timnas Indonesia di Mancanegara: Joey Pelupessy Bawakan Kabar Bahagia

Gelandang Timnas Indonesia, Joey Pelupessy, membawakan kabar gembira menjelang FIFA Matchday November 2026. Sang gelandang berhasil membantu klubnya meraih kemenangan.
Sopir Truk Molen Diamankan Polisi, Usai 6 Warga Tewas dalam Kecelakaan Maut di Bekasi

Sopir Truk Molen Diamankan Polisi, Usai 6 Warga Tewas dalam Kecelakaan Maut di Bekasi

Dari total 12 korban, enam orang mengalami luka-luka dan enam lainnya meninggal dunia dalam kecelakaan yang terjadi di area halte Jalan Cut Mutia, Kota Bekasi.
Siapa Fatih Waluyo Wahid? Ini Profil Keponakan Gus Dur dan Mantan Direktur BPJS Kesehatan yang Meninggal Dunia

Siapa Fatih Waluyo Wahid? Ini Profil Keponakan Gus Dur dan Mantan Direktur BPJS Kesehatan yang Meninggal Dunia

Mengenang sosok Fatih Waluyo Wahid alias Gus Firry, keponakan Gus Dur yang pernah menjabat Direktur BPJS Kesehatan. Simak pendidikan dan perjalanan kariernya.
DPR Usul Pembentukan TGPF Soal Penggeledahan Ponpes Perempuan di Sukoharjo

DPR Usul Pembentukan TGPF Soal Penggeledahan Ponpes Perempuan di Sukoharjo

TGPF independen tersebut perlu melibatkan sejumlah lembaga, di antaranya Komnas HAM, KPAI, Ombudsman, Kompolnas, serta para ahli yang memiliki kompetensi..
Selengkapnya

Viral