Kenapa Donald Trump Mau Tandatangani Kesepakatan Damai AS-Iran? Pengamat: Buat Dongkrak Popularitas
- REUTERS/Kylie Cooper
Jakarta, tvOnenews.com - Pengamat Timur Tengah, Faisal Assegaf menyoroti kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Penandatanganan nota kesepahaman langsung dilakukan oleh Presiden AS, Donald Trump dan Presiden Iran, Masoud Pezeshkian.
Berdasarkan laporan pada Kamis, 18 Juni 2026, tujuan Donald Trump dan Masoud Pezeshkian menandatangani dokumen perjanjian untuk menghentikan perang antara AS dan Iran.
Sementara, Donald Trump menandatangani kesepakatan awal tersebut di Istana Versailles, Prancis. Saat itu Presiden AS sedang makan malam dengan Presiden Prancis pasca pertemuan KTT G7 pada Rabu (17/6/2026) malam.
Faisal menilai kesepakatan tersebut menuai reaksi positif dari dunia. Penandatanganan damai AS dan Iran meski secara virtual pada Kamis dini hari sangat mempengaruhi penurunan harga minyak.
"Trump selalu mengatakan sebagai juru damai. Jadi, dengan sudah ada kabar ini saja itu harga minyak langsung turun dan bursa pun naik termasuk di Indonesia," ujar Faisal dalam program Pagi-Pagi Seru tvOne, Kamis (18/6/2026).
Dampak Penurunan Harga Minyak Dunia dari Hasil Damai AS-Iran untuk Donald Trump
- dok.humas Prabowo
Lebih lanjut, Faisal melihat dampak dari harga minyak yang semakin menyusut berkat penandatanganan dokumen perjanjian tersebut. Hal ini mempengaruhi citra Donald Trump.
Pengamat Timur Tengah itu kembali menyinggung bahwa AS sebentar lagi akan menyelenggarakan pemilihan umum sela (midterm elections) yang digelar pada Selasa, 3 November 2026.
Selama pemilu ini, ratusan anggota DPR dan sepertiga kursi Senat akan diperebutkan. Selain itu, kegiatan ini juga bersamaan dengan 39 pemilihan gubernur negara bagian.
Atas hasil kesepakatan damai itu, tentu harga minyak di AS juga ikut turun. Menurut Faisal, pengaruh dari penurunan aspek ini sangat dirasakan oleh Trump.
"Kalau perang masih berlangsung, itu tingkat kepuasan masyarakat terhadap pemerintahan Trump itu anjlok di bawah 30 persen atau 20 persen," terangnya.
Ia melihat kesepakatan ini sangat dibutuhkan oleh Trump. Tujuannya tentu tidak lain menjaga popularitas namanya, baik sebagai Presiden AS maupun juru damai dunia.
"Dan juga menjaga nyawa dari Partai Republik agar bisa bertarung dan menang dalam pemilihan sela melawan Partai Demokrat AS seperti itu," katanya.
Isi Perjanjian AS-Iran
- Antara
Faisal membahas isi perjanjian kesepakatan damai kedua negara. Ia mengambil dari sisi sejumlah tuntutan maksimum yang dilayangkan Iran.
Poin yang menarik perhatian terkait biaya rekonstruksi perbaikan kerusakan akibat perang dan sebagainya. Kemudian, ia juga menyoroti tuntutan menghentikan perang di semua lini.
Menurutnya, tuntutan tersebut bukan hanya sekadar desakan. Iran dianggap sedang menguji AS apakah patuh atau melanggar ddari hasil kesepakatan tersebut.
"Iran ingin menguji kejujuran Amerika. Jadi, kalau mau serius jujur, mau berdamai, ya tuntut penuhi semua tuntutan saya, itu pertama," tuturnya.
Selain itu, kata dia, tuntutan tersebut memiliki makna yang mendalam. Ia berpendapat sejumlah poin yang dilayangkan bukti Iran sebagai contoh untuk dunia.
"Iran itu sekarang menjadi contoh bagaimana sebuah negara merdeka dan berdaulat tidak boleh tunduk dari kesewenang-wenangan dari negara yang kuat," bebernya.
Di sisi lain, Faisal mengatakan Iran sebagai korban kesewenangan AS dan Israel. Tuntutan maksimum tersebut juga bukti ingin mengambil hak mereka.
Tak ayal, Faisal membeberkan, hak Iran sudah dirampas saat berlangsungnya agresi militer. Bahkan Iran juga telah mengalami sanksi sejak tahun 90-an.
"Yang kedua, mereka minta sanksi dicabut karena mereka sudah dikenai sanksi dari tahun 1979, baik sanksi ekonomi dan militer," jelasnya.
Terlepas dari itu, Faisal menilai kesepakatan ini membuktikan pamor AS semakin merosot untuk dicap sebagai negara adidaya.
(hap)
Load more