Menelisik Keinginan Benjamin Netanyahu Bersikeras Ciptakan Israel Raya, Dampaknya bakal Banyak Konflik?
- Reuters/Clodagh Kilcoyne
Ia menyebut keputusan kedua pemimpin negara menimbulkan dua petunjuk. Pertama, hal ini berkaitan dengan keinginan Netanyahu membentuk Israel Raya.
Keputusan tersebut, menurut dia, tentu menghambat tujuan dan ide dari Netanyahu. Hal tersebut mendorong ia menelaah visi mewujudkan Greater Israel sejak awal.
"Artinya apa? Misal Gaza, kemudian Lebanon, Suriah itu akan coba dibikin perwujudan Israel Raya. Artinya akan banyak konflik di situ," jelasnya.
Alih-alih satu tujuan dengan Netanyahu, ia melihat ada perbedaan misi dari Donald Trump. Presiden AS tersebut dikenal sosok pebisnis sehingga berkeinginan agar Timur Tengah lebih damai.
"Kalau terjadi damai, maka akan banyak tower-tower Trump yang berdiri. Itulah ide yang dia sampaikan," terangnya.
Ia mencontohkan hubungan antara kedua pemimpin negara tersebut dengan negara-negara yang mencakup wilayah sasaran Greater Israel, mulai dari Suriah, Turki hingga Lebanon.
"Misalkan di Suriah, Trump sangat percaya dengan pemimpin yang baru (Ahmed al-Sharaa). Padahal Netanyahu justru bertolak belakang. Dengan Turki, Trump itu sangat kuat kerja sama dengan Erdogan, padahal Netanyahu inginnya justru hati-hati. Dengan Lebanon, ini mengarah yang sama," tuturnya.
"Ini Trump menginginkan adanya perdamaian sehingga nanti bisa ada lembaran baru. Ini tentu ada sentuhan atau imajinasi yang berbeda di antara Trump dengan Netanyahu," sambungnya.
Ia menyimpulkan dua pandangan berbeda ini. Konsep "New Middle East" atau Timur Tengah baru versi Netanyahu dinilai membuat negara-negara Arab tidak berdaya, sementara versi Trump menciptakan wilayah lebih damai.
(hap)
Load more