Menelisik Keinginan Benjamin Netanyahu Bersikeras Ciptakan Israel Raya, Dampaknya bakal Banyak Konflik?
- Reuters/Clodagh Kilcoyne
Jakarta, tvOnenews.com - Keinginan menciptakan Israel Raya kerap kali menghebohkan publik. Visi ini menggema sejak Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu berkomitmen mewujudkan tujuannya.
Dilansir dari Middle East Eye & Time of Israel, Benjamin Netanyahu menyampaikan pernyataan visi Israel Raya atau "Greater Israel" dalam sebuah wawancara.
Rencana pembentukan Israel Raya meliputi pencaplokan sejumlah negara Arab didominasi Muslim. Wilayah yang menjadi target, antara lain seluruh wilayah Palestina, Yordania, sebagian besar Lebanon dan Suriah (termasuk Damaskus), sebagian Arab Saudi, Mesir, Irak, Kuwait, hingga Turki bagian selatan.
Merujuk Al Jazeera, konsep Israel Raya telah terjadi sejak zaman dahulu. Klaim ini didasari pada sebuah ayat Alkitab. Dasaran definisi lain mengacu pada ayat-ayat Alkitab yang berbeda menetapkan tanah Israel akan dijanjikan kepada suku-suku Israel dari keturunan Ishak.
Konsep yang dikaitkan dengan penafsiran kitab suci dan wacana politis ini kembali menggema hingga didukung sejumlah kelompok dan Zionis. Di balik itu, visi ini juga menimbulkan kegaduhan.
Sayangnya upaya tersebut kini disebut terhambat. Hal ini menjadi pembahasan menarik bagi analis Timur Tengah, Hasibullah Satrawi menelaah keputusan perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
"Saya rasa ini memang bagian daripada fakta baru yang tidak kalah menarik," ujar Hasibullah melalui saluran program Apa Kabar Indonesia tvOne dikutip, Kamis (25/6/2026).
Ia coba menganalisis pola hubungan antara AS dan Israel. Gebrakan dari keputusan Presiden Donald Trump memanuver hubungan dengan Iran patut ditelaah lebih dalam.
Proses tanda tangan nota kesepamahan (MoU) perdamaian antara Iran dan AS telah berlangsung pada beberapa waktu lalu. Hal tersebut dilakukan secara virtual dan jarak jauh.
Hasibullah mengatakan, berdasarkan pendapat dari negara-negara Timur Tengah dan Barat, mereka memotret langkah ini sebagai bentuk percobaan awal perdamaian kedua negara.
Keputusan itu berpotensi adanya perbedaan yang substantif dan lebih strategis, terutama mengenai desain Timur Tengah yang baru (New Middle East).
"Saya melihat ini bukan hanya soal gengsi, perbedaan di awal. Saya melihat justru ini bisa mengarah pada persoalan yang lebih strategis," katanya.
Ia menyebut keputusan kedua pemimpin negara menimbulkan dua petunjuk. Pertama, hal ini berkaitan dengan keinginan Netanyahu membentuk Israel Raya.
Keputusan tersebut, menurut dia, tentu menghambat tujuan dan ide dari Netanyahu. Hal tersebut mendorong ia menelaah visi mewujudkan Greater Israel sejak awal.
"Artinya apa? Misal Gaza, kemudian Lebanon, Suriah itu akan coba dibikin perwujudan Israel Raya. Artinya akan banyak konflik di situ," jelasnya.
Alih-alih satu tujuan dengan Netanyahu, ia melihat ada perbedaan misi dari Donald Trump. Presiden AS tersebut dikenal sosok pebisnis sehingga berkeinginan agar Timur Tengah lebih damai.
"Kalau terjadi damai, maka akan banyak tower-tower Trump yang berdiri. Itulah ide yang dia sampaikan," terangnya.
Ia mencontohkan hubungan antara kedua pemimpin negara tersebut dengan negara-negara yang mencakup wilayah sasaran Greater Israel, mulai dari Suriah, Turki hingga Lebanon.
"Misalkan di Suriah, Trump sangat percaya dengan pemimpin yang baru (Ahmed al-Sharaa). Padahal Netanyahu justru bertolak belakang. Dengan Turki, Trump itu sangat kuat kerja sama dengan Erdogan, padahal Netanyahu inginnya justru hati-hati. Dengan Lebanon, ini mengarah yang sama," tuturnya.
"Ini Trump menginginkan adanya perdamaian sehingga nanti bisa ada lembaran baru. Ini tentu ada sentuhan atau imajinasi yang berbeda di antara Trump dengan Netanyahu," sambungnya.
Ia menyimpulkan dua pandangan berbeda ini. Konsep "New Middle East" atau Timur Tengah baru versi Netanyahu dinilai membuat negara-negara Arab tidak berdaya, sementara versi Trump menciptakan wilayah lebih damai.
(hap)
Load more