IAEA Temukan Beberapa Ton Material Nuklir di Suriah, Damaskus Buka Akses Pemeriksaan
- Antara
Damaskus, tvOnenews.com - Badan Energi Atom Internasional (IAEA) mengungkap temuan beberapa ton material nuklir di sejumlah lokasi di wilayah Suriah. Temuan tersebut disampaikan di tengah langkah pemerintah baru Suriah yang menyatakan komitmen untuk bekerja sama dengan badan pengawas nuklir Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Salah satu lokasi tempat material nuklir ditemukan sebelumnya telah dilaporkan oleh pemerintah baru Suriah kepada IAEA pada bulan lalu. Temuan tersebut kemudian menjadi bagian dari pemeriksaan yang dilakukan para inspektur IAEA di sejumlah lokasi di negara tersebut.
Direktur Jenderal IAEA Rafael Mariano Grossi mengatakan kerja sama dari pemerintah Suriah sangat penting untuk mengungkap keberadaan serta kondisi material nuklir yang ditemukan.
IAEA Temukan Material Nuklir di Sejumlah Lokasi
Grossi mengatakan para pemeriksa IAEA telah mendatangi sejumlah lokasi di Suriah, termasuk kawasan Deir al-Zor yang selama bertahun-tahun menjadi perhatian badan pengawas nuklir internasional tersebut.
"Saya dan tim saya telah berada di lokasi Deir al-Zor, tempat dilakukannya pekerjaan penggalian dan eksplorasi yang sangat menyeluruh saat ini," ujar Grossi dalam konferensi pers di Damaskus, seperti dilansir Al Arabiya, Rabu (19/8/2026).
Menurut Grossi, selain lokasi di Deir al-Zor, IAEA juga menemukan satu lokasi lain yang menyimpan material nuklir. Namun, dia tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai lokasi maupun jenis material yang ditemukan tersebut.
Grossi mengungkapkan bahwa material nuklir yang ditemukan jumlahnya mencapai beberapa ton. Material tersebut dinilai berpotensi disalahgunakan sehingga perlu didata dan ditempatkan dalam sistem pengamanan internasional.
"Kita berbicara tentang beberapa ton material nuklir yang bisa disalahgunakan, dan Suriah telah memutuskan untuk membuka lokasi ini bagi para pemeriksa IAEA. Keberadaan material ini akan didata dan dimasukkan ke dalam sistem pengamanan internasional," kata Grossi.
Pemerintah Baru Suriah Buka Akses untuk IAEA
Temuan tersebut terjadi setelah pemerintahan baru Suriah menyatakan komitmennya untuk bekerja sama sepenuhnya dengan IAEA.
Di bawah kepemimpinan Presiden Ahmed al-Sharaa, pemerintah Suriah memberikan akses kepada para pemeriksa IAEA untuk mendatangi lokasi-lokasi yang dicurigai memiliki kaitan dengan aktivitas nuklir.
Langkah tersebut berbeda dengan situasi pada masa pemerintahan mantan Presiden Bashar al-Assad. Saat itu, Suriah memang mengizinkan pemeriksa IAEA mengunjungi sejumlah lokasi, tetapi negara tersebut diyakini menjalankan program nuklir yang tidak dideklarasikan secara resmi.
Para diplomat senior Suriah juga menyatakan Damaskus masih memiliki minat untuk mengembangkan program nuklir bagi tujuan damai.
Pemerintah baru Suriah disebut berniat menempatkan seluruh material nuklir yang berada dalam penguasaannya di bawah pengamanan internasional.
Grossi menilai keputusan pemerintah Suriah untuk memberikan akses kepada pemeriksa IAEA memiliki arti penting dalam proses pengawasan material dan aktivitas nuklir di negara tersebut.
Dugaan Reaktor Nuklir di Deir al-Zor
Deir al-Zor menjadi salah satu lokasi yang telah lama menjadi perhatian IAEA. Di bawah pemerintahan Assad, Suriah diyakini pernah menjalankan program nuklir ekstensif yang tidak dilaporkan secara resmi kepada badan pengawas PBB.
Salah satu dugaan aktivitas tersebut berkaitan dengan pembangunan fasilitas yang disebut sebagai reaktor nuklir di wilayah Deir al-Zor. Fasilitas itu diduga dibangun dengan bantuan Korea Utara.
Keberadaan lokasi tersebut baru diketahui publik setelah Israel melancarkan serangkaian serangan udara pada 2007 yang menghancurkan fasilitas tersebut.
Setelah serangan itu, rezim Assad yang saat itu berkuasa kemudian meratakan lokasi tersebut. Pemerintah Suriah tidak pernah memberikan tanggapan menyeluruh terhadap pertanyaan IAEA mengenai fasilitas tersebut.
IAEA Temukan Jejak Uranium pada 2025
Pemeriksaan terkait aktivitas nuklir Suriah kembali berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2024, sebelum pemerintahan Assad digulingkan pada Desember tahun tersebut, pemeriksa IAEA mengambil sampel dari tiga lokasi di Suriah.
Hasil pemeriksaan kemudian menemukan adanya perkembangan penting. Pada 2025, IAEA menyatakan telah menemukan jejak uranium di salah satu lokasi yang sebelumnya menjadi tempat pengambilan sampel.
Temuan tersebut menjadi bagian dari upaya IAEA untuk memperoleh gambaran lebih lengkap mengenai aktivitas nuklir Suriah pada masa lalu.
Kini, di bawah pemerintahan baru Ahmed al-Sharaa, Damaskus menyatakan kesediaannya untuk bekerja sama dengan IAEA dan memberikan akses kepada para pemeriksa.
Pemerintah baru Suriah juga menyatakan keinginan untuk mengembangkan energi nuklir untuk tujuan damai. Di sisi lain, keberadaan beberapa ton material nuklir yang ditemukan IAEA membuat pengawasan internasional menjadi bagian penting dalam memastikan material tersebut tercatat dan berada dalam sistem pengamanan.
Load more