Dosen Ungkap Kesalahan Mahasiswa saat Berkomunikasi dengan Pembimbing Skripsi
- Istimewa
Jakarta, tvOnenews.com - Komunikasi antara mahasiswa dan dosen pembimbing menjadi salah satu faktor penting dalam proses penyusunan skripsi. Mahasiswa yang menunda bimbingan karena khawatir mendapat revisi justru berisiko mengalami hambatan dalam menyelesaikan penelitian.
Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Jember, Randi Pratama Murtikusuma, S.Pd., M.Pd., mengatakan mahasiswa tidak harus menunggu naskah skripsi selesai atau sempurna sebelum melakukan bimbingan.
Menurutnya, bimbingan merupakan bagian dari proses akademik yang dapat digunakan mahasiswa untuk menyampaikan perkembangan penelitian, mengidentifikasi kendala, serta memperoleh arahan dari dosen pembimbing.
“Mahasiswa sebaiknya melihat bimbingan sebagai proses diskusi. Artinya kalau ada kendala, justru itu yang perlu disampaikan supaya dosen bisa memberi arahan sejak awal,” ujar Randi dalam keterangannya, Senin (28/9/2026).
Randi menyebut rasa takut menghubungi dosen atau kekhawatiran dianggap mengganggu menjadi salah satu persoalan yang dapat menghambat komunikasi selama penyusunan skripsi.
Menurut dia, mahasiswa perlu menyampaikan informasi secara jelas ketika menghubungi dosen, termasuk menjelaskan perkembangan penelitian dan bagian yang ingin dikonsultasikan.
Komunikasi yang terarah, kata Randi, dapat membuat waktu bimbingan lebih efektif karena dosen sudah mengetahui persoalan yang hendak dibahas.
“Pesan kepada dosen sebaiknya menunjukkan bahwa mahasiswa sudah berinisiatif mencari jalan keluar sebelum berkonsultasi. Sampaikan dulu bagian yang sudah dikerjakan, baru kemudian kendala yang masih dihadapi supaya waktu bimbingan lebih efektif,” jelasnya.
Selain komunikasi, mahasiswa tetap perlu mempersiapkan aspek akademik sebelum menjalani bimbingan. Randi menilai pemahaman terhadap teori, metodologi penelitian, dan referensi yang digunakan akan membantu mahasiswa mengikuti pembahasan serta memahami alasan di balik revisi yang diberikan.
Ia juga menilai kendala dalam penyusunan skripsi tidak selalu disebabkan oleh lemahnya kemampuan akademik mahasiswa. Sebagian mahasiswa, menurutnya, telah memiliki gagasan penelitian, tetapi masih kesulitan menentukan arah penelitian atau menyampaikan persoalan yang dihadapi kepada pembimbing.
Dalam kondisi tersebut, komunikasi dengan dosen dapat menjadi bagian dari proses pembelajaran. Mahasiswa tidak hanya memperoleh arahan teknis, tetapi juga belajar mengidentifikasi persoalan penelitian dan menentukan langkah yang perlu dilakukan.
“Mahasiswa sebaiknya terbuka soal perkembangan penelitiannya, lebih-lebih lagi kalau sedang mentok. Dari komunikasi yang terbuka seperti itu, mahasiswa bisa belajar memahami masalah penelitian dan juga mengambil keputusan dengan lebih mantap,” tutur Randi.
Randi menambahkan, kebutuhan komunikasi antara mahasiswa dan pembimbing semakin relevan di tengah kemudahan akses informasi melalui internet dan kecerdasan buatan (AI).
Kemudahan tersebut memungkinkan mahasiswa memperoleh berbagai referensi dengan cepat. Namun, mahasiswa tetap dituntut mampu menilai informasi, memahami sumber yang digunakan, serta mempertanggungjawabkan isi penelitian secara akademik.
Karena itu, proses bimbingan tidak hanya berfungsi untuk memperbaiki naskah skripsi, tetapi juga membantu mahasiswa mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan bertanggung jawab terhadap arah penelitiannya.
Load more