Demo Biaya Hidup Mencekam dan Rusuh di Paris, Apakah Ada WNI yang Terlibat?
- Reuters/Abdul Saboor
Jakarta, tvOnenews.com - Aksi demonstrasi yang berlangsung di Paris dan sejumlah kota di Prancis berujung ricuh. Di tengah situasi yang memanas, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI mengungkapkan laporan terkini terkait keterlibatan Warga Negara Indonesia (WNI).
Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia (PWNI) Kemlu RI, Heni Hamidah memastikan belum ada WNI yang teridentifikasi terlibat dalam aksi demo di Paris dan sejumlah kota di Prancis.
Heni mengatakan, informasi tersebut berdasarkan pemantauan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Paris hingga Minggu, 18 Oktober 2026.
"Dari catatan KBRI Paris, sejauh ini tidak terdapat WNI yang terlibat dalam demonstrasi," ujar Heni, Minggu (18/10/2026).
Ia menjelaskan, Kemlu bersama KBRI Paris terus mengikuti perkembangan situasi keamanan untuk memastikan kondisi WNI tetap terpantau di Paris maupun kota-kota di Prancis.
Lanjut Heni, demonstrasi tersebut dilaporkan turut mengganggu sejumlah kegiatan masyarakat, mulai dari aktivitas sekolah hingga layanan transportasi umum. Arus lalu lintas di beberapa lokasi juga mengalami kemacetan.
KBRI Paris pun mengingatkan seluruh WNI di wilayah kerjanya agar meningkatkan kewaspadaan dan mengikuti informasi resmi dari otoritas setempat.
"KBRI Paris telah menyampaikan imbauan agar senantiasa berhati-hati dan mencermati perkembangan situasi keamanan, memantau informasi resmi dari otoritas setempat, menghindari kerumunan, serta menyesuaikan rencana perjalanan sekiranya menemui penutupan jalan dan/atau pengalihan rute," tuturnya.
KBRI Paris akan terus memantau kondisi pascademonstrasi sekaligus menjaga komunikasi dengan para WNI. Apabila menghadapi keadaan darurat, masyarakat Indonesia di wilayah akreditasi dapat menghubungi layanan Hotline KBRI Paris di nomor +33-6-2112-2109.
Diketahui, aksi demo yang terjadi di Ibu Kota Prancis dan sejumlah kota lainnya berada dalam situasi mencekam pada Sabtu, 17 Oktober 2026.
Aksi penjarahan hingga pelemparan terhadap aparat tidak terelakkan lagi. Peristiwa demonstrasi tersebut berawal dari aksi mahasiswa dalam beberapa pekan terakhir akibat tuntutan tingginya biaya hidup hingga daya beli menurun drastis.
Situasi ini semakin mencekam akibat kenaikan harga bahan bakar semenjak konflik di Timur Tengah antara Iran dan Amerika Serikat (AS) memanas.
Berdasarkan dari laporan resmi Kementerian Dalam Negeri Prancis, sekitar 550.000 orang melakukan aksi demonstrasi di Paris dan sejumlah kota di Prancis.
Sementara itu, kericuhan dalam demonstrasi tersebut dilaporkan menyebabkan sekitar 1.200 orang ditangkap dan 150 anggota kepolisian mengalami luka-luka.
Perdana Menteri Prancis, Sebastien Lecornu mengecam tingkat kekerasan yang disebutnya memiliki "intensitas ekstrem". Saat mengunjungi petugas yang bertugas di pusat kota Paris setelah bentrokan dan penjarahan, ia mengungkapkan keprihatinannya atas dampak kerusuhan tersebut.
"Sebuah keajaiban jumlah korban tidak lebih tinggi dari ini," ujar Lecornu dikutip tvOnenews.com dari AFP.
(hap)
Load more