Pendidikan Berkualitas Tanpa Kekerasan Melalui Permendikbudristek PPKSP
- Istimewa
Pertama, komunikasi rutin dengan anak 10–15 menit sehari tentang hal-hal yang menciptakan percakapan yang hangat, sehingga anak akan mengatakan sendiri tentang hal-hal yang harus kita tahu. Kedua, mengevaluasi dan memperbaiki pengasuhan anak, jangan sampai terdapat pola asuh yang menggunakan kekerasan. Ketiga, mengevaluasi dan memperbaiki apa yang dilihat anak.
“Jangan sampai anak menyaksikan apa yang tidak seharusnya dilihat,” tegasnya.
Lalu keempat, mengajarkan dan mencontohkan cara menghadapi konflik yang baik kepada anak, dan yang kelima adalah asah empati. Retno pun memberikan kiat untuk guru dan orang tua saat menghadapi kesalahan anak.
Ia menuturkan, ketika terjadi kesalahan oleh anak, guru atau orang tua jangan menanggapinya dengan hukuman yang berpotensi kekerasan, namun harus melihat lebih dalam dan penting untuk menerapkan disiplin positif.
“Kita harus bersama-sama memutus mata rantai kekerasan dengan cara menciptakan lingkungan keluarga dan lingkungan sekolah yang bebas dari kekerasan,” ujarnya. Vera pun dengan tegas menyatakan pentingnya kenyamanan dan keamanan peserta didik.
“Sekolah adalah rumah kedua bagi anak kita, maka sekolah harus menjadi tempat yang aman,” ucapnya.
Sebagai pernyataan penutup di akhir webinar, Praptono kemudian menegaskan peran berbagai pihak dalam penerapan kebijakan ini. Ia mengatakan, pencegahan dan penanganan kekerasan tidak cukup menjadi isu satu pihak. Semua pihak, yakni satuan pendidikan, pengawas/penilik, pemerintah daerah, serta lembaga-lembaga yang terkait lainnya harus berkolaborasi.
“Sudah saatnya kita memfokuskan perhatian kepada peserta didik. Mari kita ciptakan lingkungan yang membahagiakan dan menyenangkan bagi anak-anak sehingga mereka bisa belajar dan mengembangkan potensi mereka secara maksimal yang kemudian dapat mereka jadikan sebagai kekuatan yang menjadi modal untuk masa depannya,” pungkasnya. (adv)
Load more