Terang Benderang, Analisis Tajam Reza Indragiri Soal Kematian Afif Maulana yang Disebut Kapolda Sumbar karena Terjun ke Sungai
- Kolase Tim tvOnenews
"Kombinasi ketiga hal tersebut mendorong bekerjanya sistem berpikir 1, bukan sistem berpikir 2. Sistem berpikir 1 berlangsung secara sangat cepat. Data di-bypass sangat ekstrim, sehingga proses berpikir laksana garis lurus tanpa percabangan. Tidak ada opsi keputusan yang bersifat majemuk," ujar Reza.
Menurut Reza, Afif yang masih remaja hanya memiliki opsi tunggal dalam situasi kritis tersebut, yakni menyamakan diri dengan keputusan atau perilaku orang-orang lain.
"Sehingga, hitung-hitungan di atas kertas, kalau teman-temannya lari, maka Afif juga akan lari. Kalau teman-temannya melawan, Afif juga akan melawan, dan sejenisnya," ujar Reza.
"Andai dibayangkan bahwa ketika teman-temannya menyerah kepada polisi, Afif justru menjadi satu-satunya orang yang melompat dari jembatan, perilaku Afif sedemikian rupa bertolak belakang dengan rumusan tadi," sambung Afif.
Reza mengatakan bahwa kemungkinan Afif melompat dari atas jembatan itu selalu ada. Namun, menurut Reza, dalam situasi genting tersebut, Afif bakal memutuskan untuk melakukan apa yang dilakukan teman-temannya.
"Landasan berpikir saya condong mengarah ke probabilitas yang lebih besar bahwa dalam situasi genting pada saat dikejar polisi, Afif akan membuat keputusan untuk juga melakukan apa yang dilakukan oleh teman-temannya," ujar Reza. (dpi)
Load more