Pilkada Ulang Papua, Matius Fakhiri dan Aryoko Rumaropen Punya Momentum Kemenangan.
- Antara
Jakarta, tvOnenews.com - Keputusan Mahkamah Konstitusi yang mendiskualifikasi pasangan Benhur Tomi Mano-Yeremias Bisai telah mengubah peta persaingan Pilgub Papua. LSI Denny JA melihat potensi kemenangan Matius Fakhiri dan Aryoko Alberto Ferdinand Rumaropen pascakeputusan MK tersebut.
"Keputusan MK memang menciptakan dinamika baru yang signifikan. Dengan tersingkirnya pasangan Benhur-Yeremias, Matius Fakhiri dan Aryoko Alberto Ferdinand mendapatkan momentum yang cukup kuat. Kami melihat setidaknya tiga momentum kunci yang dapat mendorong kemenangan mereka," jelas Direktur LSI Denny JA Adjie Alfaraby, Jumat (7/3/2025).
Adjie menjabarkan momentum tersebut, pertama, ada momentum perubahan dan apatisme terhadap politik kotor. Kasus pemalsuan identitas yang dilakukan Benhur-Yeremias telah memicu gelombang ketidakpercayaan publik terhadap praktik politik yang tidak jujur. Teori political trust, yang menekankan pentingnya integritas pemimpin dalam membangun kepercayaan publik, sangat relevan di sini. Ketidakjujuran yang terungkap dapat memicu apatisme politik, namun juga mendorong pemilih untuk mencari alternatif yang lebih bersih.Â
Faktor kedua adalah momentum konsolidasi elite nasional. Dukungan dari Koalisi Indonesia Maju, yang terbukti sukses dalam beberapa Pilkada sebelumnya, memberikan keuntungan signifikan bagi Matius-Aryoko. Teori coalition theory menjelaskan bagaimana koalisi yang solid dapat meningkatkan peluang kemenangan dengan menghimpun sumber daya dan basis dukungan yang lebih luas.Â
"Kita bisa melihat contoh suksesnya strategi koalisi ini dalam Pilkada Jawa Barat 2024, di mana Deddi Mulyadi berhasil memenangkan pemilihan dengan dukungan koalisi yang kuat dan narasi pembangunan yang terintegrasi. Dukungan dari Koalisi Indonesia Maju dapat membantu Matius-Aryoko membangun narasi yang kuat dan mendapatkan akses ke sumber daya yang lebih besar. Harmonisasi dengan pemerintah pusat juga menjadi poin plus," katanya.
Faktor ketiga menurut Adjie adalah momentum psikologis. Pengalaman Pilkada sebelumnya menunjukkan bahwa diskualifikasi calon yang sebelumnya dianggap unggul seringkali berdampak negatif pada elektabilitasnya di pemilihan selanjutnya. Teori voter psychology menjelaskan bagaimana pengalaman negatif, seperti diskualifikasi, dapat mempengaruhi persepsi dan keputusan pemilih.Â
"Pemilih cenderung menghindari calon yang memiliki catatan kontroversial, bahkan jika mereka sebelumnya memiliki popularitas tinggi. Kita bisa melihat contohnya dalam beberapa pemilihan ulang di berbagai daerah, misalnya di Sumatera Utara. Calon yang didiskualifikasi seringkali mengalami penurunan signifikan dalam dukungan, membuka peluang bagi calon alternatif. Dalam kasus Papua, diskualifikasi Benhur-Yeremias dapat menciptakan efek psikologis yang menguntungkan Matius-Aryoko," sambungnya.
Load more