News Bola Daerah Sulawesi Sumatera Jabar Banten Jateng DI Yogya Jatim Bali

Terungkap Sudah Desas-desus Alasan Soeharto Tak Diculik di Tragedi G30S PKI, sementara Jenderal Lain Meregang Nyawa

Saat Tragedi G30S PKI pada 1965, ke mana Soeharto? Ternyata inilah alasan yang membuat Presiden ke-2 RI itu tidak diculik di tengah situasi upaya mengkudeta pemerintah Presiden ke-1 RI, Soekarno.
Selasa, 9 September 2025 - 23:34 WIB
Foto Soeharto zaman dulu
Sumber :
  • Wikipedia

Jakarta, tvOnenews.com - Peran Presiden ke-2 RI, Soeharto di Tragedi G30S PKI sangat krusial.

Saat peristiwa G30S PKI menggila pada 30 September hingga 1 Oktober 1965, status Mayjen Soeharto sebagai Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad).

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Soeharto kala itu sangat getol membentuk pasukan penumpasan Gerakan 30 September 1965 oleh sekelompok pemuda PKI.

Hal ini mengingat G30S PKI ingin mengkudeta atau menggulingkan pemerintahan di era kekuasaan Presiden ke-1 RI, Ir. Soekarno.

G30S PKI juga ingin mengubah sistem pemerintah di Indonesia menggunakan ideologi komunis.

Tentu saja, alasan Soeharto tidak menjadi korban penculikan hingga pembunuhan oleh PKI menimbulkan banyak pertanyaan dari publik.

Pertanyaan sederhana yang sering muncul hingga saat ini, "Mengapa Soeharto tidak ikut diculik dan dibunuh PKI daripada para jenderal lainnya?".

Presiden ke-2 RI, Soeharto.
Presiden ke-2 RI, Soeharto.
Sumber :
  • Kolase Tim tvOnenews

 

Berbagai pertanyaan timbul karena ada teori bahwa sosok Soeharto diduga punya peran di balik insiden Gerakan 30 September. Apakah benar?

Soeharto kala itu memimpin pemerintah Orde Baru. Ia mengerahkan penyiaran ke seluruh sekolah di Indonesia.

Tujuannya ingin menegaskan kelompok PKI sebagai dalang atau pelaku utama tragedi yang mengubur tujuh Pahlawan Revolusi di Lubang Buaya, Jakarta Timur.

Berbagai pendapat mulai bermunculan, termasuk spekulasi PKI tidak bisa disalahkan secara tunggal dalam peristiwa pembantaian para jenderal.

Hal paling mencuat terkait dalang tragedi G30S PKI karena pembentukan Dewan Jenderal, mereka ingin menurunkan Presiden Soekarno.

Merujuk dari buku Kematian DN Aidit dan Kejatuhan PKI karya Peter Kasenda, tulisan Peter mengarah pada simpatisan PKI dari militer memberikan informasi dari PKI.

Kebetulan kondisi militer di Indonesia mengalami pembagian beberapa kekuatan pada 1965, sehingga terpecah karena ingin memperoleh kekuasaan.

Tak ayal, ada orang militer yang membentuk partai politik, simpatisan PKI, dan lain-lain.

Usut punya usut, mayoritas yang menduduki kursi dewan dan pejabat ternyata dari para kader PKI, tetapi sebagian lainnya menolak keberadaan mereka.

Indonesia juga saat itu ikut mengalami dampak setelah berakhirnya Perang Dunia II pada 1945, ada kubu paham ideologi Uni Soviet dan kubu Amerika Serikat.

Pembentukan Dewan Jenderal diyakini sangat condong ke Amerika Serikat yang lebih suka paham kapitalis. Tak heran mereka ingin mengkudeta Presiden ke-1 RI.

Beruntungnya Soekarno masih memiliki perwira militer yang setia, sehingga mereka berupaya menggagalkan tujuan Dewan Jenderal.

Ada lima perwira militer yang didukung Kepala Biro Chusus (BC) PKI, Sjam Kamaruzaman.

Mereka adalah sosok Letkol Untung, Komandan Batalion Pasukan Pengawal Presiden Cakrabirawa, Komandan Garnisun Kodam Jaya, Kolonel Abdul Latief, serta Komandan Resimen Pasukan Pertahanan Pangkalan di Halim, Mayor Sujono.

Pada akhirnya mereka menjadi simpatisan PKI, bahkan sudah punya upaya melakukan penculikan para jenderal untuk dibawa ke hadapan Presiden Soekarno.

Alih-alih sukses, rencana penculikan mengalami kegagalan karena para jenderal terbunuh. Ini menunjukkan persiapan menculik mereka tidak sempurna.

Pertanyaannya ke mana Soeharto saat itu?

Merujuk dari buku Gerakan 30 September: Pelaku, Pahlawan, dan Petualang (2010) karya Julius Pour, Kolonel Abdul Latief pun memberikan kesaksian kenapa sang Pangkostrad tidak diculik simpatisan pro PKI.

"Karena kami anggap Jenderal Soeharto loyalis Bung Karno, maka tidak kami jadikan sasaran," ungkap Kolonel Abdul Latief.

Apalagi, sebelum penculikan berlangsung, Abdul Latief melaporkan rencana ini lantaran Soeharto sudah mengisi posisi sebagai Pangkostrad.

Nahasnya Pangdam Jaya Mayjen Umar Wirahadikusumah dan Pangdam Brawijaya Mayjen Jenderal Basoeki Rachmat tidak menjawab laporan terkait langkah dari Latief.

Latief semakin was-was Dewan Jenderal akan dikudeta mengingat rencana ini sudah tercium olehnya.

Latief berspekulasi informasi tujuan pencegahan kudeta oleh Dewan Jenderal juga tidak ditanggapi serius oleh Soeharto.

Dalam wawancara dengan Der Spiegel pada 19 Juni 1970, Soeharto tidak bisa membantah sebelum insiden G30S PKI, ia bersua dengan Kolonel Abdul Latief.

Pertemuan antara Soeharto dan Latief berlangsung di RSPAD Gatot Subroto pada 30 September 1965 malam.

Merujuk dari otobiografi Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya (1988), Soeharto saat itu sedang merawat anak bungsunya Hutomo Mandala Putra biasa disebut Tommy.

Soeharto pun mengungkapkan bahwa, dirinya tidak memperoleh informasi apa pun saat ditemui karena tak melakukan interaksi dengan Latief.

"Dia justru akan membunuh saya. Tapi karena saya berada di tempat umum, dia mengurungkan niat jahatnya itu," ungkap Soeharto.

Seiring berjalannya waktu, ia dikenal pahlawan dalam Tragedi G30S PKI, itu terjadi setelah mendapat Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret) pada 11 Maret 1966.

Soeharto dan pasukannya pun menghabisi setidaknya sekitar 500 ribu nyawa diduga tergabung dalam PKI di seluruh wilayah Indonesia.

Dalam kesaksiannya, Latief mengatakan, "Jadi siapa yang sebenarnya telah mengakibatkan terbunuhnya para jenderal tersebut? Saya yang telah memberi laporan lebih dulu kepada Jenderal Soeharto? Atau justru Jenderal Soeharto, yang sudah menerima laporan tetapi tidak berbuat apa-apa?."

Latief melanjutkan ucapannya setelah dirinya dianggap telah dikhianati Soeharto. Ia menuturkan, "Ternyata sama sekali nggak pernah ada upaya menambah penjagaan. Sebaliknya, usai Peristiwa G30S meletus, selain menghantam  G30S juga menghabisi ribuan rakyat yang sebenarnya nggak tahu apa pun, mereka bertiga setelah itu bareng-bareng menggulikan pemerintahan Presiden Soekarno."

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Tiga sosok yang dimaksud Latief, antara lain Basuki Rachmat, Umar Wirahadikusumah, dan Soeharto..

(abs/hap)

Berita Terkait

Komentar

Topik Terkait

Saksikan Juga

Jangan Lewatkan

Guru Pesantren di Bekasi Jadi Tersangka Kekerasan Seksual Puluhan Santri, Petugas Keamanan Diduga Ikut Terlibat

Guru Pesantren di Bekasi Jadi Tersangka Kekerasan Seksual Puluhan Santri, Petugas Keamanan Diduga Ikut Terlibat

Seorang guru di salah satu pondok pesantren di Bekasi ditetapkan sebagai tersangka kekerasan seksual terhadap santriwati. Tiga orang lainnya diduga terlibat dalam kasus ini. Salah satunya merupakan petugas keamanan pesantren.
Lansia Sengaja Tabrakan Diri ke Mobil Melintas di Jakarta Utara Ditangkap, Dalih Ingin Dapat Uang "Tanggung Jawab" untuk Usaha Kopi Keliling

Lansia Sengaja Tabrakan Diri ke Mobil Melintas di Jakarta Utara Ditangkap, Dalih Ingin Dapat Uang "Tanggung Jawab" untuk Usaha Kopi Keliling

Lansia yang sering menabrakkan dirinya ke mobil yang melintas di Penjaringan, Jakarta Utara, akhirnya berhasil ditangkap. Modusnya berjalan kaki melintasi jalan raya dan menabrakkan dirinya untuk mencari keuntungan pribadi.
Bukan Cuma Taisei Marukawa, 4 Pemain Ini Masih Tunggu Naturalisasi Timnas Indonesia

Bukan Cuma Taisei Marukawa, 4 Pemain Ini Masih Tunggu Naturalisasi Timnas Indonesia

Gelombang ketertarikan pemain asing untuk mengenakan seragam kebanggaan Timnas Indonesia kian tak terbendung. Sebanyak empat pemain top yang berkarier di kompet
Persaingan V-League Memanas, Vanja Bukilic Sesumbar Ingin Kalahkan Megawati Hangestri

Persaingan V-League Memanas, Vanja Bukilic Sesumbar Ingin Kalahkan Megawati Hangestri

Peta persaingan Liga Voli Korea Selatan (VLeague) putri musim 2026/2027 dipastikan berjalan sengit. Kepindahan bintang voli Indonesia Megawati Hangestri Pertiwi
Tren Modifikasi Mobil Gen Z dan Milenial Berubah, Bukan Cuma Tampil Keren, Fungsi dan Keamanan Ikut Jadi Pertimbangan

Tren Modifikasi Mobil Gen Z dan Milenial Berubah, Bukan Cuma Tampil Keren, Fungsi dan Keamanan Ikut Jadi Pertimbangan

Tren modifikasi mobil di kalangan Gen Z dan milenial memperlihatkan bahwa personalisasi kendaraan dapat berjalan beriringan dengan fungsi praktis
Kisah Biarawati Asal Nias yang Berjuang untuk Anak Berkebutuhan Khusus, Kisahnya Buka Mata soal Pendidikan Inklusif

Kisah Biarawati Asal Nias yang Berjuang untuk Anak Berkebutuhan Khusus, Kisahnya Buka Mata soal Pendidikan Inklusif

Masyarakat juga perlu mengubah cara pandang terhadap anak berkebutuhan khusus. Mereka bukan sekadar penerima bantuan atau objek belas kasihan

Trending

Kisah Biarawati Asal Nias yang Berjuang untuk Anak Berkebutuhan Khusus, Kisahnya Buka Mata soal Pendidikan Inklusif

Kisah Biarawati Asal Nias yang Berjuang untuk Anak Berkebutuhan Khusus, Kisahnya Buka Mata soal Pendidikan Inklusif

Masyarakat juga perlu mengubah cara pandang terhadap anak berkebutuhan khusus. Mereka bukan sekadar penerima bantuan atau objek belas kasihan
3 Fakta soal Video Asusila 13 Menit Diduga Pakai Seragam Poltekkes Bandung

3 Fakta soal Video Asusila 13 Menit Diduga Pakai Seragam Poltekkes Bandung

Jagat media sosial dihebohkan dengan beredarnya rekaman video asusila berdurasi 13 menit yang menyeret nama salah satu institusi pendidikan kesehatan terkemuka
Viral Tsunami 60 Meter Akibat Erupsi Anak Krakatau, Badan Geologi Bongkar Fakta Video TikTok yang Bikin Resah

Viral Tsunami 60 Meter Akibat Erupsi Anak Krakatau, Badan Geologi Bongkar Fakta Video TikTok yang Bikin Resah

Viral kabar tsunami 60 meter akibat erupsi Gunung Anak Krakatau dipastikan hoaks oleh Badan Geologi. Simak fakta erupsi, status Waspada, dan radius aman
Video Asusila 13 Menit Diduga Pakai Seragam Poltekkes Bandung Viral, Pihak Kampus Ungkap Fakta Ini

Video Asusila 13 Menit Diduga Pakai Seragam Poltekkes Bandung Viral, Pihak Kampus Ungkap Fakta Ini

Viral video asusila berdurasi 13 menit diduga memakai atribut Poltekkes Bandung. Pihak kampus membantah pemeran dalam rekaman merupakan mahasiswinya.
Viral Video Asusila 13 Menit, Siapa Pemerannya? Waspada Link Palsu Berujung Phishing

Viral Video Asusila 13 Menit, Siapa Pemerannya? Waspada Link Palsu Berujung Phishing

Video asusila berdurasi 13 menit yang dikaitkan dengan seragam Poltekkes Bandung viral di media sosial. Siapa pemerannya? Simak klarifikasi kampus dan cara
Kolaborasi Ini Upayakan Perluas Akses Kesehatan Masyarakat

Kolaborasi Ini Upayakan Perluas Akses Kesehatan Masyarakat

Berbagai pihak turut ikut berperan dalam menopang mobilitas fasilitas kesehatan diberbagai daerah Indonesia.
Imbas Kekalahan Aneh 6-0 dari Malaysia Masih Terasa, PSSI-nya Singapura Banjir Kritik Usai Umumkan FIFA Matchday Lawan Brasil

Imbas Kekalahan Aneh 6-0 dari Malaysia Masih Terasa, PSSI-nya Singapura Banjir Kritik Usai Umumkan FIFA Matchday Lawan Brasil

Federasi Sepak Bola Singapura (FAS) menuai kritik setelah mengumumkan laga persahabatan melawan Brasil dan Paraguay pada November 2026.
Selengkapnya

Viral