Saham Prajogo Pangestu dan Suami Puan Maharani Kompak Anjlok, IHSG Terjun Hampir 5%, Ini Biang Keroknya
- Istimewa
Jakarta, tvOnenews.com — Awal pekan ini, pasar saham domestik diguncang oleh kejatuhan tajam emiten-emiten konglomerat. Saham-saham milik taipan Prajogo Pangestu dan Happy Hapsoro, suami Ketua DPR RI Puan Maharani, kompak anjlok pada perdagangan sesi pertama, Senin (27/10/2025).
Tekanan jual masif di saham-saham konglomerat itu membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat terjun bebas hingga nyaris 5%. Dari posisi tertinggi intraday di 8.354, indeks turun tajam ke level 7.959, kehilangan sekitar 395 poin hanya dalam satu sesi perdagangan.
Saham Konglomerat Terjun Bebas
Grup Barito milik Prajogo Pangestu menjadi kelompok yang paling terpukul. Barito Pacific (BRPT) dan Petrindo Jaya Kreasi (CUAN) sempat menyentuh batas auto rejection bawah (ARB) sebelum akhirnya memangkas koreksi, meski tetap melemah dua digit.
Sementara itu, Chandra Asri Pacific (TPIA) masih mencatatkan penurunan paling ringan, kurang dari 1%, namun tetap berada di zona merah. Saham lain seperti Chandra Daya Investasi (CDIA), Petrosea (PTRO), dan Barito Renewables Energy (BREN) juga sempat jatuh ke batas ARB sebelum akhirnya berbalik tipis.
Nasib serupa dialami saham-saham milik Happy Hapsoro. Rukun Raharja (RAJA) dan Raharja Energi Cepu (RATU) ambles hingga menyentuh batas bawah perdagangan harian. Kedua saham energi itu ikut terseret dalam aksi jual besar-besaran yang menimpa sektor konglomerat.
Isu Perubahan Indeks MSCI Jadi Pemicu
Penyebab utama anjloknya saham-saham konglomerat ini berasal dari isu perubahan komposisi indeks MSCI (Morgan Stanley Capital International). Pasar saham diguncang oleh kabar bahwa sejumlah saham milik Prajogo Pangestu berpotensi terdepak dari daftar MSCI versi terbaru.
Kabar tersebut langsung memicu kepanikan investor yang memilih melakukan aksi panic selling sebelum keputusan resmi dirilis. Padahal, pengumuman indeks MSCI baru akan dilakukan pada 5 November 2025 dan berlaku efektif mulai 25 November 2025.
Kekhawatiran pasar semakin besar karena saham-saham milik Prajogo selama ini menjadi penopang utama pergerakan IHSG di tengah lemahnya sektor perbankan dan blue chip tradisional. Ketika saham-saham tersebut jatuh, indeks kehilangan salah satu “mesin penggerak” utamanya.
Pergeseran Investasi ke Saham Blue Chip
Di sisi lain, sentimen global yang mulai stabil membuat sebagian investor bergeser dari saham konglomerat ke saham blue chip yang memiliki fundamental kuat. Pergeseran ini memperlemah permintaan terhadap saham-saham berkapitalisasi besar milik taipan lokal.
Tren ini terjadi di tengah optimisme pasar global yang didorong oleh penurunan inflasi di Amerika Serikat dan ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh The Fed. Kondisi itu justru membuat investor memilih saham-saham defensif di sektor perbankan dan teknologi dibanding saham-saham spekulatif konglomerat.
Dampak ke Pasar
Kejatuhan serempak saham konglomerat ini langsung menular ke seluruh sektor, menekan IHSG dan memperburuk sentimen pasar domestik. Walau sebagian saham berhasil memangkas pelemahannya menjelang akhir sesi, indeks masih berada jauh di bawah level psikologis 8.000.
Investor kini menanti konfirmasi resmi dari MSCI mengenai perubahan komposisi indeks yang akan menentukan arah pasar ke depan. Jika benar ada penghapusan sejumlah saham konglomerat dari daftar MSCI, tekanan jual berpotensi berlanjut hingga pekan depan.
Situasi ini menjadi peringatan bagi pelaku pasar bahwa ketergantungan berlebihan pada saham-saham konglomerat bisa berisiko tinggi, terutama ketika faktor eksternal seperti perubahan indeks global dan pergeseran portofolio investor asing ikut bermain. (nsp)
Load more