News Bola Daerah Sulawesi Sumatera Jabar Banten Jateng DI Yogya Jatim Bali

Pengamat Kritik Keras OTT, Operasi Tangkap Tangan Berulang Jadi Bukti Kegagalan Pencegahan

Fenomena OTT, peradilan, dan kekuasaan bukan sebagai peristiwa terpisah, melainkan gejala dari krisis yang lebih dalam, yakni krisis integritas dan keberanian moral.
Sabtu, 3 Januari 2026 - 19:32 WIB
Ilustrasi OTT KPK
Sumber :
  • viva.co.id

Jakarta, tvOnenews.com - Pegamat kritik keras Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang terus dilakukan penegak hukum. 

OTT kasus korupsi yang melibatkan pejabat hingga aparat penegak hukum dinilai sebagai agenda rutin di Tanah Air.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Hal itu disampaikan pengamat hukum dan politik Pieter C Zulkifli.

Menurutnya fenomena OTT, peradilan, dan kekuasaan bukan sebagai peristiwa terpisah, melainkan gejala dari krisis yang lebih dalam, yakni krisis integritas dan keberanian moral. Sebab, tanpa pejabat hukum yang takut Tuhan, hukum mudah tergelincir menjadi sekadar ritual kekuasaan.

Pengamat hukum dan politik Pieter C. Zulkifli
Pengamat hukum dan politik Pieter C. Zulkifli
Sumber :
  • Istimewa

"Di negeri ini, operasi tangkap tangan sudah seperti agenda rutin. Hampir setiap tahun, bahkan hampir setiap bulan, selalu ada pejabat atau aparat penegak hukum yang kembali terjaring. Seolah korupsi adalah ritual tahunan," kata Pieter Zulkifli dalam keterangannya, Jakarta, Sabtu (3/1/2026).

"Polanya nyaris seragam, konferensi pers, borgol, janji bersih-bersih, lalu sunyi. Kita gaduh sesaat, lalu lupa. Korupsi pun berlanjut, seolah-olah negara ini rajin menangkap, tetapi malas mencegah," tambahnya.

Mengutip pernyataan Ketua Mahkamah Agung RI, Sunarto, yang mengucapkan kalimat sederhana namun menohok, yaitu 'percuma hakim pintar jika tidak takut kepada Tuhan'.

Menurutnya, pernyataan itu datang di saat yang tepat atau justru di saat yang paling genting. Sebab, persoalan hukum hari ini bukan lagi soal kurangnya aturan atau lemahnya lembaga, melainkan krisis karakter.

"Indonesia tidak kekurangan orang cerdas di ruang-ruang kekuasaan. Yang langka adalah mereka yang berani berhenti sebelum melanggar batas," katanya.

Pieter Zulkifli menyebut bila 2025 memperlihatkan wajah peradilan yang semakin paradoks. Di satu sisi, penindakan berjalan melalui OTT hingga menjatuhkan vonis.

Di sisi lain, kasus serupa justru terus bermunculan dari lembaga yang sama. Dia menilai jika hal itu menandakan satu hal, yaitu hukum bekerja di hilir, tetapi rusak di hulu.

"Kita rajin memadamkan api, tetapi membiarkan gudang bensin tetap terbuka. Di titik inilah Machiavelli terasa terlalu aktual untuk diabaikan. Lima abad lalu, ia menulis bahwa tujuan utama penguasa bukanlah kesejahteraan rakyat, melainkan merebut dan mempertahankan kekuasaan," katanya.

"Cinta rakyat, kata Machiavelli, mahal dan berisiko. Sebaliknya, rasa takut adalah investasi jangka panjang. Pandangan sinis ini menemukan bentuk modernnya di era algoritma dan media sosial," timpalnya.

Pieter Zulkifli mengatakan di atas kertas, penegakan hukum di negeri ini tampak berjalan, tetapi keadilan kerap tertinggal di belakang. 

Dia menyatakan bahwa 2025 kembali memperlihatkan ironi itu dengan gamblang di mana penangkapan terjadi, pasal diperbanyak, tetapi rasa percaya publik terus menipis.

"Di tengah demokrasi yang berjalan rapi secara administratif, hukum justru terasa semakin jauh dari nurani," katanya.

Tak hanya itu, Pieter Zulkifli menuturkan penguasa hari ini tak perlu menyingkirkan lawan secara fisik. Cukup dengan framing, buzzer, dan pengadilan opini. Reputasi bisa runtuh dalam hitungan jam. Kritik bisa dibelokkan menjadi kebencian publik.

"Machiavelli menyebutnya seni menjadi rubah: tampil santun di depan kamera, tetapi tetap memangsa di belakang layar. Bedanya, kini semua dilakukan dengan data, statistik, dan narasi yang tampak sah," kata dia.

Dalam sistem seperti ini, kata Pieter Zulkifli, korupsi kerap bukan sekadar penyakit, melainkan alat kontrol. Ketika banyak orang terlibat, semua menjadi saling sandera, loyalitas bahkan dibayar dengan perlindungan.

"Ketidaksetiaan dibalas dengan penegakan hukum selektif. Hukum antikorupsi tetap dikibarkan, tetapi sering kali lebih berfungsi sebagai ancaman simbolik daripada instrumen keadilan substantif," katanya.

Di samping dari itu, Pieter Zulkifli menyatakan bila makna demokrasi pun ikut menipis. Pemilu tetap digelar, partisipasi dicatat, tetapi kebijakan berjalan di tempat.

Dia menyebut rakyat merasa berdaulat karena memilih, padahal yang dipilih hanya wajah, bukan arah. Demokrasi prosedural berjalan rapi, tetapi demokrasi moral tertatih. Legitimasi diperoleh dari kotak suara, bukan dari keadilan yang dirasakan.

"Kondisi ini menguatkan peringatan klasik Tacitus; Semakin korup sebuah negara, semakin banyak aturan hukumnya. Indonesia hari ini kaya regulasi, tetapi miskin rasa adil. Aturan dibuat berlapis, teknis, dan sering ambigu," ucapnya.

Akibatnya, hukum menjadi labirin yang hanya bisa dilalui mereka yang punya uang, waktu, dan akses. Rakyat kecil tersandung administrasi dan mereka yang berkuasa berlindung di balik prosedur.

"OTT yang terus berulang justru menegaskan kegagalan pencegahan. Data penindakan boleh impresif, tetapi ia juga menjadi pengakuan bahwa sistem etik tidak bekerja. Tanpa iman, tanpa rasa malu, tanpa keberanian moral, hukum dipaksa bekerja sendirian. Dan hukum, sebagaimana sejarah membuktikan, tidak pernah cukup kuat untuk menggantikan hati nurani," kata dia.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Karena itu, Pieter Zulkifli menekankan bila pernyataan Ketua MA seharusnya dibaca sebagai peringatan keras, bukan kutipan seremonial. Negara tidak runtuh karena kekurangan pasal, melainkan karena keberanian untuk jujur kian menipis.

"Keadilan tidak lahir dari tumpukan undang-undang, tetapi dari keteguhan menegakkan kebenaran tanpa pandang bulu. Jika aturan terus bertambah sementara ketidakadilan tetap tumbuh, yang layak dicurigai bukanlah rakyat yang melanggar hukum, melainkan kekuasaan yang sengaja mengaburkan," tegasnya. (muu)

Komentar

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

Jangan Lewatkan

Sopir Sempat Terjepit, Truk Tronton Angkut Besi Tabrak Truk Lain di Flyover Ciputat hingga Melintang

Sopir Sempat Terjepit, Truk Tronton Angkut Besi Tabrak Truk Lain di Flyover Ciputat hingga Melintang

Truk tronton pengangkut besi mengalami kecelakaan di Flyover Ciputat, Tangerang Selatan, hingga membuat jalanan macet total, Kamis (8/1/2026).
Persija Jakarta Pastikan Lepas 4 Pemain Mudanya, Kosongkan Tempat Demi Datangkan Ivar Jenner dari FC Utrecht?

Persija Jakarta Pastikan Lepas 4 Pemain Mudanya, Kosongkan Tempat Demi Datangkan Ivar Jenner dari FC Utrecht?

Persija Jakarta kembali dirumorkan bidik gelandang Timnas Indonesia Ivar Jenner setelah umumkan lepas empat pemain jelang dibukanya bursa transfer musim Januari
Belajar dari Megawati saat Jadi Presiden, Gubernur Jakarta Yakin PAM Jaya Makin Sukses usai IPO

Belajar dari Megawati saat Jadi Presiden, Gubernur Jakarta Yakin PAM Jaya Makin Sukses usai IPO

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mendorong Perusahaan Daerah Air Minum Jaya atau PAM Jaya untuk bisa IPO.
Teks Khutbah Jumat 9 Januari 2026 Jelang Isra Mi'raj, Meneladani Rasulullah SAW dan Memahami Pentingnya Masjid Al-Aqsa

Teks Khutbah Jumat 9 Januari 2026 Jelang Isra Mi'raj, Meneladani Rasulullah SAW dan Memahami Pentingnya Masjid Al-Aqsa

Berikut teks khutbah Jumat 9 Januari 2026 tentang Isra Mi'raj: Meneladani Rasulullah SAW dan Memahami Pentingnya Masjid Al-Aqsa.
3 Pemain dengan Gol Terbanyak di Laga El Clasico Indonesia Persib Bandung vs Persija Jakarta

3 Pemain dengan Gol Terbanyak di Laga El Clasico Indonesia Persib Bandung vs Persija Jakarta

Diisi oleh kombinasi antara bomber lokal dengan asing, inilah deretan pemain dengan gol terbanyak sepanjang sejarah pertemuan Persib Bandung vs Persija Jakarta.
Usai Jadi Tersangka Kasus Ijazah Palsu, Wagub Babel Bakal Gugat Universitas Azzahra

Usai Jadi Tersangka Kasus Ijazah Palsu, Wagub Babel Bakal Gugat Universitas Azzahra

Sementara itu, dengan adanya penetapan tersangka yang dialaminya, Hellyana kemudian menyalahkan pihak Universitas Azzahra dan berencana untuk menggugatnya.

Trending

Sosok Khairun Nisya, Pramugari Gadungan Viral Usai Lolos Pemeriksaan Bandara, Diduga Bukan Kali Pertama

Sosok Khairun Nisya, Pramugari Gadungan Viral Usai Lolos Pemeriksaan Bandara, Diduga Bukan Kali Pertama

Nama Khairun Nisa menjadi sorotan publik setelah aksinya terbongkar di media sosial. Dengan penampilan yang dinilai sangat meyakinkan, ia mengenakan seragam lengkap pramugari
Bermodal Baju Kebaya dan Rambut Sasak, Pramugari Gadungan Nekat Naik Pesawat Viral di Media Sosial

Bermodal Baju Kebaya dan Rambut Sasak, Pramugari Gadungan Nekat Naik Pesawat Viral di Media Sosial

Viral di media sosial sebuah video yang memperlihatkan seorang pramugari gadungan diamankan petugas keamanan.
3 Aksi Pelanggaran 'Horor' di Sepak Bola Indonesia dalam Satu Pekan, Berbuah Sanksi Larangan Seumur Hidup

3 Aksi Pelanggaran 'Horor' di Sepak Bola Indonesia dalam Satu Pekan, Berbuah Sanksi Larangan Seumur Hidup

Inilah rangkaian pelanggaran horor dalam sepak bola Indonesia yang bahkan terjadi dalam waktu satu pekan saja. Hukuman larangan main seumur hidup dijatuhkan.
Viral! Anggota DPRD Ogan Ilir Fraksi Gerindra Resmi Ditahan, Diduga Terlibat Mafia Tanah Rugikan Negara Rp10,5 Miliar

Viral! Anggota DPRD Ogan Ilir Fraksi Gerindra Resmi Ditahan, Diduga Terlibat Mafia Tanah Rugikan Negara Rp10,5 Miliar

Penahanan Yansori berlangsung dramatis dan menjadi perhatian publik. Ia diamankan secara paksa sesaat setelah mengikuti Sidang Paripurna Istimewa DPRD Ogan Ilir dalam rangka HUT ke-22 Kabupaten Ogan Ilir di Gedung Paripurna DPRD, Kompleks Perkantoran Terpadu Tanjung Senai, Indralaya.
Darren Fletcher Umumkan Nasibnya di Manchester United usai Nama Ole Gunnar Solskjaer Mencuat dalam Bursa Pelatih Baru

Darren Fletcher Umumkan Nasibnya di Manchester United usai Nama Ole Gunnar Solskjaer Mencuat dalam Bursa Pelatih Baru

Darren Fletcher mengumumkan nasibnya di Manchester United usai laga kontra Burnley. Pencarian pelatih baru tengah berlangsung dan Ole Gunnar Solskjaer masuk dalam bursa.
Media Belanda Ingatkan Timnas Indonesia soal Masa Kelam John Herdman, Pernah Alami Kekerasan hingga Nyaris Kehilangan Nyawa

Media Belanda Ingatkan Timnas Indonesia soal Masa Kelam John Herdman, Pernah Alami Kekerasan hingga Nyaris Kehilangan Nyawa

Media Belanda menyoroti masa lalu kelam John Herdman, pelatih baru Timnas Indonesia yang pernah mengalami kekerasan brutal hingga nyaris kehilangan nyawa.
Pramugari Gadungan yang Viral di Media Sosial Akhirnya Minta Maaf ke Batik Air dan Lion Group, Nisya Berjanji Tak akan Beraksi Lagi

Pramugari Gadungan yang Viral di Media Sosial Akhirnya Minta Maaf ke Batik Air dan Lion Group, Nisya Berjanji Tak akan Beraksi Lagi

Pramugari gadungan yang viral di media sosial akhirnya minta maaf. Secara khusus dia menyampaikan permintaan maafnya kepada Batik Air dan Lion Group.
Selengkapnya

Viral

ADVERTISEMENT