Miris 70 Anak Terpapar Konten Kekerasan di Ruang Digital, Densus 88 Antiteror Polri: Rata-rata Korban Bullying
- pexels.com/Mikhail Nilov
Jakarta, tvOnenews.com - Densus 88 Antiteror Polri menegaskan bahwa sebanyak 70 anak di 19 provinsi Indonesia yang terpapar konten kekerasan di ruang digital, perlu dilakukan penanganan prioritas.
Hal ini dinyatakan oleh Juru Bicara Densus 88 Antiteror Polri, Kombes Mayndra Eka Wardhana di Bareskrim Polri, Rabu (7/1/2026) usai mendapati para anak tersebut tergabung dalam 27 grup yang menyebarkan paham ekstremisme sebagai inspirasi.
“Pada tanggal 22 Desember 2025, Mabes Polri beserta jajaran serempak untuk bersama-sama dengan kementerian/lembaga terkait segera mengintervensi anak yang lain ya, daripada 70 orang ini,” kata Mayndra.
Lebih lanjut Mayndra mengungkapkan, anak-anak ini perlu penanganan prioritas lantaran ditemukan adanya rencana bunuh diri usai meledakkan beberapa kelas di sekolahnya.
“Mengapa penanganan anak-anak ini prioritas? Dari interview yang dilakukan oleh penyelidik, kami menemukan bahwa anak-anak ini di dalam wilayah yang berbeda berencana untuk melakukan bunuh diri setelah meledakkan beberapa kelas. Ya di sini disebutkan kelas 7, kelas 8, kelas 9. Lalu membantai guru, mensabotase CCTV. Sasaran aksinya adalah teman sekolah dan guru,” terang Mayndra.
Kemudian di dalam grup juga ditemukan adanya seseorang yang mengajarkan para member grup, untuk membuat bom hingga peluru.
“Mengajarkan kepada para member group yang mereka miliki untuk membuat bom, salah satunya bom pipa. Mengajarkan kepada member group untuk membuat peluru. Ikut serta dalam pembicaraan bagaimana membuat pipa menjadi barang yang berbahaya dan mematikan,” tutur Mayndra.
“Mengatakan bahwa dirinya memiliki bom pipa. Ditemukan bubuk yang diidentifikasi sebagai bahan kimia dalam membuat bahan peledak serta perangkat elektronik. Juga atribut-atribut yang ber-genre kekerasan seperti Neo-Nazi, White Supremacy, dan lain-lain,” sambungnya.
Selain itu Mayndra mengungkapkan bahwa beberapa anak juga sudah melakukan pembelian replika senjata.
“Ada juga yang ingin melakukan penusukan di sekolah, dan sasaran penusukannya adalah pembully di sekolah. Dan juga keterkaitan inspirasi beberapa game yang dilakukan, yaitu game-game yang ber-genre kekerasan. Yang di mana kita ketahui, beberapa informasi terakhir yang kita dapat juga terjadi kekerasan serupa yang menimpa keluarga dan sebagainya. Tapi yang ini sasarannya adalah sekolah,” tegas Mayndra.
Load more