Memanas! Kasus Pengeroyokan Guru di Jambi Berujung Saling Lapor Polisi, Keluarga Siswa: Adik Saya Mau Dibunuh?
- Tangkapan layar
Jakarta, tvOnenews.com - Babak baru kasus pengeroyokan guru SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur, Jambi oleh sejumlah siswa.
Setelah sempat dimediasi oleh pihak Forkopimda setempat, dan kedua belah pihak dilaporkan berdamai, kini justru berujung saling lapor polisi.
Siswa SMKN 3 Tanjung Jabung Timur ternyata telah membuat laporan ke Polsek Berbak pada Rabu (14/1/2026).
Laporan polisi ini dilakukan oleh kakak kandung salah satu siswa yang terlibat dalam pengeroyokan, yakni Muhammad Ardi.
Dia mengaku telah membuat laporan di Polsek Berbak.
Ardi mengaku tak terima sang adik dikejar oleh guru yang menenteng dua bilah sabit, yang seakan-akan akan membunuh adiknya.
“Saya yang enggak berkenan. Adik saya ini dikejar pakai dua sabit seolah-olah mau dibunuh. Ya kan? Sedangkan adik saya datang ke sini cuman pengin belajar menimba ilmu. Harapannya pihak kepolisian dapat mengusut tuntas kasus ini,” katanya dikutip, Jumat (16/1/2026).
Meski begitu, Ardi mengakui jika adiknya juga bersalah. Oleh karena itu ia mempersilahkan pihak sekolah untuk memberikan Tindakan tegas terhadap adiknya.
Ardi juga mengakui kedua belah pihak telah memutuskan berdamai pada saat proses mediasi. Namun menurutnya, proses hukum tetap harus berjalan.
Hal serupa juga ternyata dilakukan korban pengeroyokan siswa, Agus Saputra. Sang guru juga membuat laporan ke Polda Jmabi pada Kamis (15/1/2026).
Laporan polisi dilakukan oleh kakak kandung dari guru Agus Saputra, yakni Amat Nasir.
“Saya membuat laporan ini karena setelah video pengeroyokan itu viral, adik saya merasa dirugikan dari segi mental dan psikisnya terganggu, serta nama baiknya tercoreng,” kata Amat Nasir dikutip Jumat (16/1/2026).
Kronologi
Agus Saputra, guru SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur, Jambi buka suara soal video viral pengeroyokan dirinya oleh puluhan siswa.
Pengeroyokan Agus tersebut terjadi di lingkungan sekolah, saat jam belajar masih berlangsung. Bahkan di video lainnya, sang guru sempat membubarkan kerumunan siswa dengan mengacungkan senjata tajam celurit.
Agus pun membeberkan kronologi lengkap kejadian pengeroyokan yang dialaminya pada Selasa (13/1/2026) lalu.
Saat itu, Agus mengaku tengah berjalan di depan kelas, lalu mendengar salah satu muridnya menegur dengan kata-kata tidak pantas.
"Kejadian berawal peneguran siswa di kelas di saat belajar ada guru, dia (siswa) menegur dengan tidak hormat dan tidak sopan kepada saya, dengan meneriakkan kata yang tidak pantas kepada saya saat belajar," katanya, Kamis (15/1/2026).
Tak terima dengan teriakan tersebut, Agus kemudian meminta siswa tersebut mengaku.
Kemudian sang oknum siswa mengaku, namun lebih lanjut siswa tersebut malah menantang dirinya.
Menganggap siswa tersebut tidak sopan, Agus pun mengakui dirinya menampar sang murid.
"Dia langsung manantang saya, akhirnya saya refleks menampar muka dia (siswa)," terangnya.
Agus mengklaim kalua Tindakan itu sebagai bentuk Pendidikan moral.
Namun, sang siswa bereaksi marah hingga harus dimediasi oleh pihak sekolah.
Terkait kata-kata 'miskin' yang dilontarkannya, Agus mengaku hal itu konteksnya motivasi dan tidak bermaksud menghina.
"Saya melontarkan (kata miskin) sebagai motivasi, saya tidak bermaksud mengejek. Saya menceritakan secara umum. Saya mengatakan, 'kalau kita kurang mampu, kalau bisa jangan bertingkah macam-macam'. Itu secara motivasi pembicaraan," bebernya.
Keributan itu sempat dimediasi, namun menemui kebuntuan. Agus sempat menawarkan petisi jika siswa-siswa tersebut tidak menginginkan dirinya tidak mengajar lagi.
Di sisi lain Agus meminta para siswa berubah. Namun para siswa saat itu meminta Agus meminta maaf.
"Setelah mediasi itu, saya diajak komite ke kantor. Di saat itulah terjadi pengeroyokan," ujarnya.
Agus langsung mengadukan persoalan itu ke Dinas Pendidikan Provinsi Jambi. Dia berharap pihak dinas bisa menengahkan kejadian ini. (muu)
Load more