Kesedihan Mendalam Gubernur NTT Terpukul Anak SD Bunuh Diri di Ngada, Akui Sistem Data Warga Miskin Carut-Marut
- Kolase Antara/Kornelis Kaha & Istimewa
Jakarta, tvOnenews.com - Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Melki Laka Lena sedih mendengar kabar seorang anak SD bunuh diri di Kabupaten Ngada, NTT, Kamis (29/1/2026).
Korban merupakan anak berusia 10 tahun duduk di kelas IV SD di sekolah di Kabupaten Ngada, NTT. Siswa SD itu ditemukan bunuh diri secara gantung diri di sebuah dahan pohon cengkeh.
Melki mengaku sangat terpukul dan gagal adanya tragedi anak SD bunuh diri. Ia pun langsung berkoordinasi dengan pemerintah daerah (Pemda) Ngada setelah adanya peristiwa pilu itu.
"Sejak mendengar peristiwa ini, kami segera berkoordinasi dengan teman-teman di Kabupaten Ngada, termasuk bupati, wakil bupati, dan jajaran. Ini peristiwa yang memukul rasa kemanusiaan kita semua. Saya sangat terganggu dan merasa sedih," ujar Melki melalui saluran Program Kabar Utama tvOne, Kamis (5/2/2026).
Kabar Anak SD Bunuh Diri di Ngada Bikin Heboh Publik

- istimewa
Lanjut, Gubernur NTT itu telah mengetahui tragedi siswa SD gantung diri mengguncang publik. Bahkan menjadi pusat perhatian serius bagi masyarakat Indonesia.
Dengan suara bergetar, Melki menambahkan, tragedi tersebut juga menghebohkan warga NTT. Ia tidak menyangka peristiwa ini berakhir pilu karena dialami oleh seorang bocah baru berusia 10 tahun.
"Karena ini baru pertama saya alami semenjak menjadi gubernur hampir setahun ini," ungkapnya.
Tragedi kemanusiaan ini langsung mengundang perhatian pemerintah pusat. Ia terus dihubungi oleh sejumlah menteri hingga instansi di pusat untuk meminta keterangan atas kasus YBS.
"Akhirnya saya meminta ada teman-teman saya sendiri di luar jalur pemerintah ada juga turun ke lapangan mengecek kondisi yang terjadi," lanjutnya.
Gubernur NTT Akui Pemerintah Pemprov dan Pemda Gagal Deteksi Warga Miskin

- tvOneNews
Ia mengakui Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT dan Pemerintah Daerah (Pemda) telah gagal. Ia menyoroti adanya sistem pendataan pada warga kategori masyarakat miskin yang carut-marut.
Ia mendengar beberapa informasi bahwa kondisi keluarga korban berasal dari kategori miskin. Sementara, mereka juga sempat tinggal di Kecamatan Nagaroro, Kabupaten Nagekeo, NTT.
Selepas itu, korban bersama empat saudara dan orang tuanya berpindah ke Kecamatan Jerebuu, Ngada, NTT. Ia mengaku ada kelengahan pendataan terhadap kepindahan keluarga tersebut.
Keluarga korban tidak memperoleh bantuan sosial (bansos) dari Pemda. Sebab, tidak adanya proses administrasi perpindahan KTP dari Nagaroro ke Jerebuu.
"Waktu perpindahan ini memang tidak disertai dengan data kependudukan yang dibutuhkan dan itu mengakibatkan dalam waktu-waktu mereka pindah di Jerebuu ini, akses terhadap bantuan pemerintah tidak mereka dapatkan karena personal administrasi yang KTP-nya belum dipindahkan ke Kabupaten tetangga," jelasnya.
Menurutnya, tidak ada yang menangani proses administrasi perpindahan menjadi problem serius. Tragedi ini merupakan pukulan telak bagi seluruh perangkat pemerintah di NTT.
"Itu kita gagal bersama-sama, gagal berjamaah untuk mendeteksi kejadian kayak begini itu harusnya bisa dibantu atau kita tolong. Terus terang, saya terpukul dan sedih karena faktor-faktor ini," bebernya.
Ia mengatakan, soal korban diduga bunuh diri karena tak bisa membeli alat tulis, ini berkaitan dengan kegagalan pendeteksian terhadap warga miskin di kawasannya.
"Dan saya mendengar ini bukan kejadian pertama. Bagi Pemda Ngada ini biasa, tapi buat kita ataupun saya yang baru pertama, saya merasa cukup terganggu kok masih ada kayak begini terjadi di Provinsi NTT," imbuhnya.
Gebrakan Pemprov NTT Sikapi Tragedi Pilu Siswa SD Gantung Diri di Ngada
Di kesempatan lain, Melki mengatakan Pemprov NTT akan membuat gebrakan. Pihaknya siap memberikan bantuan pembangunan rumah layak huni untuk keluarga miskin khususnya keluarga korban.
"kita dari provinsi akan melihat agar membantu membangun rumah layak huni. Paling penting adalah membangun sistem sosial yang kuat dan dikerjakan bersama," terang Gubernur NTT itu kepada awak media di Kupang, Rabu (4/2/2026).
Ia hanya mengharapkan tragedi tersebut tidak terulang lagi. Karena sudah terjadi, Pemprov tanggung jawab menyelesaikan perkara ini.
"Termasuk pemakaman dan urusan adat," lanjutnya.
Fakta Terbaru Dugaan Penyebab Anak SD Bunuh Diri di Ngada NTT

- Istimewa
Sementara, polisi mengungkap fakta terbaru atas tragedi siswa kelas IV SD ditemukan meninggal dunia akibat gantung diri di Ngada, NTT.
Polisi sempat menemukan sebuah secarik surat perpisahan ditulis oleh korban. Isi surat tersebut mengungkapkan kekecewaan bocah SD tersebut kepada orang tuanya.
Kapolres Ngada, AKBP Andrey Valentino mengatakan, motif korban bunuh diri sebelumnya diduga karena tak mampu membeli buku dan pena seharga kurang Rp10 ribu. Berdasarkan hasil penyelidikan, pemicu gantung diri akibat adanya tekanan psikologis korban.
"Fakta di lapangan bukan karena alat tulisnya, melainkan sering dinasihati oleh orang tuanya," kata Andrey, Rabu (4/2/2026).
Ia menuturkan, psikologis korban diduga mengalami tekanan karena hal itu. Sebab, YBS sempat beberapa kali tidak masuk sekolah dalam satu minggu.
"Dengan alasan sakit," tambahnya.
Andrey menduga nasihat dari orang tuanya menimbulkan kesalahpahaman. Hal itu terjadi setelah korban dinasihati agar tidak main hujan guna menghindari sakit memicu tidak masuk sekolah.
"Mungkin yang namanya orang tua memberikan nasihat, penerimaan anaknya mungkin merasa tersinggung atau bagaimana. Jadi ceritanya bukan karena alat tulis tetapi karena sering dinasihati oleh ibunya mengenai pemberian nasihat tersebut," paparnya.
Merujuk dari penguatan hasil visum, polisi meyakini tidak adanya indikasi kekerasan dialami tubuh korban. Melalui hasil penyelidikan, polisi tidak menemukan motif perundungan di lingkungan sekolah.
"Kita dapat menyimpulkan bahwa ini memang murni dari niatan si korban itu sendiri untuk mengakhiri hidupnya dengan cara seperti itu," tegas Kapolres Ngada itu.
Ia menambahkan, polisi terus melakukan penyelidikan. Hal ini mengingat secarik surat perpisahan ditulis korban kepada ibunya mengundang kesedihan di ruang publik.
(hap)
Load more