Polisi Beberkan Hasil Forensik Bocah SD di Demak Akhiri Hidupnya Usai Dimaki Sang Ibu
- istimewa - istock photo
Jakarta, tvOnenews.com - Polisi beberkan hasil forensic bocah SD di Demak akhiri hidupnya usai dimaki ibu kandungnya. Dalam hal ini, Kasat Reskrim Polres Demak, Iptu Anggah menjelaskan, hasil visum dokter forensik, ditemukan tanda-tanda yang mengarah pada kematian akibat gantung diri.
"Ada luka akibat kekerasan tumpul berupa jejas atau lecet gantung pada leher. didapatkan tanda mati lemas. Waktu kematian 2-6 jam sebelum pemeriksaan visum dilakukan," jelas Anggah, seperti dikutip Sabtu (14/2/2026).
Lanjutnya menjelaskan, bahwa pihaknya menerima laporan kejadian sekitar pukul 21.30 WIB dan langsung melakukan olah tempat kejadian perkara serta pendalaman lebih lanjut.
Berdasarkan hasil pemeriksaan forensik dan rekaman CCTV, kepolisian membantah dugaan bahwa korban dibunuh oleh ibunya.
"Dari hasil pemeriksaan dokter forensik tadi, kemudian kita lihat rekaman CCTV yang menunjukkan ibu korban masuk ke rumah jam 18.01 WIB dan keluar jam 18.03 WIB sambil histeris untuk meminta tolong ke tetangga sebelah."
"Dengan rentang waktu sekitar 1,5 - 2 menit, tidak memungkinkan indikasi ibu korban melakukan pembunuhan," jelas Anggah.
"Selain itu, aktivitas terakhir di HP korban yaitu pukul 16.25 WIB. Selama rentang waktu itu hingga ibu korban pulang, tidak terlihat ada orang lain yang masuk ke rumah," sambungnya.
Sebelumnya diberitakan, usai insiden bocah SD akhiri hidupnya di NTT karena tak bisa beli alat tulis. Kini mencuat kabar terkait bocah SD di Demak, Jawa Tengah, akhiri hidupnya usai dimaki ibu kandungnya.
Sontak, kabar itu pun menyedot perhatian publik, hingga menuai komentar warganet karena kabar itu viral di media sosial.
Dalam keterangan polisi, bocah SD itu akhiri hidupnya diduga keran menerima makian dari ibu kandungnya melalui WhatsApp.
Bahkan, kata kepolisian, sebelum bocah SD itu akhiri hidupnya, ia sempat mengunggah tangkapan layar percakapan WhatsApp bernada makian dari ibunya.
"Screenshot chat dari ibu ke korban lalu diunggah oleh korban di WhatsApp beberapa hari sebelum peristiwa terjadi," ungkap Kasat Reskrim Polres Demak, Iptu Anggah, Jumat (13/2/2026).
Lanjut terang Iptu Anggah, unggahan tersebut kemudian beredar luas di media sosial.
Dari tangkapan layar itu, kata dia, erlihat sejumlah kata kasar yang dikirimkan kepada korban. Saat membagikan gambar itu, korban juga menuliskan keterangan, "Di balik tawa gua disisi lain aku juga cape".
Kemudian, Iptu Anggah juga menceritakan kronologi bocah SD itu akhiri hidupnya.
Kata dia, insiden tersebut pertama kali diketahui oleh ibu korban. Berdasarkan rekaman kamera pengawas, ibu korban pulang ke rumah pada pukul 18.01 WIB.
"Berdasarkan rekaman CCTV, ibu korban naik mobil pulang ke rumah. Lalu masuk ke rumah pukul 18.01 WIB," cerita Iptu Anggah.
Tak lama setelah masuk, jelasnya, sang ibu mendapati anaknya sudah dalam kondisi tergantung. Ia kemudian keluar rumah dan berteriak meminta pertolongan.
"Jam 18.03 WIB, ibu korban keluar dan berteriak. Jadi ibu korban ini yang pertama mengetahui anaknya gantung diri," kata Anggah.
Warga yang mendengar teriakan tersebut, kata dia, segera berdatangan. Korban lalu dilarikan ke Rumah Sakit Wongsonegoro Semarang menggunakan mobil milik ibunya yang dikemudikan tetangga, sementara sang ibu menyusul dengan sepeda motor.
"Dibawa ke rumah Rumah Sakit Wongsonegoro Semarang menggunakan mobil ibunya yang dikemudikan oleh tetangganya. Ibu korban mengikutinya dengan menggunakan sepeda motor," beber Anggah. (aag)
Load more