Ayah Korban Ungkap Kronologi Sebelum Anaknya Meninggal, Kecurigaan Pada Ibu Tiri Muncul Saat Dengar Penjelasan Dokter
- Tim tvOne - Kabar Siang
tvOnenews.com - Seorang anak laki-laki bernama Nizam Syafei atau NS (12) meninggal dunia di RSUD Jampang Kulon pada Kamis (19/2/2026). NS diduga menjadi korban penganiayaan oleh ibu tirinya.
Bocah asal Desa Bojongsari, Kecamatan Jampang Kulon, Kabupaten Sukabumi itu mengalami sejumlah luka bakar serta memar akibat benda tumpul hampir seluruh bagian tubuhnya.
Berdasarkan pengakuan Nizam sebelum meninggal, ia dipaksa meminum air panas oleh ibu tirinya.
Korban sempat dibawa ke rumah sakit dan mendapatkan perawatan intensif di ruang ICU selama kurang lebih delapan jam. Meski demikian, upaya medis tidak berhasil menyelamatkan nyawanya.
Ayah korban, Awang Satibi, tak mampu menyembunyikan kesedihannya dan menangis histeris saat anaknya meninggal dunia.
Awang mengungkapkan bahwa sebelum dirinya bepergian ke luar kota, kondisi sang anak dalam keadaan sehat dan tidak menunjukkan adanya luka bakar di tubuhnya.
Namun, ketika ia diminta pulang karena anaknya mengalami demam, Awang dibuat terkejut setelah melihat kondisi tubuh anaknya sudah dipenuhi luka bakar.
“Sebelum saya berangkat, anak saya memang sakit tetapi kulitnya dalam keadaan baik-baik saja. Tidak ada yang melepuh seperti itu,” ungkap Awang Satibi pada program Kabar Siang, tvOne, Minggu (22/2/2026).
“Sampai dirumah sahur pertama, saya sangat syok terjadi peristiwa seperti itu. Kulit anak saya melepuh seperti luka bakar,” sambungnya.

- Tim tvOne - Kabar Petang
Ayah korban sempat mempertanyakan penyebab kondisi tubuh anaknya yang dipenuhi luka bakar kepada istrinya.
Menanggapi hal tersebut, ibu tiri Nizam menyebutkan bahwa luka-luka itu muncul akibat demam yang dialami korban hingga menyebabkan kulitnya mengelupas.
“Saya tanya istri saya, ‘Ma, ini kenapa kulit si Raja (NS) seperti ini? Dan istri saya jawab ‘Si Raja lagi sakit panas. Kalau sakit panas katanya kulitnya suka begitu kayak kesiram air panas, melembung’,” jelas Awang Satibi.
Saat korban dibawa ke rumah sakit, pihak medis menyampaikan adanya dugaan tindak kekerasan. Dokter menegaskan bahwa luka bakar yang dialami Nizam tidak disebabkan oleh demam.
“Saya bawa ke rumah sakit terus datang dokter yang kontrol, perempuan dua orang. Di hadapan istri saya pun ada, dia menegaskan ‘Pak, Bu, kami ini medis. Sesakit apapun sakit panas tidak menimbulkan luka seperti ini. Ini ada indikasi sepertinya terjadi kekerasan,” terang ayah Nizam.
“Dokter yang laki-laki mengontrol anak saya, dan akhirnya saya dibawa ke ruangan pribadi. Dokter itu pun menegaskan ke saya, ‘Pak, kami tidak menuduh ya tapi kalau sakit panas seperti apapun tidak seperti ini. Kami medis pak, kami tahu ini luka bakar’,” sambungnya menjelaskan.
Di sisi lain, Nizam sempat ditanya oleh guru di pesantrennya mengenai waktu kepulangannya ke pondok. Awang kemudian menjelaskan bahwa kondisi anaknya tengah sakit.
Menyadari kondisi korban, ayah angkat Awang yang juga merupakan pemilik pesantren kemudian menyusul ke rumah sakit dan meminta penjelasan langsung dari Nizam terkait apa yang sebenarnya terjadi.
Disaat itu Nizam akhirnya mengaku bahwa dirinya dipaksa oleh ibu tirinya untuk meminum air panas.
“Ayah angkat saya datang ke rumah sakit melihat anak saya. Terus ayah saya nanya anak saya ini semua kenapa, intinya ditanya. Dan anak saya sempat menjawab dipaksa minum air panas,” katanya.
Sempat terjadi adu mulut antara Awang dan istrinya di rumah sakit. Situasi tersebut kemudian berhasil diredam setelah anggota kepolisian dari Polsek Jampang Kulon tiba di lokasi.
Atas dasar kecurigaan adanya tindak penganiayaan terhadap anaknya, Awang akhirnya memutuskan untuk meminta dilakukan autopsi.
“Diautopsi itu kemauan saya, kecurigaan ada tapi kita tidak bisa menuduh. Makanya saya mau melakukan autopsi biar jelas nanti hasilnya,” pungkasnya.
Berdasarkan hasil autopsi sementara yang dilakukan oleh tim dokter forensik RS Bhayangkara Setukpa Polri Sukabumi, korban diketahui mengalami luka bakar serta memar akibat benturan benda tumpul yang hampir merata di seluruh tubuh.
Luka-luka tersebut diperkirakan terjadi dalam rentang waktu yang tidak lama sebelum korban meninggal dunia.
Meski demikian, pihak rumah sakit masih menunggu hasil pemeriksaan lanjutan dari RS Bhayangkara Jakarta untuk memastikan adanya dugaan kelainan pada organ dalam korban.
(kmr)
Load more