Ketua BEM UGM Tantang Prabowo Debat Terbuka di Hadapan Mahasiswa: Mau Sampai Kapan Dibohongi Orang-orang Bapak
Jakarta, tvOnenews.com - Ketua BEM UGM (Universitas Gadjah Mada), Tiyo Ardianto, menantang Presiden Prabowo Subianto untuk hadir dalam forum debat terbuka di kampus.
Tantangan itu disampaikan saat Tiyo Ardianto menjadi narasumber dalam kanal YouTube Abraham Samad Speak Up.
Dalam pernyataannya, Tiyo Ardianto menilai kepala negara terlalu bergantung pada laporan dan data yang disampaikan pembantu-pembantunya tanpa membuka ruang uji publik secara langsung.
Ia menyebut mahasiswa perlu diberi kesempatan untuk menguji klaim pemerintah di ruang akademik yang terbuka.
Menurut Tiyo Ardianto, pertemuan tertutup tidak cukup untuk menjawab berbagai persoalan yang berkembang di masyarakat. Ia menegaskan lebih memilih dialog terbuka yang dapat disaksikan publik.
“Kalau Pak Presiden mau mendengar suara kami, silakan datang ke UGM. Kita siapkan medan terbuka untuk berdiskusi dengan mahasiswa. Silakan sampaikan apa pun yang bapak percaya tentang data bapak, maka mahasiswa akan mendebat itu,” ujarnya.
Latar Belakang Kritik Kebijakan
Sikap tersebut berawal dari kritik Ketua BEM UGM terhadap sejumlah kebijakan pemerintah, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Tiyo Ardianto sebelumnya mempertanyakan implementasi program tersebut yang dinilai belum sepenuhnya mencerminkan kondisi riil masyarakat.
Menurutnya, pendekatan berbasis angka dan laporan administratif tidak selalu menggambarkan situasi faktual di lapangan. Dalam pandangannya, realitas sosial perlu diverifikasi secara langsung dengan menemui warga yang terdampak kebijakan.
Tiyo Ardianto juga menyinggung narasi yang menyebut kondisi nasional dalam keadaan baik-baik saja. Ia menilai klaim tersebut perlu diuji melalui dialog terbuka yang memungkinkan perbedaan pandangan disampaikan secara langsung.
Pertanyaan Kritis kepada Presiden
Tiyo Ardianto melontarkan pertanyaan reflektif mengenai sejauh mana informasi yang diterima presiden benar-benar merepresentasikan keadaan masyarakat. Ia mempertanyakan ketergantungan kepala negara pada laporan internal tanpa verifikasi langsung.
“Maka sesungguhnya, bapak mau sampai kapan Bapak dibohongi oleh orang-orang bapak?” katanya.
Permintaan Maaf atas Diksi Kontroversial
Dalam kesempatan yang sama, Tiyo Ardianto juga menyampaikan permohonan maaf atas kegaduhan yang muncul akibat ucapannya yang menyebut presiden dengan istilah “bodoh”.
Load more