Bareskrim Polri Tetapkan 12 Tersangka Kasus TPPO Modus Jual Beli Bayi Lintas Provinsi, Terancam 15 Tahun Penjara
- Pexels
Jakarta, tvOnenews.com - Direktorat Tindak Pidana PPA-PPO Bareskrim Polri menetapkan 12 orang sebagai tersangka dalam kasus tindak pidana perdagangan orang (TPPO) modus jual beli bayi di beberapa wilayah Indonesia (lintas provinsi).
“Pada tanggal 3 Desember 2025 yang lalu penyidik berhasil sudah menetapkan 12 orang tersangka berikut barang bukti dan menyelamatkan 7 orang bayi yang menjadi korban,” kata Wakabareskrim Irjen Pol Nunung Syaifuddin di Bareskrim Polri, Rabu (25/2/2026).
Nunung mengatakan pengungkapan kasus ini merupakan hasil pengembangan dari perkara penculikan sebelumnya yang ada di Makassar.
“Kalau kita masih ingat waktu itu adalah bayi Bilqis ya. Nah, itu tidak cukup sampai di situ sehingga kita kembangkan oleh tim dan melalui Direktorat Tindak Pidana PPA-PPO. Kemudian berkolaborasi dengan Dirtipidum dan Densus 88 Antiteror. Kita berhasil mengungkap atau membongkar jaringan perdagangan bayi yang beroperasi lintas wilayah di Indonesia,” jelas Nunung.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Tindak Pidana Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) dan Pidana Perdagangan Orang (PPO) Bareskrim Polri Brigjen Nurul Azizah mengatakan bahwa tersangka terdiri dari kelompok perantara dan orang tua.
“Tersangka sebanyak 12 orang yang terdiri dari 8 orang dari kelompok perantara dan 4 orang dari kelompok orang tua,” ucap Nurul.
Nurul menyebutkan para tersangka memperjualbelikan bayi di wilayah Jakarta, Banten, Yogyakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Jambi, Bali, Kalimantan, Kepulauan Riau dan Papua.
Adapun tersangka yang berasal dari kelompok perantara, yaitu perempuan berinisial NH, LA, EMT, ZH, H, BSN dan F serta laki-laki berinisial S.
Sementara itu, tersangka dari kelompok orang tua, yaitu perempuan berinisial CPS dan DRH. Lalu, laki-laki berinisial RET yang merupakan pacar dari tersangka EP.
“Modus operandinya, yaitu dengan menggunakan media sosial dalam hal ini adalah TikTok, Facebook dan semacamnya. Jaringan ini telah melakukan aktivitas penjualan bayi secara ilegal sejak tahun 2024 dengan pendapatan ratusan juta rupiah,” tegas Nurul.
Atas peristiwa ini, pihaknya juga menyita barang bukti berupa 21 unit HP, 17 buah ATM, 74 dokumen dan 1 tas perlengkapan bayi.
Atas perbuatannya, tersangka dikenakan Pasal 76F juncto Pasal 83 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.
Pelanggar ini diancam hukuman 3 tahun sampai 15 tahun penjara dengan denda Rp60 juta sampai dengan Rp300 juta.
Kemudian Pasal 6 Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang.
Pasal yang dilanggar itu diancam dengan penjara paling singkat 3 tahun dan paling lama 15 tahun.
Adapun pidana dendanya paling sedikit Rp120 juta dan paling banyak adalah Rp600 juta.
Lalu Pasal 455 juncto Pasal 20 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang TPPO dalam negeri.
Pelanggaran ini bisa diancam pidana paling singkat 3 tahun dan paling lama 15 tahun. (ars/nsi)
Load more