Regulasi Pembatasan Kadar Tar dan Nikotin Bikin Petani Tembakau Menjerit, Produksi Terancam Turun
- Istimewa
Jakarta, tvOnenews.com - Sejumlah petani tembakau mengaku khawatir dengan adanya regulasi pembatasan kadar tar dan nikotin.
Kekhawatiran itu salah satunya disampaikan oleh Sekjen DPN Asosiasi Petani Tembakau Nasional Indonesia (APTI), Muhdi.
Dia menyebut pembatasan kadar tar dan nikotin akan berdampak terhadap menurunnya produksi dan serapan tembakau.
“Tantangan kami, petani tembakau adalah anomali iklim dan regulasi. Ini penyebab penurunan produksi dan turunnya serapan. Ini kegagalan yang sangat mengkhawatirkan bagi petani,” kata Muhdi kepada wartawan, Kamis (5/3/2026).
“Pembatasan kadar tar dan nikotin, 90 persen tembakau kita mau dikemanakan? Mana ada teknologi yang bisa secepat kilat mengubah kadar nikotin tembakau kita? Terus bagaimana dampaknya ke petani? 90 persen varietas tembakau lokal mati, kiamat bagi petaninya,“ katanya.
Muhdi menjelaskan bahwa tembakau adalah komoditas strategis yang nilai ekonomisnya sangat tinggi.
Dia mengungkap tembakau terbukti menghidupkan perputaran kebutuhan masyarakat di daerah seperti Madura, Temanggung, Lamongan, Jember dan lainnya.
“Pemerintah harus fair, padahal kita belum ratifikasi FCTC, tapi aturannya sangat menyakiti dan mematikan petani. Seperti memaksakan pembatasan kadar tar dan nikotin,” ujar Muhdi.
Menurut Muhdi, pemerintah seharusnya membantu petani tembakau memberdayakan teknologi dan budidaya dengan cara modern.
“Ini yang kiranya harus dibantu dan difokuskan pemerintah bukan dengan kami makin dihimpit dengan regulasi yang mematikan seperti pembatasan kadar tar dan nikotin,” tegasnya.
Di samping itu, Yudi Wahyudi selaku Ketua Kelompok Tanaman Semusim Kementerian Pertanian menyebut varietas tembakau lokal tidak ada yang kadar nikotinnya bawah 1 persen.
“Varietas tembakau kita, rata-rata kadar nikotinnya 3 persen - 8 persen. Bisa dilihat dari varietas tembakau menyebar mulai dari barat hingga timur,” ungkap Yudi.
Adapun varietas Kemloko di Temanggung memiliki kadar nikotin 3-8 persen. Lalu, varietas Mole di Jawa Barat memiliki kadar nikotin 1,3-8,36 persen. Sedangkan, tembakau Madura sebesar 1-4 persen.
“Sehingga dampak pembatasan tar dan nikotin akan sangat mengganggu. Pada akhirnya industri hasil tembakau tidak bisa menyerap produktivitas petani tembakau. Sementara ada jutaan rumah tangga yang bergantung pada komoditas tembakau,” tandas Yudi. (saa/iwh)
Load more