Jakarta Terasa Lebih Pengap dan Panas? BMKG Ungkap Penyebab Sebenarnya yang Sedang Terjadi
- ANTARA/Zaro Ezza Syachniar
Jakarta, tvOnenews.com - Beberapa hari terakhir, warga merasakan Jakarta terasa lebih pengap dan panas dibanding biasanya. Kondisi ini bahkan terasa sejak pagi hingga siang hari, membuat aktivitas di luar ruangan terasa jauh lebih melelahkan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) akhirnya memberikan penjelasan mengenai fenomena tersebut. Menurut BMKG, Jakarta terasa lebih pengap dan panas bukan semata-mata karena musim kemarau datang lebih awal, melainkan dipengaruhi oleh kombinasi sejumlah faktor atmosfer.
Penjelasan ini disampaikan oleh pejabat BMKG yang menilai kondisi cuaca saat ini merupakan fenomena yang wajar terjadi saat masa peralihan musim.
Sinar Matahari Lebih Kuat Tanpa Banyak Awan
Pelaksana Harian Direktur Meteorologi Publik BMKG Ida Pramuwardani menjelaskan, Jakarta terasa lebih pengap dan panas karena intensitas penyinaran matahari yang cukup kuat dalam beberapa hari terakhir.
Menurutnya, kondisi tersebut terjadi karena langit cenderung cerah dan tutupan awan tidak merata, sehingga sinar matahari langsung menyentuh permukaan bumi.
Akibatnya, panas terasa lebih menyengat terutama pada siang hari.
Ia menyebut fenomena ini sering terjadi ketika radiasi matahari tidak terhalang awan tebal.
“Udara yang terasa lebih panas belakangan ini dipengaruhi oleh penyinaran matahari yang cukup kuat dan tutupan awan yang tidak merata pada siang hari,” jelasnya.
Masa Peralihan Musim Bikin Cuaca Lebih Terik
BMKG juga menjelaskan bahwa Jakarta terasa lebih pengap dan panas karena saat ini Indonesia sedang memasuki masa peralihan musim atau pancaroba.
Pada masa ini, pola cuaca cenderung tidak stabil. Pagi hingga siang hari biasanya terasa sangat panas, sementara pada sore atau malam hari masih berpotensi terjadi hujan lokal.
Fenomena ini membuat perubahan suhu terasa cukup drastis dalam satu hari.
Cuaca yang terik di siang hari sering kali diikuti hujan singkat pada malam hari di beberapa wilayah.
Kondisi tersebut merupakan karakteristik umum dari masa peralihan musim di Indonesia.
Radiasi Matahari Lebih Terasa Setelah Hujan
Sementara itu, Sekretaris Utama BMKG Guswanto menjelaskan bahwa Jakarta terasa lebih pengap dan panas juga dipengaruhi oleh kondisi atmosfer setelah hujan lebat beberapa hari sebelumnya.
Setelah hujan reda, langit biasanya menjadi lebih cerah. Hal ini membuat radiasi matahari langsung mengenai permukaan bumi tanpa penghalang awan.
Akibatnya, panas terasa lebih kuat dibandingkan ketika langit tertutup awan.
“Langit cerah membuat sinar matahari langsung mengenai permukaan tanpa banyak penghalang awan, sehingga panas terasa lebih terik,” jelasnya.
Fenomena ini menjadi salah satu penyebab utama mengapa suhu terasa meningkat meski belum memasuki musim kemarau secara penuh.
Gerak Semu Matahari Juga Berpengaruh
Selain faktor cuaca dan atmosfer, BMKG juga menjelaskan bahwa Jakarta terasa lebih pengap dan panas dipengaruhi oleh fenomena astronomi yang disebut gerak semu matahari.
Gerak semu matahari adalah pergerakan posisi matahari dari selatan menuju utara khatulistiwa sepanjang tahun.
Saat posisi matahari bergerak ke arah utara, wilayah Indonesia bagian tengah dan selatan termasuk Jakarta akan menerima paparan sinar matahari yang lebih tegak pada siang hari.
Akibatnya, intensitas panas yang diterima permukaan bumi menjadi lebih besar.
Inilah yang membuat suhu terasa lebih tinggi meskipun musim kemarau belum benar-benar dimulai.
Musim Kemarau 2026 Diprediksi Datang Lebih Awal
BMKG juga memprediksi bahwa musim kemarau 2026 berpotensi datang lebih awal di sejumlah wilayah Indonesia.
Sebagian besar wilayah diperkirakan mulai memasuki musim kemarau pada periode berikut:
-
April 2026: sekitar 114 zona musim
-
Mei 2026: sekitar 184 zona musim
-
Juni 2026: sekitar 163 zona musim
Awal musim kemarau diperkirakan dimulai dari wilayah Nusa Tenggara, kemudian secara bertahap meluas ke wilayah Indonesia lainnya.
Beberapa wilayah di Pulau Jawa bahkan mulai menunjukkan tanda-tanda awal musim kemarau.
Meski demikian, BMKG menegaskan bahwa cuaca panas yang dirasakan warga Jakarta saat ini bukan sepenuhnya akibat musim kemarau.
Cuaca Cerah Masih Dominasi Jawa
Saat ini, pola cuaca di Pulau Jawa termasuk Jakarta didominasi kondisi cerah hingga berawan tebal.
Namun BMKG mengingatkan bahwa hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih berpotensi terjadi di sejumlah daerah.
Karena itu, masyarakat diminta tetap mewaspadai perubahan cuaca yang bisa terjadi secara tiba-tiba selama masa pancaroba.
Fenomena yang Wajar Terjadi
BMKG menegaskan bahwa kondisi Jakarta terasa lebih pengap dan panas merupakan fenomena yang wajar saat peralihan musim.
Kombinasi sinar matahari yang kuat, langit cerah, radiasi panas setelah hujan, serta posisi matahari yang berubah membuat suhu terasa lebih tinggi dari biasanya.
Masyarakat diimbau untuk menjaga kesehatan selama cuaca panas, seperti cukup minum air, menghindari aktivitas berat di bawah terik matahari, dan menggunakan pelindung ketika beraktivitas di luar ruangan.
Dengan kondisi atmosfer yang masih dinamis, cuaca panas di Jakarta diperkirakan masih dapat terjadi dalam beberapa waktu ke depan sebelum musim kemarau benar-benar tiba. (nsp)
Load more