AS Investigasi Perdagangan, Kadin Tetap Tenang: Ekspor Utama RI Aman, 1.819 Produk Bebas Tarif
- tvOnenews.com/Abdul Gani Siregar
Jakarta, tvOnenews.com - Di tengah investigasi perdagangan yang dilancarkan Amerika Serikat, dunia usaha Indonesia memilih bersikap tenang. Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Bakrie menegaskan bahwa komoditas ekspor utama Indonesia tidak masuk dalam sasaran investigasi tersebut.
Pernyataan itu disampaikan usai rapat koordinasi terbatas yang dipimpin Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia, Jakarta Pusat, Selasa (17/3/2026).
Anindya menyebut kondisi ini menjadi faktor yang menenangkan bagi pelaku usaha di tengah ketidakpastian global akibat investigasi yang dilakukan oleh United States Trade Representative (USTR).
“Tapi yang paling menenangkan adalah semua yang menjadi fokus ekspor Indonesia tidak dalam subjek investigasi. Apa itu? Alas kaki, tekstil, lalu juga furniture, elektronik, dan agriculture termasuk palm oil. Dan itu semuanya masuk yang ke 1.800 apa produk yang tidak diberikan tarif,” tuturnya.
Meski demikian, Kadin mengingatkan bahwa proses investigasi tetap harus dihadapi secara serius dan terukur. Pemerintah dan dunia usaha diminta memperkuat koordinasi untuk menjaga keberlanjutan industri nasional, terutama yang bergantung pada pasar ekspor.
“Jadi kita melihat dalam keadaan yang masih bisa tenang, tapi untuk investigasi ini mesti disiapkan baik dari pemerintah dan juga dunia usaha saling melakukan prosesnya dengan baik. Karena ini juga tetap kita mesti jaga demi kelangsungan apa industri kita,” jelas Anindya.
Sebagaimana diketahui, Indonesia telah mengamankan fasilitas tarif nol persen untuk 1.819 produk ekspor melalui skema Agreement on Reciprocal Trade (ART) dengan Amerika Serikat.
Fasilitas tersebut mencakup berbagai komoditas unggulan seperti minyak kelapa sawit, kopi, kakao, karet, hingga produk industri seperti elektronik, tekstil, dan komponen pesawat. Kebijakan ini dinilai memberikan dampak besar terhadap perekonomian nasional karena menopang jutaan tenaga kerja di sektor ekspor.
Di tengah dinamika hubungan dagang dengan AS, Anindya juga mengingatkan pentingnya memperluas dan memaksimalkan pasar ekspor lainnya. Ia menilai peluang dari kawasan lain seperti Uni Eropa dan negara mitra seperti Kanada perlu dimanfaatkan secara optimal.
“Dan yang terakhir juga kita mesti berpikir positif bahwa setelah kita melalui ini semua dengan Amerika, jangan lupa bahwa akses pasar yang telah dibuka baik Uni Eropa dan juga Kanada dan lain-lain ini juga mempunyai suatu permintaan produk yang sama. Jadi kita mesti apa juga berpikir untuk menjaga dan meningkatkan kapasitas pada saatnya,” ungkap dia.
Langkah diversifikasi pasar dinilai menjadi strategi penting untuk menjaga ketahanan ekspor nasional di tengah potensi tekanan dari kebijakan perdagangan global.
Investigasi yang dilakukan USTR sendiri mulai berjalan sejak 11 Maret 2026 sebagai bagian dari kebijakan perdagangan pemerintahan Presiden Donald Trump, menyusul perubahan kebijakan tarif setelah putusan Mahkamah Agung Amerika Serikat.
Di tengah situasi tersebut, pemerintah dan pelaku usaha sepakat untuk tetap menjaga stabilitas industri dalam negeri sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam peta perdagangan global.(agr/raa)
Load more