KPAI Desak Perlindungan Maksimal Anak Korban Peluru Nyasar di Gresik, Pendampingan Psikologis Harus Segera Diberikan
- ANTARA
Jakarta, tvOnenews.com - Kasus peluru nyasar yang melukai dua pelajar di Gresik, Jawa Timur, mendapat perhatian serius dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia. Lembaga tersebut menegaskan pentingnya perlindungan menyeluruh bagi korban, baik dari sisi hukum maupun pemulihan psikologis.
Anggota KPAI, Diyah Puspitarini, menyampaikan bahwa anak-anak yang menjadi korban harus mendapatkan pendampingan intensif sesuai amanat undang-undang.
Pendampingan Psikologis Jadi Prioritas
KPAI menekankan bahwa kasus ini tidak hanya soal penanganan medis, tetapi juga dampak trauma yang dialami korban. Oleh karena itu, pendampingan psikologis menjadi hal yang tidak bisa ditunda.
Mengacu pada Undang-Undang Perlindungan Anak, khususnya Pasal 59A, negara wajib memberikan perlindungan khusus kepada anak yang menjadi korban kekerasan atau peristiwa berbahaya.
“Proses hukum harus berjalan cepat, dan anak harus mendapatkan pendampingan psikologis serta perlindungan hukum,” tegas Diyah.
Langkah ini penting untuk memastikan kondisi mental korban tetap terjaga setelah mengalami kejadian yang berpotensi menimbulkan trauma jangka panjang.
KPAI Tindaklanjuti Aduan ke Kementerian Terkait
KPAI juga telah menerima laporan resmi terkait insiden peluru nyasar tersebut. Sebagai tindak lanjut, lembaga ini akan berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk Kementerian Pertahanan.
Langkah ini diambil untuk memastikan adanya evaluasi menyeluruh terhadap kejadian tersebut, termasuk aspek keamanan dan prosedur latihan yang berdekatan dengan area publik.
“Kami akan menyampaikan langsung kepada pihak terkait agar kasus ini mendapat perhatian serius,” ujar Diyah.
Kronologi Kejadian di Sekolah
Insiden ini terjadi saat para siswa tengah mengikuti kegiatan sosialisasi di sebuah SMP Negeri di Gresik pada Desember 2025.
Tanpa diduga, dua siswa berinisial DF (14) dan RO (15) terkena peluru nyasar yang diduga berasal dari aktivitas latihan menembak di lapangan milik TNI Angkatan Laut.
Lokasi lapangan tembak tersebut diketahui berjarak sekitar 2,3 kilometer dari sekolah tempat kejadian.
Kondisi Korban dan Penanganan Medis
Usai kejadian, kedua korban langsung dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan intensif.
Hasil pemeriksaan medis menunjukkan:
-
Peluru bersarang di tangan kiri DF
-
Peluru mengenai punggung kanan RO
-
DF mengalami patah tulang pada telapak tangan dan harus dipasang pen
Keduanya kemudian menjalani operasi besar untuk mengangkat peluru dari tubuh mereka.
Pentingnya Evaluasi Sistem Keamanan
Kasus ini menjadi sorotan karena terjadi di lingkungan pendidikan yang seharusnya menjadi tempat aman bagi anak-anak.
KPAI menilai perlu adanya evaluasi menyeluruh terhadap standar keamanan, terutama aktivitas yang berpotensi membahayakan masyarakat di sekitar area latihan militer.
Selain itu, perlindungan terhadap anak sebagai kelompok rentan harus menjadi prioritas dalam setiap kebijakan dan kegiatan yang berisiko tinggi.
Perlindungan Hukum bagi Korban
Selain pemulihan fisik dan psikologis, KPAI juga menegaskan pentingnya perlindungan hukum bagi korban.
Proses hukum yang transparan dan cepat diharapkan dapat memberikan keadilan bagi korban sekaligus menjadi pembelajaran agar kejadian serupa tidak terulang.
Pendampingan hukum juga diperlukan untuk memastikan hak-hak anak terpenuhi selama proses penanganan kasus berlangsung.
Perhatian Publik dan Tanggung Jawab Negara
Kasus peluru nyasar di Gresik ini memantik perhatian luas karena melibatkan anak-anak sebagai korban. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa keselamatan publik harus menjadi prioritas utama, terutama di sekitar fasilitas berisiko tinggi.
KPAI berharap seluruh pihak terkait dapat bergerak cepat, tidak hanya dalam penanganan kasus, tetapi juga dalam upaya pencegahan ke depan. (ant/nsp)
Load more