Gubernur Jabar Dedi Mulyadi Minta Anak Muda Jangan Paksakan Pesta Pernikahan, Siap-siap Diatur Surat Edaran
- Tangkapan layar YouTube Lembur Pakuan Channel
Bandung, tvOnenews.com - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi menyampaikan harapannya kepada anak muda di Jabar. Ia meminta satu hal terkait pernikahan generasi muda.
Dalam pidatonya di acara Dies Natalis Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati (SGD) atau UIN Bandung, Rabu (8/4/2026), Dedi Mulyadi mengajak agar anak muda tidak menggelar pesta pernikahan.
Dedi Mulyadi mempunyai alasan menyerukan hal ini. Jika kondisi ekonomi tidak memungkinkan atau tak mampu, sebaiknya tidak perlu memaksakan untuk menggelar hajatan.
KDM sapaan akrabnya, berpendapat gelaran pernikahan tidak harus mewah. Ia memahami hajat yang dirayakan secara besar-besaran merupakan salah satu puncak kebahagiaan.
"Sudahlah, anak-anak Gen Z ini, yang sekarang mau nikah, kalau orang tuanya tidak mampu, tidak perlu memaksakan hajatan. Saya menyarankan nggak usah," ujar Dedi Mulyadi dikutip, Jumat (8/4/2026).
Dedi Mulyadi Nilai Pesta Pernikahan Sering Membebani Orang Tua
- Tangkapan layar YouTube Lembur Pakuan Channel
Lebih lanjut, Dedi Mulyadi memberikan contoh anak muda yang menggelar pesta pernikahan besar-besaran. Dalam kondisi ekonomi kurang mampu, seringkali membebani orang tua.
Dalam pidatonya, KDM membeberkan pengalaman di mana dirinya saat menggelar pernikahan. Ia mengakui momen sakral ini tidak melibatkan orang tua.
Mantan Bupati Purwakarta ini lebih mengandalkan biaya sendiri. Ia sama sekali tidak menginginkan adanya bantuan biaya dari orang tua, apalagi dari pihak perempuan.
Ia justru mengutamakan konsep pernikahan yang sederhana. Menurutnya, langkah ini sangat efisien.
Pada saat itu, KDM melaksanakan proses akad nikah pada pagi hari. Di siang harinya, acara pernikahannya selesai.
Kemudian, KDM menggelar syukuran sederhana dengan hanya menyediakan hidangan khas Sunda. Hal itu terjadi di kediamannya di Purwakarta.
KDM mengakui dari gelaran sederhana ini tentu mendapat uang amplop. Alih-alih dipakai untuk hal konsumtif, ia justru menggunakan uang dari tamu undangan untuk modal usaha.
"Alhamdulillah, waktu itu saya besoknya beli motor buat modal dagang beras," katanya.
KDM Ungkap Manfaat Pernikahan Sederhana
- Freepik/bristekjegor
Mantan anggota DPR ini memberikan penilaian tentang manfaat pernikahan sederhana. Menurutnya, ada banyak keuntungan yang didapat ketimbang menggelar secara mewah.
Ia menjelaskan, keuntungan pertama dari sisi efisiensi biaya. Kemudian, pernikahan sederhana juga sangat mendukung untuk keberlanjutan ekonomi pasangan ke depannya.
Salah satu contoh pernikahan sederhana, kata KDM, bisa melakukan akad nikah di Kantor Urusan Agama (KUA). Menurutnya, cara ini sangat simpel tanpa menggelar pesta mewah.
"Pagi-pagi bisa langsung datang ke KUA untuk proses akad. Nanti sorenya sudah pulang. Nah, besoknya sudah dagang lagi," jelasnya.
Ia memberikan asumsinya. Pasangan muda yang mengutamakan pola pikir secara rasional sebagai tanda siap menghadapi dan memulai kehidupan di masa depannya.
Lanjut, KDM melihat perbandingan budaya dan fenomena sosial yang terjadi saat ini. Ia mengaitkan dengan budaya dari masyarakat Tiongkok.
Menurut dia, masyarakat Tiongkok mampu membentuk perencanaan ekonomi yang baik. Selain itu, mereka juga kerap mengutamakan pola hidup disiplin sebagai pemicu China menjadi negara yang kuat.
"China tidak akan ada seperti sekarang. Itu kalau tidak punya perilaku yang hebat seperti kebudayaan mereka," imbuhnya.
Praktik Pernikahan Transaksional
Dalam kesempatan itu, ia menyinggung fenomena pernikahan transaksional. Biasanya dikenal sebagai "pengantin pesanan" yang kerap kali menjerat anak muda dan warga Jabar.
Ia mengaku kerap kali menangani kasus pengantin pesanan. Jika di China, hal itu terjadi di mana perempuan lebih banyak memiliki daya tawar yang sangat mahal ketimbang pihak pria.
Dedi Mulyadi berpendapat salah satu pemicu jebakan menjerat masyarakat. Hal ini akibat adanya iming-iming uang besar.
"Rp500 juta itu tidak berarti di sana. Biaya hidup sangat mahal. Akibat mahal, yang menjadi korban adalah warga Jawa Barat," terangnya.
Ia pun menyoroti pola pikir yang salah dilakukan masyarakat. Kebanyakan sering mementingkan budaya gengsi yang sudah berakar.
Ia menyebut istilah ini "kajeun teuing tekor asal sor". Artinya, mereka lebih mengutamakan penampilan guna mempertahankan gengsi atau citra sosial ketimbang kerugian secara materi.
Menurutnya, gengsi sebagai jalan menuju kebangkrutan hanya perkara mempertahankan citra sosial demi menggelar pesta pernikahan secara sesaat.
"Tapi, tidak pernah ada orang yang bangkrut karena anaknya sekolah," ucapnya.
KDM pun membicarakan betapa pentingnya pendidikan. Aspek ini menjadi salah sastu upaya membentuk investasi jangka panjang.
Ia menekankan agar pendidikan anak selalu menjadi hal utama ketimbang pesta pernikahan. Hal ini tidak hanya berlaku di kalangan menengah ke bawah, tetapi juga kalangan ke atas.
"Orang tua seharusnya mementingkan anak-anaknya sekolah. Pendidikan sekolah itu tidak melihat kaya atau miskin, asal ada kemauan, pasti sekolah," tegasnya.
Keterbatasan ekonomi, menurut KDM, hal itu bukan menjadi penghalang tetap menempuh pendidikan sampai lulus dari perguruan tinggi.
Dalam hal ini, kecenderungan mempertahankan gaya hidup justru rentan menimbulkan masalah sosial. Hal itu akibat tidak mengutamakan kemampuan ekonomi.
"Gaya dibesarkan, tapi keinginannya tidak ada. Apa yang terjadi? Problematikan kriminal apa pun hari ini menimpa anak-anak kelas menengah ke bawah," jelasnya.
KDM Rencanakan Diatur Lewat Surat Edaran
Akibat banyak polemik yang sering terjadi, Dedi Mulyadi selaku Gubernur Jabar mewacanakan penerbitan surat edaran (SE) tentang pesta pernikahan. Tujuannya untuk lebih menekankan agar memanfaatkan gelaran yang sederhana.
Tak hanya itu, melalui rencana SE ini, anak muda juga meminimalisir risiko finansial hingga fokus pada pendidikan untuk menentukan kestabilan masa depan.
(hap)
Load more