Dedi Mulyadi Ungkap Alasannya Belum Mau Menikah Lagi, Ingin Temani Ni Hyang Sukma Ayu Sampai Tumbuh Dewasa
- Tangkapan layar
Jakarta, tvOnenews.com - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengungkapkan alasannya belum mau menikah lagi.
Alasannya belum mau menikah lagi diungkapkannya di acara hari ulang tahunnya yang ke-55 pada 11 April 2026 lalu di Lembur Pakuan.
Di hadapan para hadirin dan putri satu-satunya, yakni Ni Hyang Sukma Ayu, gubernur yang kerap disapa Kang Dedi Mulyadi atau KDM ini akhirnya menceritakan alasannya.
Di acara itu KDM sempat membahas tentang sisi maskulin dan feminin manusia. Menurut dia, laki-laki juga terkadang perlu sisi feminin itu saat berkaitan dengan cinta dan kasih sayang.
KDM pun mencontohkan dirinya sendiri. Dia mengatakan dirinya adalah duda atau single parent yang harus membesarkan anak-anaknya dengan cinta dan kasih sayang dari sisi maskulin dan feminin.
Dedi Mulyadi pun mengatakan dirinya tidak akan menikah lagi untuk sementara ini demi menjaga kasih sayangnya terhadap anak-anaknya terutama Ni Hyang Sukma Ayu—putri semata wayangnya yang masih kecil.
“Ada juga anak perempuan saya yang harus saya besarkan. Karena keegoan orang tuanya, saya memutuskan untuk menemaninya tanpa harus punya istri lagi sampai dia tumbuh dewasa,” katanya, dikutip Senin (13/4/2026), dilansir dari tayangan YouTube Kang Dedi Mulyadi Channel berjudul “Pesan KDM di Tengah Terangnya 55 Obor, Nyi Hyang Sungkem Tak Bergeming”.
Menurut dia, janji itu diucapkan dan akan dilakukannya untuk menebus kesalahan yang disebutnya sebagai karma.
Berbicara soal karma, Dedi Mulyadi mengatakan dirinya telah gagal membangun rumah tangga dua kali. Meski demikian, hal tersebut membuatnya tak ingin mengulangi kesalahan serupa.
“Saya dua kali ditinggalkan. Satu karena kematian dan satu karena perceraian. Karma ini membuat hidup saya terus tegak untuk membesarkan anak saya dengan cinta tanpa mengulangi kesalahan serupa,” ujarnya.
Selain berbicara soal anak, KDM juga berbicara soal sosok ibu di hari ulang tahunnya itu.
KDM mengatakan dirinya banyak belajar dari sosok sang ibu yang rela berkorban untuk 9 anaknya.
Padahal, saat itu sosok sang ibu tak paham aksara dan angka.
Berkaca dari hal itu, sebagai seorang pemimpin, dia harus memiliki jiwa seperti seorang ibu dimana seorang ibu rela berkorban terlebih dahulu demi anak-anaknya.
Begitu juga dengan pemimpin yang harus mementingkan rakyatnya terlebih dahulu.
"Saya belajar tentang makna dari laparnya seorang ibu. Laparnya seorang ibu ketika anak-anaknya makan, melahirkan generasi yang kokoh dari sisi raga dan jiwa," ucap KDM.
Tak lupa KDM juga berterima kasih kepada semua orang yang telah menemaninya selama ini dikala susah hingga senang. (nsi)
Load more