Eximbank Soroti Tekanan Margin di Tengah Gejolak Global, Waspadai Dampak Biaya Produksi Terguncang
- tvOnenews - Abdul Gani Siregar
Gresik, tvOnenews.com – Di tengah bayang-bayang konflik global yang belum mereda, kinerja pembiayaan ekspor Indonesia masih menunjukkan ketahanan. Indonesia Eximbank memastikan seluruh pipeline pembiayaan tetap berjalan stabil tanpa gangguan berarti.
Direktur Pelaksana Bisnis II Eximbank Sulaeman menyebut, aktivitas pembiayaan ekspor masih “ongoing” dan beroperasi normal meski tekanan global terus meningkat.
Namun, di balik stabilitas tersebut, sinyal peringatan mulai muncul dari sisi biaya produksi. Sektor manufaktur yang masih bergantung pada bahan baku impor disebut menjadi yang paling rentan terdampak.
“Yang harus dilihat ke depan adalah seberapa besar dampaknya terhadap margin masing-masing perusahaan. Ini yang sedang kami antisipasi melalui berbagai skenario, termasuk stress testing,” ujar Sulaeman di Gresik, Jawa Timur, Jumat (17/4/2026).
Lonjakan harga bahan baku, terutama plastik untuk kebutuhan kemasan, menjadi tekanan nyata yang mulai menggerus margin pelaku usaha. Jika konflik global berlangsung lebih lama, dampaknya berpotensi meluas hingga ke harga energi seperti minyak, yang turut mendorong kenaikan biaya produksi.
Meski demikian, Eximbank belum mengubah target bisnis tahun ini. Perseroan tetap mempertahankan proyeksi pertumbuhan portofolio sekitar 10 persen dari posisi tahun lalu yang mencapai Rp36 triliun.
Langkah antisipatif ditempuh melalui strategi seleksi sektor berbasis “industry guideline”. Fokus pembiayaan diarahkan pada sektor-sektor yang dinilai lebih tahan terhadap gejolak global.
Di sisi lain, pelemahan nilai tukar rupiah justru memberi keuntungan bagi sebagian eksportir. Namun, tekanan mulai terasa bagi pelaku usaha yang menyasar negara-negara terdampak konflik, termasuk munculnya pembatalan transaksi dari kawasan Timur Tengah.
Untuk meredam risiko tersebut, Eximbank mendorong pelaku usaha mempercepat diversifikasi pasar ekspor. Kawasan non-tradisional seperti Afrika dan Asia Selatan kini menjadi target ekspansi baru, melengkapi pasar utama seperti Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang.
“Diversifikasi ini penting agar eksportir tidak bergantung pada pasar tertentu, terutama yang rentan terhadap konflik,” katanya.
Di tengah ketidakpastian, peluang juga mulai terbaca. Eximbank melihat potensi lonjakan permintaan pada fase rekonstruksi pascakonflik, terutama untuk produk seperti material konstruksi yang dibutuhkan dalam pembangunan kembali wilayah terdampak.
Load more