Pengamat Soroti Soal Intelijen RI: Ego Sektoral Bikin Negara Rawan?
- Antara
Jakarta, tvOnenews.com - Ketegangan geopolitik global yang terus meningkat dinilai mulai berdampak langsung pada posisi Indonesia.
Hal ini disampaikan Pengamat Intelijen, Ridwan Habib, dalam seminar bertajuk “Tata Kelola Intelijen dalam Menghadapi Ketidakpastian Geopolitik dan Ancaman Asimetris” yang digelar di Gedung IASTH UI Salemba, Jakarta, Rabu (15/4/2026).
Dalam paparannya, Ridwan menegaskan bahwa situasi global saat ini semakin tidak menentu, dengan potensi konflik terbuka di berbagai kawasan. Ketegangan antara Iran dan Israel, serta manuver geopolitik China, disebut berpotensi membawa dampak langsung terhadap stabilitas Indonesia.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat posisi Indonesia menjadi semakin strategis, namun sekaligus rentan terhadap berbagai ancaman asimetris. Oleh karena itu, pembenahan serius dalam tata kelola intelijen nasional menjadi kebutuhan mendesak.
Ridwan secara khusus menyoroti lemahnya koordinasi antar lembaga intelijen di Indonesia. Meski secara regulasi Badan Intelijen Negara (BIN) berperan sebagai koordinator, praktik di lapangan dinilai masih diwarnai ego sektoral.
Ia mengungkapkan, dalam sejumlah kasus, beberapa lembaga justru melakukan operasi terhadap target yang sama secara terpisah. Hal ini dinilai tidak hanya tidak efisien, tetapi juga berpotensi membuang sumber daya.
“Kadang di lapangan targetnya sama, tapi yang operasi bisa empat sampai lima lembaga sekaligus. Misalnya BSSN, Bea Cukai, BAIS, BIN, hingga Baintelkam. Ini jelas pemborosan sumber daya,” ujarnya.
Selain itu, keterbatasan akses dan pertukaran informasi antar lembaga juga menjadi persoalan serius. Masing-masing institusi masih cenderung berjalan sendiri tanpa sistem berbagi data yang terintegrasi.
Sebagai solusi, Ridwan menekankan pentingnya penerapan joint intelligence untuk mengatasi ego sektoral dan perbedaan prioritas antar lembaga. Ia mendorong penguatan integrasi melalui forum bersama, sistem berbagi data, serta optimalisasi peran BIN sebagai koordinator utama intelijen nasional.
Menurutnya, tanpa langkah konkret tersebut, Indonesia berisiko menghadapi ancaman global dengan sistem intelijen yang belum sepenuhnya solid.
Load more