News Bola Daerah Sulawesi Sumatera Jabar Banten Jateng DI Yogya Jatim Bali

Anjlok ke Rp17.300 per Dolar AS, Forbes Sebut Rupiah Jadi Salah Satu Mata Uang Paling Lemah di Dunia

Berdasarkan data tersebut, rupiah ditempatkan di posisi kelima dengan kurs sekitar Rp17.066 per dolar AS.
Kamis, 23 April 2026 - 13:50 WIB
ilustrasi uang
Sumber :
  • unsplah.com/Mufid Majnun

Jakarta, tvOnenews.com - Forbes mencatat Rupiah sebagai salah satu mata uang terlemah di dunia pada April 2026. Data diambil dari Open Exchange. Peringkat ini berdasarkan nilai tukar terhadap Dolar AS, yaitu jumlah unit mata uang untuk setara 1 dolar AS. 

Berdasarkan data tersebut, rupiah ditempatkan di posisi kelima dengan kurs sekitar Rp17.066 per dolar AS. Rial Iran menempati posisi pertama sebagai mata uang terlemah dengan nilai sekitar 1.315.800 untuk 1 dolar AS.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Di bawahnya ada Lebanon dan Vietnam, masing-masing di kisaran 89.565,64 pound Lebanon dan 26.336,58 dong Vietnam per dolar AS.

Peringkat keempat ditempati Laos, dan Rupiah berada di urutan kelima. Posisi berikutnya diisi Uzbekistan, Guinean franc, Burundian franc, Malagasy ariary, dan Paraguayan guarani.

Dalam ulasannya, Forbes menyoroti tekanan terhadap rupiah meski Indonesia memiliki ekonomi terbesar di Asia Tenggara dan kaya sumber daya alam.

“Dalam hal PDB, negara ini (Indonesia) merupakan yang terbesar di Asia Tenggara terutama berkat sektor jasanya. Indonesia juga kaya akan komoditas, tetapi mata uang nasionalnya telah merosot dibandingkan dengan negara lain karena kombinasi inflasi tinggi dan kekhawatiran resesi,” tulis Forbes dalam laporannya pada 9 April 2026.

Namun, penilaian itu dipersoalkan sejumlah ekonom karena dinilai hanya menggunakan ukuran nominal kurs, bukan kekuatan fundamental suatu mata uang.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai pemeringkatan tersebut hanya benar jika dilihat dari denominasi terhadap dolar AS, tetapi tidak mencerminkan daya tahan ekonomi dan performa nilai tukar secara menyeluruh.

“Menurut saya, pernyataan Forbes itu benar hanya dalam arti yang sangat sempit, yaitu dari sisi nominal kurs per 1 dollar AS, bukan dari sisi kekuatan fundamental mata uang,” ujar Josua.

Ia menilai metode berbasis nominal membuat mata uang berdenominasi besar terlihat seolah-olah lemah, padahal belum tentu mencerminkan depresiasi atau kerentanan ekonomi.

“Jadi secara nominal rupiah termasuk mata uang berdenominasi besar, tetapi secara kinerja dan fundamental, kesimpulan Forbes sangat menyesatkan bila dibaca tanpa konteks,” tegasnya.

Josua menyoroti indikator yang lebih relevan untuk mengukur kekuatan rupiah adalah Real Effective Exchange Rate. Berdasarkan ukuran itu, menurut dia, rupiah masih berada di bawah level 100, yang mengindikasikan mata uang Indonesia cenderung undervalued dibandingkan tahun dasar 2020.

Ia memperkirakan kurs saat ini hanya sekitar 2 sampai 5 persen lebih lemah dibanding nilai fundamentalnya, sehingga masih memiliki peluang penguatan jika tekanan eksternal mereda.

Menurut dia, kondisi domestik juga masih relatif solid. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 tercatat 5,11 persen, sementara inflasi Maret 2026 berada di level 3,48 persen.

Cadangan devisa Indonesia juga disebut masih kuat di sekitar 148,2 miliar dolar AS, disertai realisasi investasi sepanjang 2025 yang melampaui target hingga Rp1.931,2 triliun.

Dari sektor keuangan, pertumbuhan kredit pada Februari 2026 mencapai 9,37 persen, sedangkan simpanan tumbuh 13,18 persen.

“Jadi, kalau membaca rupiah dari kacamata REER, pertumbuhan, cadangan devisa, investasi, dan ketahanan sistem keuangan, rupiah lebih tepat disebut sedang tertekan oleh sentimen global, bukan mata uang yang rusak secara fundamental,” ungkapnya.

Josua menilai tekanan terhadap rupiah lebih dominan dipicu faktor eksternal, termasuk ketegangan geopolitik, ketidakpastian perang dagang, arah kebijakan suku bunga global, dan perlambatan ekonomi China.

Faktor-faktor itu, kata dia, mendorong penguatan dolar AS sekaligus memicu arus keluar modal dari negara berkembang.

Ia mencatat cadangan devisa Indonesia memang mengalami penurunan pada Maret 2026, dipengaruhi pembayaran utang luar negeri, capital outflow, serta langkah stabilisasi Bank Indonesia.

Arus keluar portofolio asing pada Maret disebut mencapai sekitar 2,98 miliar dolar AS, sedangkan sepanjang kuartal I 2026 mencapai sekitar 1,78 miliar dolar AS.

Konflik di Timur Tengah juga dinilai memperbesar volatilitas pasar global dan ikut menekan mata uang emerging market.

“Jadi, level rupiah di atas Rp 17.000 sekarang lebih mencerminkan harga risiko global yang tinggi, mahalnya energi, dan permintaan dollar AS yang naik, bukan cerminan bahwa ekonomi Indonesia lemah,” kata Josua.

Meski begitu, ia melihat peluang penguatan rupiah masih terbuka jika tekanan global berkurang.

Menurutnya, ada sinyal yang mulai mendukung, termasuk pelemahan indeks dolar AS dalam beberapa pekan terakhir. Dollar Spot Index disebut turun 0,6 persen dan melemah lebih dari 2 persen dalam tiga minggu terakhir.

Harga minyak juga mengalami koreksi, dengan Brent crude turun sekitar 9,1 persen mendekati 90 dolar AS per barel, seiring indikasi meredanya tensi antara Amerika Serikat dan Iran.

Aktivitas pelayaran LNG di Strait of Hormuz yang mulai kembali normal juga dinilai memberi sinyal positif, meski risiko geopolitik belum sepenuhnya hilang.

“Jika tren ini berlanjut, maka tekanan dari sisi dolar, minyak, dan sentimen risiko bisa berkurang, sehingga rupiah punya ruang untuk kembali ke bawah Rp 17.000,” tuturnya.

Meski ada ruang penguatan, Josua mengingatkan ketidakpastian global masih tinggi sehingga pergerakan rupiah tetap sangat sensitif terhadap perkembangan eksternal. 

Sebelumnya,  nilai tukar Rupiah anjlok ke level Rp17.300 per dolar AS pada perdagangan Kamis (23/4/2026) pagi. Kondisi ini merupakan yang terburuk sepanjang sejarah. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Nilai rupiah melemah sekitar 0,74 persen dibanding posisi penutupan sehari sebelumnya di level Rp17.181 per dolar AS.

Tekanan terhadap rupiah juga terjadi di tengah mayoritas mata uang Asia yang bergerak di zona merah. Namun, depresiasi rupiah tercatat paling dalam dibanding mata uang regional lainnya. (nba)

Berita Terkait

Komentar

Topik Terkait

Saksikan Juga

Jangan Lewatkan

BI Bongkar Bank Kini Lebih Hati-Hati Salurkan Dana Kredit di Tengah Ketidakpastian Ekonomi Global

BI Bongkar Bank Kini Lebih Hati-Hati Salurkan Dana Kredit di Tengah Ketidakpastian Ekonomi Global

Bank Indonesia mengungkap adanya perubahan sikap industri perbankan yang kini cenderung lebih berhati-hati di tengah dinamika ekonomi global.
DPRD Jabar Dukung Dedi Mulyadi Evaluasi Kerja Sama Hotel Pullman Bandung dan Revitalisasi Gedung Sate-Gasibu

DPRD Jabar Dukung Dedi Mulyadi Evaluasi Kerja Sama Hotel Pullman Bandung dan Revitalisasi Gedung Sate-Gasibu

Komisi I DPRD Jabar dukung Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM) evaluasi kerja sama dengan Hotel Pullman, Kota Bandung hingga proyek Gedung Sate-Gasibu.
Dugaan Malpraktik di RS Muhammadiyah Medan, Komisi IX DPR: Pelanggaran Hak Pasien, Harus Diusut Pidana

Dugaan Malpraktik di RS Muhammadiyah Medan, Komisi IX DPR: Pelanggaran Hak Pasien, Harus Diusut Pidana

Dugaan malpraktik di Rumah Sakit Muhammadiyah Medan yang disebut-sebut mengangkat rahim pasien tanpa persetujuan memicu sorotan keras DPR RI.
Sisi Lain Jembatan Cangar: Mengenal Lebih Dekat Pesona Alam Ikonik Jawa Timur di Tengah Duka

Sisi Lain Jembatan Cangar: Mengenal Lebih Dekat Pesona Alam Ikonik Jawa Timur di Tengah Duka

Ditemukan jenazah pria diduga akibat bunuh diri di Jembatan Cangar, kini tempat ini kembali memakan korban. Ternyata lokasi ini menyimpan sisi lain yang indah
Meski Berhasil Menang di MotoGP Spanyol Musim Lalu, Alex Marquez Malah Sebut Kemenangan Beruntun di Jerez Tak Realistis

Meski Berhasil Menang di MotoGP Spanyol Musim Lalu, Alex Marquez Malah Sebut Kemenangan Beruntun di Jerez Tak Realistis

Alex Marquez meredam ekspektasi jelang MotoGP Spanyol 2026 yang akan berlangsung di Sirkuit Jerez sepanjang akhir pekan ini.
Ramalan Zodiak Karier 26 April 2026: Leo Bersinar, Pisces Harus Lebih Percaya Diri

Ramalan Zodiak Karier 26 April 2026: Leo Bersinar, Pisces Harus Lebih Percaya Diri

Ramalan Zodiak Karier 26 April 2026: Leo Bersinar, Pisces Harus Lebih Percaya Diri

Trending

Terpopuler Trend: Harta Kekayaan Dedi Mulyadi Bisa Berbagi Kepada Warga, hingga Permintaan KDM untuk Persib Bandung

Terpopuler Trend: Harta Kekayaan Dedi Mulyadi Bisa Berbagi Kepada Warga, hingga Permintaan KDM untuk Persib Bandung

Harta kekayaan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi suka berbagi kepada warga. Permintaan Kang Dedi Mulyadi (KDM) sebelum Gedung Sate jadi lokasi perayaan Persib
DKI Jakarta Sibuk Tangkap Ikan Sapu-sapu, Dedi Mulyadi: Selama Ini Sudah Diambil Warga Jabar

DKI Jakarta Sibuk Tangkap Ikan Sapu-sapu, Dedi Mulyadi: Selama Ini Sudah Diambil Warga Jabar

Gubernur Jawa Barat (Jabar), Dedi Mulyadi tak mau kalah dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta terkait kegiatan pembersihan ikan sapu-sapu.
Volimania Indonesia Ramai-ramai Beralih Dukung Hillstate Usai Red Sparks Tak Pilih Megawati Hangestri untuk Isi Kuota Asia

Volimania Indonesia Ramai-ramai Beralih Dukung Hillstate Usai Red Sparks Tak Pilih Megawati Hangestri untuk Isi Kuota Asia

Penggemar voli Indonesia ramai-ramai ajak alihkan dukungan ke Hillstate setelah Red Sparks tidak memilih Megawati Hangestri untuk isi kuota pemain Asia V-League
John Herdman Full Senyum dengan Kabar Marselino Ferdinan, Timnas Indonesia Dapat Untungnya

John Herdman Full Senyum dengan Kabar Marselino Ferdinan, Timnas Indonesia Dapat Untungnya

Kabar melegakan datang dari Slovakia untuk pecinta sepak bola tanah air. Gelandang andalan Timnas Indonesia Marselino Ferdinan akhirnya kembali mencicipi atmosf
FIFA Berencana Beri Lampu Hijau Kompetisi Domestik Digelar di Luar Negeri, Indonesia Berpotensi Jadi Tuan Rumah Laga Liga Inggris dan Serie A

FIFA Berencana Beri Lampu Hijau Kompetisi Domestik Digelar di Luar Negeri, Indonesia Berpotensi Jadi Tuan Rumah Laga Liga Inggris dan Serie A

FIFA siapkan aturan baru izinkan liga main satu laga di luar negeri per musim. Indonesia berpotensi hadirkan laga Liga Inggris hingga Serie A di Tanah Air.
Megawati Hangestri Batal Reuni dengan Yeum Hye-seon! Red Sparks Umumkan Pemain Kuota Asia untuk V League Musim Depan

Megawati Hangestri Batal Reuni dengan Yeum Hye-seon! Red Sparks Umumkan Pemain Kuota Asia untuk V League Musim Depan

Peluang Megawati Hangestri untuk reuni dengan Yeum Hye-seon di Red Sparks pada V League musim depan sudah tertutup.
Jay Idzes jadi Pengeluaran Terbesar Sassuolo, Klub Serie A Itu Laporkan Merugi 38,7 Juta Euro di 2025

Jay Idzes jadi Pengeluaran Terbesar Sassuolo, Klub Serie A Itu Laporkan Merugi 38,7 Juta Euro di 2025

Tersimpan kisah menarik mengenai keberanian I Neroverdi dalam berinvestasi di bursa transfer, terutama untuk mendatangkan bek andalan Timnas Indonesia Jay Idzes
Selengkapnya

Viral