Usulan Menteri PPPA soal Gerbong Perempuan di KRL Buat Psikolog Forensik Marah: Absurd, Keselamatan Bukan Soal Jenis Kelamin!
- YouTube
Jakarta, tvOnenews.com – Usulan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifatul Choiri Fauzi, di tengah tragedi tabrakan KRL dan KA Argo Bromo Anggrek menuai kritik tajam.
Pendekatan berbasis gender dalam konteks kecelakaan dinilai tidak relevan dan justru menyesatkan.
Psikolog Forensik, Reza Indragiri, menyebut gagasan tersebut sebagai sesuatu yang tidak tepat di tengah situasi darurat keselamatan.
“Betapa absurdnya usulan Menteri PPPA ini!! Dalam situasi kecelakaan seberat ini, penanganan tidak sepatutnya didasarkan pada jenis kelamin penumpang,” tegas Reza, Selasa (28/4/2026).
Ia menilai, keselamatan dalam kecelakaan kereta tidak bisa dipilah berdasarkan laki-laki atau perempuan, karena seluruh penumpang menghadapi risiko yang sama.
“Seolah Menteri ingin mengatakan, ketika terjadi tabrakan kereta, jumlah korban perempuan harus dikurangi dan penumpang lelaki juga patut menjadi korban dengan jumlah yang setara,” lanjutnya.
Reza menegaskan, dalam kondisi benturan fatal, setiap nyawa berada pada tingkat risiko yang sama, terlepas dari jenis kelamin.
“Ketika terjadi benturan fatal yang bisa memakan korban jiwa, lelaki dan perempuan sama-sama memiliki cuma satu nyawa,” ujarnya.
Meski demikian, ia tetap mengakui pentingnya perlindungan terhadap perempuan di transportasi publik. Termasuk langkah Commuter Line menyediakan gerbong khusus wanita untuk menekan risiko pelecehan.
“Saya berempati terhadap penumpang perempuan yang berulang menjadi korban pelecehan seksual,” katanya.
Namun, menurutnya, konteks kecelakaan berbeda dengan isu keamanan berbasis gender.
“Menjadi penumpang di kereta yang dihantam rangkaian lain, akan menghadap-hadapkan mereka pada risiko maut yang sama,” tegasnya.
Ia juga menyoroti bahwa posisi di dalam rangkaian kereta, bukan jenis kelamin yang lebih menentukan tingkat risiko saat kecelakaan terjadi.
“Penumpang lelaki yang berada di kereta paling depan dan paling belakang berhadapan dengan kekritisan yang sama dengan penumpang perempuan di posisi kereta yang sama. Jenis kelamin bukan unsur yang relevan,” jelas Reza.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa keselamatan adalah hak seluruh penumpang tanpa pengecualian.
“Keamanan sebagai penumpang kereta adalah hak semua orang, apa pun jenis kelaminnya,” ujarnya.
Reza juga melontarkan kritik langsung kepada Menteri PPPA agar lebih memahami kondisi di lapangan sebelum melontarkan solusi.
“Sesering apa Bu Menteri berkeliling memakai KRL? Mencari solusi harus dimulai dari kejernihan berpikir, Bu Menteri !!!” pungkasnya.
Seperti diketahui, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi mengusulkan gerbong KRL wanita ditempatkan di tengah rangkaian.
Usulan itu buntut tabrakan maut kereta api (KA) Argo Bromo dengan KRL di Stasiun Bekasi Timur.
"Tapi dengan peristiwa ini, kita mengusulkan kalau bisa yang perempuan itu ditaruh di tengah," ujar Arifah kepada wartawan setelah menjenguk korban di RSUD Bekasi, Selasa (28/4/2026).
Arifah telah berkoordinasi dengan pihak KAI sekaligus menanyakan gerbong khusus wanita.
Dia juga mendapat penjelasan KAI terkait posisi gerbong wanita di posisi depan atau belakang.
Tadi kalau tadi kita ngobrol dengan KAI itu kenapa ditaruh di paling depan, paling belakang, supaya tidak terjadi rebutan," ucapnya.
Namun, menurut Arifah, imbas kecelakaan ini, dia ingin ada perubahan. Dia meminta gerbong yang ujung diisi gerbong pria.
"Jadi yang laki-laki di ujung. Depan belakang itu laki-laki, jadi yang perempuan di tengah gitu," kata dia.
Dalam kecelakaan maut ini, KA Argo Bromo menabrak bagian belakang KRL yang sedang berhenti di Stasiun Bekasi. Korban seluruhnya perempuan yang berada di gerbong wanita.
"100 persen yang kita evakuasi (korban) perempuan," kata Kabasarnas Mayjen M Syafii kepada wartawan di lokasi, Selasa (28/4/2026).
Dia menjelaskan bahwa proses evakuasi selesai pada pukul 08.00 WIB tadi. Seluruh tim SAR juga telah dipulangkan.
"Alhamdulillah atas kerja sama semua unsur, operasi SAR bisa kita laksanakan sesuai dengan yang kita harapkan, dan tadi pagi dengan pukul 08.00 sudah selesai. Seluruh tim SAR kita nyatakan, kita kembalikan ke home base masing-masing," ujarnya.
(rpi/ree)
Load more