Empat WNI Disandera Perompak Somalia, Diplomasi Diam-Diam Dikedepankan Demi Keselamatan ABK
- tvOnenews.com/Abdul Gani Siregar
Jakarta, tvOnenews.com - Upaya penyelamatan empat warga negara Indonesia (WNI) yang menjadi korban pembajakan kapal tanker di perairan Somalia kini memasuki fase krusial.
Pemerintah melalui Kementerian Luar Negeri memilih strategi senyap dengan koordinasi intensif lintas pihak demi memastikan keselamatan para awak kapal yang disandera kelompok bersenjata.
Direktur Perlindungan WNI Kementerian Luar Negeri RI Heni Hamidah menegaskan, bahwa langkah cepat langsung dilakukan sejak laporan pembajakan Kapal MT Honour 25 mencuat.
Insiden itu terjadi di sekitar perairan Hafun, Somalia, pada 22 April 2026 dan melibatkan total 17 kru dari berbagai negara, termasuk empat WNI.
“Kementerian Luar Negeri melalui KBRI Nairobi terus melakukan koordinasi intensif dengan seluruh pihak terkait di Somalia menindaklanjuti laporan pembajakan Kapal MT Honour 25 yang terjadi di perairan sekitar Hafun, Somalia pada tanggal 22 April 2026,” ujar Heni, saat dihubungi tvOnenews.com, Selasa (28/4/2026).
Ia mengungkapkan, fokus utama pemerintah saat ini adalah memastikan proses penanganan berjalan hati-hati tanpa memicu eskalasi yang dapat membahayakan nyawa para sandera.
Pendekatan yang digunakan melibatkan otoritas lokal, tokoh masyarakat, hingga pelaku usaha yang memiliki keterkaitan langsung dengan kapal tersebut.
“Upaya saat ini difokuskan pada tindak lanjut penanganan yang melibatkan otoritas pemerintah setempat, tokoh masyarakat, serta pelaku usaha yang terkait,” lanjutnya.
Kapal tanker MT Honour 25 sendiri diketahui mengangkut sekitar 18.500 barel minyak dan disergap oleh enam orang bersenjata saat berada sekitar 30 mil laut dari pantai Somalia. Berdasarkan informasi terakhir, kapal masih berada dalam kendali perompak dan bergerak di wilayah perairan timur laut Somalia.
Di tengah meningkatnya kembali aktivitas pembajakan di kawasan tersebut—setelah sempat mereda sejak 2011—pemerintah Indonesia memilih jalur diplomasi tertutup sebagai langkah strategis. Hal ini dilakukan untuk menghindari lonjakan tuntutan tebusan sekaligus menjaga keselamatan seluruh kru.
“KBRI Nairobi akan terus memantau perkembangan situasi secara seksama melalui koordinasi intensif dan terukur dengan seluruh pihak terkait, guna memastikan proses penanganan berjalan optimal dengan tetap mengedepankan keselamatan para ABK WNI,” tegas Heni.
Empat WNI yang menjadi korban dalam insiden ini diketahui memiliki peran vital di atas kapal, mulai dari kapten hingga teknisi mesin. Kondisi mereka hingga kini belum dapat dipastikan secara terbuka, seiring strategi penanganan yang dilakukan secara tertutup. (agr/rpi)
Load more