IHSG Dibuka Menguat Dibayangi Koreksi, Bursa Asia Menguat Sementara Wall Street Masih Lesu
- Antara
Jakarta, tvOnenews.com - IHSG dibuka menguat 2 poin atau 0,03 persen di level 7.103 pada pembukaan perdagangan Kamis, 30 April 2026.
Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman memprediksi, IHSG berpotensi terkoreksi kembali pada perdagangan hari ini.
"IHSG berpotensi terkoreksi kembali hari ini," kata Fanny dalam riset hariannya, Kamis, 30 April 2026.
Dia mengatakan, Bursa Asia bervariasi dengan mayoritas naik pada perdagangan Rabu kemarin. Indeks Hang Seng Hong Kong melesat 1,68 persen, Taiex Taiwan turun 0,55 persen, CSI 300 China menguat 1,06 persen.
Sementara Kospi Korea Selatan naik 0,75 persen, dan ASX 200 Australia melemah 0,27 persem. Kemudian, Straits Times turun 0,55 persen dan FTSE Malaysia berkurang 0,53 persen.
Di sisi lain, bursa saham Jepang libur Hari Showa. Di Australia, Indeks Harga Konsumen (IHK) bulan Maret 2026 naik 4,6 persen (yoy) dibandingkan dengan kenaikan 3,7 persen pada bulan sebelumnya, atau ekspektasi tumbuh 4,7 persen sebagaimana data terbaru yang diterbitkan oleh Australian Bureau of Statistics (ABS).
Selain itu, pasar mencermati rilis laporan keuangan perusahaan teknologi raksasa. Sementara investor menanti petunjuk dari The Fed mengenai arah suku bunga. Sementra itu, Presiden AS, Donald Trump mengatakan, Iran telah meminta AS untuk mencabut blokade angkatan laut di Selat Hormuz.
"Support IHSG berada di level 6.900-7.000 sementara resist IHSG di rentang 7.150-7.200," ujarnya.
Sebagai informasi, indeks-indeks saham Wall Street mayoritas ditutup turun pada perdagangan Rabu kemarin. Tekanan utama datang dari kenaikan harga minyak dunia, serta sikap The Fed yang kembali menahan suku bunga di tengah kekhawatiran inflasi yang belum mereda.
Indeks Dow Jones Industrial Average melemah 0,57 persen, S&P 500 turun tipis 0,04 persen, dan Nasdaq Composite naik tipis 0,04 persen. Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) melonjak 7,17 persen (US$107,16/bbl), sementara Brent naik 6,78 persen (US$118,80/bbl).
Kenaikan disebabkan laporan bahwa AS memperluas blokade terhadap pelabuhan Iran, serta penolakan Presiden Donald Trump terhadap proposal Iran terkait pembukaan kembali Selat Hormuz hingga tercapainya kesepakatan program nuklir.
Mohammad Yudha Prasetya
Load more