Sektor Manufaktur Jadi Benteng Pertahanan Ekonomi Indonesia di Tengah Tekanan Global
- Istimewa
Jakarta, tvOnenews.com - Pemerintah mempercepat langkah penyelamatan ekonomi nasional di tengah badai ketidakpastian global yang kian tak terprediksi.
Eskalasi konflik geopolitik hingga disrupsi rantai pasok dunia kini menjadi ancaman nyata bagi stabilitas industri dan daya tahan ekonomi Indonesia.
Di tengah tekanan tersebut, sektor industri pengolahan—khususnya manufaktur—diposisikan sebagai benteng utama pertumbuhan.
Kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), penciptaan lapangan kerja, hingga ekspor nasional menjadikan sektor ini krusial dalam menjaga denyut ekonomi tetap hidup.
Data menunjukkan sinyal positif pada 2025, industri pengolahan tumbuh 5,30 persen, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,11 persen.
Namun, capaian ini tidak membuat pemerintah lengah menghadapi ancaman global yang terus membayangi.
“Dinamika global ini yang namanya ketidakpastian itu luar biasa, apalagi dengan berbagai konflik yang terjadi. Kita harus antisipasi karena dampaknya bisa berlangsung beberapa bulan ke depan dan memengaruhi berbagai sektor ekonomi,” ungkap Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso, saat dihubungi, Minggu (3/5/2026).
Tekanan terbesar dirasakan sektor manufaktur yang sangat bergantung pada kelancaran rantai pasok global.
Gangguan distribusi bahan baku, lonjakan harga input produksi, hingga hambatan logistik menjadi risiko yang dapat menekan produksi dan distribusi industri secara signifikan.
Merespons situasi ini, Presiden Prabowo Subianto mengeluarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 4 Tahun 2026 tentang pembentukan Satuan Tugas Percepatan Program Pemerintah.
Satgas ini dirancang untuk memangkas hambatan birokrasi sekaligus mempercepat realisasi program strategis yang berkaitan langsung dengan dunia usaha dan investasi.
“Intinya ini percepatan program untuk dorong ekonomi, tapi sangat efektif, karena selain bicara di level policy, kita juga pegang kepentingan ekonomi. Dengan koordinasi yang intensif, diharapkan ini bisa menjadi solusi saat para investor dan pelaku industri menghadapi berbagai kerumitan, sehingga ada kepastian dan harapan untuk penyelesaiannya,” jelas Susiwijono.
Selain pembentukan satgas, pemerintah juga menggulirkan langkah mitigasi konkret, mulai dari kemudahan akses bahan baku hingga penyesuaian kebijakan impor guna menjaga kesinambungan produksi industri.
Monitoring ketat terhadap sektor-sektor terdampak juga terus dilakukan agar respons kebijakan bisa cepat dan tepat sasaran.
Load more