Geram Puluhan Tahun Warga Maluku Utara Sengsara, Sherly Tjoanda: Jalanan Rusak, Konektivitas Penting
- Kolase tvOnenews.com/Instagram t_jo/Gemini AI
Jakarta, tvOnenews.com- Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda turut menyoroti perkembangan infrastruktur di Malut. Ia pun merasa geram karena belum bisa membantu masyarakat.
Rasa geram tersebut diungkapkannya karena sebagai kepeduliannya terhadap warga Maluku Utara. Sherly Tjoanda menilai belum ada konektivitas secara menyeluruh.
Menurut wanita bernama lengkap Sherly Tjoanda Laos itu kemiskinan yang dialami petani dan nelayan di Maluku Utara bukanlah takdir.
- Kolase
Namun, katanya melainkan salah satu faktornya, akibat dari akses jalan dan jembatan yang belum terkoneksi selama puluhan tahun.
Sherly pun langsung menyoroti nasib 80 persen warga Malut yang bergantung pada hasil bumi dan laut.
"Pertumbuhan ekonomi kita tertinggi di Indonesia, tapi masyarakat bertanya, 'Di mana uangnya?' Mereka tidak merasakannya karena jalan rusak berat," katanya, dalam laman Malutprov, Minggu (10/5).
"Petani kita punya hasil kebun, nelayan punya banyak ikan, tapi mereka tetap miskin karena tidak bisa membawanya ke pasar. Satu-satunya kunci adalah konektivitas," tegas Sherly.
Lebih lanjut, kata Gubernur Malut tersebut, membuka Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) RKPD 2027 di Gamalama Ballrom Bella Hotel Ternate, Kamis (7/5). Di hadapan pejabat Kementerian/Lembaga dan 10 Kepala Daerah ia menegaskan paham ada keterbatasan anggaran.
Lalu Gubernur mengambil kebijakan berani dengan memprioritaskan fungsi daripada kemewahan. Seperti dari 1.900 km jalan rusak berat di Malut, Pemerintah Provinsi akan fokus pada pengaspalan model Lapen (Lapisan Penetrasi).
- Kolase tvOnenews.com/Instagram t_jo/Gemini AI
Disampaikan secaea secara logika anggaran, 1 km jalan Hotmix memakan biaya Rp8 miliar, sementara dengan dana yang sama, pemerintah bisa membangun 4 km jalan Lapen.
Target Utama adalah menghubungkan desa-desa terisolasi ke pusat pasar agar ekonomi rakyat bergerak. Selain itu, pemprov juga menggunakan skema "Kontrak Payung" yang pertama di Indonesia, menghemat biaya hingga 30 persen.
Selain jalan, Gubernur menjelaskan juga kegelisahannya terkait pendidikan. Sherly Tjoanda tidak ingin lagi mendengar anak-anak di kepulauan berhenti sekolah hanya karena tidak ada akses atau biaya komite.
"Tahun 2025 kita gratiskan uang komite, dan hasilnya 10 ribu anak kembali bersekolah. Tahun 2026, kita luncurkan Sekolah Jarak Jauh untuk wilayah Morotai, Halut, dan Haltim. Tidak ada alasan lagi anak Malut tidak punya ijazah SMA hanya karena tinggal di pulau terpencil," pesannya.
"Kita menjadi pemimpin mungkin hanya sekali, biarlah yang sedikit itu bermanfaat bagi banyak orang. Mari berhenti copy-paste program, mari mulai bekerja dengan data dan hati," tgas tegas Gubernur Malut, Sherly Tjoanda.
Sebagai tambahan informasi, di sisi lain, dalam menyambut Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Adha, Sherly telah menyiapkan beberapa langkah taktis:
- Pertama ada gerakan pangan murah (GPM) akan dilaksanakan secara rutin di 10 Kabupaten/Kota untuk komoditas beras, bawang, cabai, dan tomat.
- Kedua ada distribusi Hewan Kurban, Pemprov Malut telah menganggarkan 100 ekor sapi untuk didistribusikan secara proporsional ke seluruh Kabupaten atau kota.
- Ketiga ada peningkatan Produksi Pertanian, melalui bantuan Kementerian Pertanian, Maluku mendapatkan kuota cetak sawah baru seluas 10.000 hektar dan aktivasi kembali sawah seluas 4.600 hektar di Halmahera Utara dan Halmahera Timur.
- Terakhir ada infrastruktur logistik, Bulog sudah mengalokasikan anggaran untuk pembangunan 6 titik gudang baru di Maluku Utara guna memperkuat stok logistik daerah.(klw)
Load more