BMKG Ungkap Cuaca Ekstrem Saat Pancaroba, Bibit Siklon Tropis 96W Muncul di Utara Papua
- Antara
BMKG menyebut kondisi ini dipicu aktifnya berbagai fenomena atmosfer, mulai dari Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Rossby Ekuatorial, Gelombang Kelvin, hingga Mixed Rossby-Gravity (MRG).
Aktivitas atmosfer tersebut meningkatkan pertumbuhan awan hujan hampir di sebagian besar wilayah Indonesia.
Bibit Siklon Tropis 96W Muncul di Utara Papua
Di tengah dinamika cuaca pancaroba, BMKG melalui Tropical Cyclone Warning Center (TCWC) Jakarta juga mendeteksi kemunculan Bibit Siklon Tropis 96W di wilayah utara Papua pada Selasa (12/5/2026).
Bibit siklon tersebut terpantau mulai terbentuk sejak pukul 01.00 WIB di Samudra Pasifik utara Papua.
Dalam keterangannya melalui akun resmi @infobmkg, BMKG menyatakan Bibit Siklon Tropis 96W masih memiliki peluang rendah untuk berkembang menjadi siklon tropis dalam 24 jam ke depan.
“Bibit Siklon Tropis 96W memiliki peluang rendah untuk menjadi siklon tropis dalam periode 24 jam ke depan,” tulis BMKG.
Sistem tersebut saat ini bergerak ke arah barat laut dan menjauhi wilayah daratan Indonesia. Meski demikian, keberadaannya tetap memberikan dampak tidak langsung terhadap kondisi cuaca dan gelombang laut di kawasan timur Indonesia.
Gelombang Tinggi Ancam Perairan Indonesia Timur
BMKG turut mengeluarkan peringatan dini terkait potensi peningkatan tinggi gelombang akibat aktivitas Bibit Siklon Tropis 96W.
Fenomena ini diperkirakan berlangsung hingga Rabu (13/5/2026) pukul 07.00 WIB.
Wilayah yang berpotensi mengalami gelombang laut kategori Moderate Sea dengan ketinggian 1,25 hingga 2,5 meter meliputi:
-
Laut Maluku bagian utara
-
Samudra Pasifik utara Maluku hingga Papua
BMKG meminta masyarakat, khususnya nelayan dan operator transportasi laut, untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi cuaca laut yang dinamis.
Keselamatan pelayaran diminta menjadi prioritas utama selama potensi gelombang tinggi masih berlangsung.
BMKG Prediksi Dinamika Atmosfer Masih Aktif Sepekan ke Depan
Memasuki pertengahan Mei 2026, BMKG memprediksi Monsun Australia mulai menguat. Kondisi ini menjadi salah satu tanda awal masuknya musim kemarau di Indonesia karena membawa massa udara lebih kering.
Namun BMKG menegaskan penguatan monsun tersebut diperkirakan tidak berlangsung stabil. Pelemahan tajam berpotensi kembali meningkatkan kandungan uap air di wilayah selatan Indonesia.
Load more