Kepala Sekolah Berkomentar Menohok soal Lomba Cerdas Cermat MPR: SMAN 1 Sambas Terpojok
- YouTube/MPRGOID
Jakarta, tvOnenews.com - Kepala Sekolah SMAN 1 Sambas, Syafaruddin lontarkan komentar menohok terkait Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar tingkat Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar).
Seperti diketahui, lomba cerdas cermat MPR ini viral karena diduga jurinya tidak adil dan MPR bakal mengulang final lomba tersebut.
Sontak, insiden ini menyedot perhatian publik, hingga menuai komentar dari berbagai kalangan.
Bahkan baru-baru ini, Kepala Sekolah SMAN 1 Sambas, Syafaruddin angkat bicara. Kata dia, pihaknya menghormati segala keputusan dari MPR pasca polemik terjadi.
- YouTube/MPRGOID
Kendati demikian, Syafaruddin mengatakan bahwa pihak penyelenggara dinilai abai untuk meluruskan terkait segala tuduhan yang ditujukan kepada SMAN 1 Sambas.
Sebagai informasi, SMAN 1 Sambas ditetapkan sebagai juara dan berhak untuk mewakili Kalbar dalam perlombaan tingkat nasional.
"Mengapresiasi usaha MPR RI sebagai penyelenggara untuk mengatasi polemik yang muncul pada kegiatan LCC 4 Pilar MPR RI 2026. Namun menyayangkan abainya penyelenggara dalam meluruskan informasi terkait polemik ini sehingga SMAN 1 Sambas terus menerus terpojok," ucap Syafaruddin dikutip dari akun Instagram SMAN 1 Sambas, Sabtu (16/5/2026).
Namun, meski menghormati, Syafaruddin menegaskan pihaknya menolak untuk ikut dalam tanding ulang seperti apa yang menjadi keputusan resmi dari MPR.
"SMAN 1 Sambas menolak pertandingan final ulang tingkat Provinsi Kalimantan Barat," jelasnya.
Bahkan, ia membantah terkait tuduhan bahwa predikat juara yang disandang SMAN 1 Sambas buntut adanya kecurngan, penyuapan, hingga settingan.
Dia menegaskan pihaknya telah mengikuti segala aturan yang telah ditetapkan pihak penyelenggara selama kompetisi digelar.
"Meyakini bahwa peseta LCC 4 Pilar dari SMAN 1 Sambas telah berkompetisi sesuai tata tertib yang telah ditetapkan panitian dan disepakati seluruh peserta lomba," katanya.
Selain itu, Syafaruddin mengeklaim adanya tuduhan hingga narasi tidak benar yang tidak hanya ditujukan kepada SMAN 1 Sambas sebagai institusi pendidikan tetapi juga individu di dalamnya seperti guru, staf, hingga alumni.
Dia menyebut pihak-pihak yang dimaksud tersebut mengalami tekanan psikologis.
"Mengecam munculnya berbagai bentuk opini, narasi, tuduhan, maupun tindakan di media sosial yang menyerang sekolah, dewan guru beserta TU, murid, dan bahkan ke alumni."
Load more