Janji Manis Purbaya di Tengah Pelemahan Rupiah: 6 Bulan dari Sekarang, Orang Susah Akan Berkurang
- tvOnenews/Abdul Gani Siregar
Jakarta, tvOnenews.com - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa meyakini kondisi ekonomi Indonesia akan menunjukkan perbaikan dalam enam bulan mendatang di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan pasar saham.
Ia menilai upaya pemerintah dalam memperkuat pertumbuhan ekonomi mulai mengarah pada hasil yang lebih nyata, terutama melalui penguatan aktivitas domestik dan peran sektor swasta sebagai motor penggerak ekonomi nasional.
Purbaya mengatakan jumlah masyarakat yang menghadapi tekanan ekonomi diyakini akan terus menurun dalam beberapa bulan ke depan.
“Saya pikir enam bulan dari sekarang akan semakin kelihatan bahwa orang-orang yang tadinya susah tuh akan semakin berkurang dan semakin berkurang lagi,” ujar Purbaya dalam Jogja Financial Festival 2026, dikutip Sabtu (23/5/2026).
Menurut dia, percepatan pertumbuhan ekonomi nantinya akan ikut mendorong peningkatan konsumsi masyarakat dan memperkuat aktivitas usaha di berbagai sektor.
Purbaya juga menyoroti kekhawatiran publik terhadap nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat bergerak fluktuatif. Ia menegaskan kondisi tersebut tidak bisa dijadikan satu-satunya ukuran kesehatan ekonomi nasional.
Ia menjelaskan pasar keuangan sangat dipengaruhi faktor psikologis dan ekspektasi investor terhadap kondisi ekonomi di masa depan.
“Jadi rupiah dan IHSG beda dengan fondasi ekonomi. Kadang-kadang karena di situ ada ekspektasi juga ke depan seperti apa. Nilai tukar rupiah dipenuhi ekspektasi, nilai pasar saham juga dipenuhi ekspektasi,” kata dia.
Lebih lanjut, Purbaya menyebut tekanan yang terjadi di pasar keuangan belakangan dipengaruhi berbagai faktor eksternal dan domestik. Beberapa di antaranya berkaitan dengan evaluasi Morgan Stanley Capital International (MSCI) hingga perubahan outlook kredit dari lembaga pemeringkat global.
Meski demikian, ia memastikan pemerintah terus menjaga stabilitas ekonomi nasional agar Indonesia tidak kembali menghadapi krisis besar seperti yang pernah terjadi pada 1998.
“Dan sekarang boleh dibilang, walaupun enggak sempurna ya, kebijakan yang besarnya enggak ada yang salah. Kita enggak akan mengulangi 1998 lagi,” ucapnya.
Dalam kesempatan itu, Purbaya juga sempat melontarkan candaan ketika menyinggung kondisi Indonesia yang kini tidak lagi berada di bawah pengawasan Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF).
“Karena waktu itu kan ada IMF, kalau sekarang kan saya bukan IMF. Saya pinteran dikit dari IMF. Jadi enggak usah takut,” kata Purbaya.
Ia berharap penguatan sektor swasta dalam beberapa waktu mendatang mampu menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional sehingga tekanan yang dirasakan masyarakat bisa perlahan mereda.
Menurut Purbaya, pemerintah saat ini terus berupaya menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat di berbagai wilayah Indonesia. (nba)
Load more