Dedi Mulyadi: Jangan Sembarang Orang Menghina dan Merusak Tanah Papua!
- jabarprov.go.id
Jakarta, tvOnenews.com - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM), membawa pesan mendalam mengenai masa depan Bumi Cendrawasih saat menghadiri Konferensi Tahunan Analisis Papua Strategis (APS) di Jayapura, Jumat (29/5).
Dalam forum tersebut, tokoh yang akrab disapa KDM ini menekankan agar Papua tidak terjebak dalam arus pembangunan jangka pendek yang merusak ekosistem.
Sebagai langkah nyata dukungan terhadap sumber daya manusia, Dedi Mulyadi mengumumkan pemberian beasiswa pendidikan bagi 40 pemuda-pemudi Papua untuk berkuliah di Jawa Barat.
Program ini mencakup seluruh biaya studi hingga biaya hidup sampai para mahasiswa tersebut menyandang gelar sarjana.
"Silakan kuliah di Bandung. Biaya hidupnya kami tanggung sampai dia selesai," tegas Dedi Mulyadi di hadapan peserta konferensi.
Selain beasiswa, KDM menyoroti pentingnya menjaga identitas lokal di tengah modernisasi. Ia menyarankan agar setiap fasilitas publik, mulai dari perkantoran, sekolah, hingga hotel dan stadion di Papua, wajib mencerminkan arsitektur khas setempat.
Hal ini bertujuan agar masyarakat asli tidak merasa tercerabut dari akar budayanya.
"Papua dibangun untuk orang Papua. Jangan sampai suatu saat orang Papua merasa bukan lagi tinggal di kampungnya sendiri," ungkapnya.
KDM juga mengkritik pola pembangunan teknokrasi yang seringkali mengesampingkan kearifan lokal. Ia mengingatkan bahwa masyarakat adat bukanlah kelompok yang tertinggal, melainkan penjaga alam yang paling efektif.
"Kita sering menganggap kaum adat sebagai orang yang tertinggal, padahal mereka adalah sumber pengetahuan. Leluhur kita mampu menjaga alam selama berabad-abad dan mewariskannya kepada generasi berikutnya dengan baik," jelas KDM.
Dalam pandangannya, Papua merupakan wilayah yang masih mempertahankan kemurnian alamnya di tengah kerusakan lingkungan yang masif di daerah lain.
Ia memperingatkan bahwa kehancuran ekologi akan berakibat fatal pada tatanan sosial dan sistem keyakinan masyarakat adat.
"Saya melihat masih ada yang original di negeri ini namanya Papua. Di tempat kami sudah hampir tidak bisa mendapatkannya lagi. Di sini kami mendapat kejernihan air, kejernihan udara, dan alam yang sangat indah," tuturnya.
"Papua kehilangan alamnya maka rakyatnya akan lemah. Sistem keyakinan pada leluhurnya terputus oleh kehancuran ekologi," ujarnya.
Load more