Kemenperin: Perdagangan RI-Tajikistan Naik ke 1,9 Miliar USD, Bidik Industri Halal dan Aluminium
- istimewa - antaranews
Jakarta, tvOnenews.com - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) membidik penguatan akses pasar industri Indonesia ke kawasan Eurasia melalui penguatan kerja sama dengan Tajikistan.
“Kolaborasi industri antarnegara perlu terus diperkuat untuk memacu inovasi, memperluas akses pasar, serta menciptakan peluang investasi yang memberikan nilai tambah bagi kedua belah pihak,” ujar Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita dalam keterangan resmi dikonfirmasi di Jakarta, Minggu (14/6/2026).
Menurut dia, hubungan Indonesia dan Tajikistan memiliki potensi yang saling melengkapi.
Indonesia sebagai salah satu pusat industri terbesar di Asia Tenggara memiliki kekuatan pada sektor otomotif, elektronik, tekstil, serta industri pengolahan berbasis sumber daya alam.
Sementara itu, Tajikistan tengah memperkuat pengembangan industri berbasis mineral, aluminium, tekstil, dan teknologi baru.
Potensi tersebut menjadi fokus pembahasan dalam pertemuan bilateral antara Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses Industri Internasional (KPAII) Kementerian Perindustrian RI Tri Supondy dengan Wakil Menteri Perindustrian dan Teknologi Baru Republik Tajikistan, Aziz Nazar, pada rangkaian BRICS Forum on Partnership on New Industrial Revolution (PartNIR) 2026 di Xiamen, China.
Saat melakukan pertemuan bilateral Indonesia-Tajikistan di Xiamen pada 28 Mei 2026, kedua delegasi membahas berbagai peluang kerja sama yang berpotensi memperkuat kemitraan industri.
Indonesia memandang Tajikistan sebagai mitra penting sekaligus pintu masuk strategis untuk memperluas jangkauan produk manufaktur nasional ke kawasan Commonwealth of Independent States (CIS).
Dalam beberapa tahun terakhir, hubungan ekonomi kedua negara menunjukkan tren positif. Nilai perdagangan Indonesia dan Tajikistan meningkat dari 1,7 juta dolar AS pada 2021 menjadi 1,9 juta dolar AS pada 2025, dengan kontribusi utama berasal dari sektor nonmigas.
Kinerja tersebut menunjukkan masih terbukanya ruang kerja sama yang lebih luas, baik di bidang perdagangan maupun pengembangan industri.
Direktur Jenderal KPAII Kemenperin Tri Supondy mengatakan, penguatan hubungan dengan negara-negara mitra merupakan bagian dari strategi membangun konektivitas industri yang lebih luas sekaligus membuka peluang baru bagi pelaku usaha nasional.
“Kami terus meningkatkan peluang terciptanya kemitraan yang saling menguntungkan melalui perluasan jejaring industri, peningkatan investasi, serta pengembangan kerja sama yang mampu memberikan nilai tambah bagi kedua negara,” bebernya.
Selain menjajaki peluang perdagangan dan investasi, kedua negara juga membahas tindak lanjut inisiasi Nota Kesepahaman (MoU) bidang industri yang diajukan Tajikistan. Pembahasan diarahkan pada penyempurnaan ruang lingkup kerja sama agar lebih relevan dengan kebutuhan dan potensi masing-masing negara.
Indonesia dan Tajikistan juga mengidentifikasi sejumlah sektor yang berpotensi menjadi fokus kolaborasi, yakni pengembangan rantai pasok mineral kritis, industri farmasi dan alat kesehatan, serta ekosistem industri halal. Ketiga sektor tersebut dinilai memiliki prospek yang menjanjikan dan mampu memberikan manfaat ekonomi bagi kedua negara.
Pertemuan itu sekaligus menjadi momentum untuk memperkenalkan partisipasi Indonesia sebagai Partner Country pada INNOPROM International Industrial Exhibition 2026 yang akan berlangsung pada 6–9 Juli 2026 di Ekaterinburg, Rusia.
Keterlibatan Indonesia dalam pameran industri terbesar di kawasan Eurasia tersebut diharapkan dapat memperluas promosi produk manufaktur nasional serta membuka peluang kemitraan baru dengan pelaku industri dan investor dari berbagai negara. (ant/aag)
Load more