Iran-AS Damai, Pengamat Sebut Bank Sentral Dunia Gencar Borong Emas: Harga Kembali Naik
- Istimewa
Menurut Ibrahim, langkah tersebut menjadi sinyal perubahan strategi setelah sebelumnya Bank Indonesia lebih banyak melakukan pelepasan cadangan emas. Penurunan harga logam mulia dinilai menjadi momentum yang dimanfaatkan untuk memperkuat komposisi cadangan devisa nasional.
“Artinya apa? Bahwa sebelum-sebelumnya Bank Indonesia menjual, ya menjual emas batangannya, rupanya apa? Pada saat harga logam mulia mengalami penurunan, ini kesempatan bagi Bank Indonesia untuk mendiversifikasi cadangan devisanya dengan menggunakan emas batangan atau logam mulia sebesar 2 ton,” jelasnya.
Ibrahim juga mengutip proyeksi JP Morgan yang memperkirakan pembelian emas oleh bank sentral global akan meningkat signifikan sepanjang tahun ini meskipun Selat Hormuz telah dibuka kembali dan jalur perdagangan energi mulai normal.
“Nah, JP Morgan sendiri mengatakan bahwa pasca Selat Hormuz dibuka oleh Iran kemudian Laut Oman dibuka oleh Amerika Serikat, ada kemungkinan besar ya peningkatan terhadap pembelian untuk logam mulia terutama oleh Bank Sentral global sebesar 800 ton untuk tahun 2026,” katanya.
Menurutnya, langkah tersebut menunjukkan bahwa bank sentral dunia masih melihat risiko global yang cukup besar meskipun ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran mulai mereda.
“Nah, tujuan dari pembelian tersebut adalah diversifikasi cadangan devisa ya yang terjadi akibat ketidakpastian ekonomi global dan geopolitik walaupun ya di Timur Tengah masih memanas,” tegas Ibrahim.
Sebelumnya, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengumumkan bahwa Amerika Serikat dan Iran telah mencapai kesepakatan damai yang akan ditandatangani secara resmi di Jenewa, Swiss, pada 19 Juni mendatang.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga mengonfirmasi kesepakatan tersebut dan mengumumkan pembukaan kembali Selat Hormuz yang selama ini menjadi salah satu jalur distribusi minyak paling vital di dunia. (agr/muu)
Load more