Silsilah Kelam Keluarga Taufik Hidayat: Adik OD, Ibu Stres hingga Wafat, hingga Kakak Tukang Mabuk
- Kolase Istimewa & tvOne
tvOnenews.com – Kasus dugaan penyekapan dan penganiayaan brutal yang menimpa perempuan berinisial YTR (29) oleh tersangka Taufik Hidayat (30) terus menguliti fakta-fakta mencengangkan.
Kali ini, sorotan tajam publik mengarah pada kondisi internal keluarga pelaku yang dinilai hancur berantakan akibat rentetan tragedi memilukan selama bertahun-tahun.
Di ranah hukum, Kapolda Jawa Barat Irjen Pol. Rudi Setiawan menegaskan bahwa Taufik kini resmi dijerat dengan pasal berlapis dengan ancaman hukuman maksimal hingga 12 tahun penjara.
- Istimewa
Tindakan sadis TH membuat korban mengalami trauma fisik super berat, mulai dari kebutaan permanen, gangguan bicara, hingga lumpuh tak bisa berjalan normal akibat disiksa secara berulang di kamar kos.
Namun, di balik karakter iblis yang dimiliki eks debt collector ini, terungkap bahwa garis keturunan keluarga Taufik menyimpan kisah kelam yang dipenuhi oleh lingkaran setan, narkoba, hingga gangguan jiwa.
Kematian Beruntun Anak Sulung dan Si Bungsu yang Tewas Overdosis
Berdasarkan pengakuan sang ayah Tata bersama Kepala Desa Ciaro Kusnaedi, keluarga mereka sebenarnya memiliki empat orang anak. Namun, badai cobaan datang silih berganti menghancurkan kebahagiaan mereka.
Tragedi pertama dimulai saat anak sulung mereka yang berjenis kelamin perempuan meninggal dunia akibat penyakit medis.
Belum sempat duka itu mengering, keluarga Tata kembali dihantam hantaman telak saat anak bungsu laki-laki mereka tewas mengenaskan akibat overdosis zat terlarang.
"Yang bungsu meninggal karena overdosis, minum obat-obatan sampai meninggal dunia," ungkap Kades Ciaro, Kusnaedi.
- Tangkapan layar YouTube Kang Dedi Mulyadi Channel
Sang Ibu Depresi Berat, Ampleung-Ampleungan Jalan Tanpa Arah hingga Wafat
Rentetan kematian anak serta tabiat buruk anak-anaknya yang lain perlahan merusak mental ibu kandung Taufik.
Kusnaedi membeberkan bahwa sang ibu sempat mengalami depresi dan tekanan mental yang sangat hebat sebelum akhirnya mengembuskan napas terakhir.
"Ibunya stres, setahun ampleung-ampleungan (jalan kaki ke sana ke mari tanpa tujuan)," jelas Kusnaedi.
Kondisi psikologis yang hancur membuat sang ibu kerap mengurung diri, menolak berbicara dengan siapa pun, dan menolak diobati.
Sang suami Tata, bahkan harus berulang kali menyusuri jalanan malam hanya untuk menjemput istrinya yang kerap menggelandang berjalan kaki tanpa arah akibat beban pikiran yang teramat berat, hingga akhirnya ia meninggal dunia dalam kondisi memprihatinkan.
Load more