Sekjen Gernas Ayo Mondok Bakal Mengkaji Kasus Dugaan Pembakaran Santri di NTB
- Istimewa
Jakarta, tvonenews.com- Sekjen gerakan nasional ayo mondok ikut menyoroti kasus dugaan pembakaran santri di NTB. Sebab kabarnya ini viral di media sosial (Medsos).
Dalam keterangannya, KH Zahrul Azhar Asumta menyebut kejadian yang terjadi di Nusa Tenggara Barat (NTB) tersebut masih menunggu pihak kepolisian. Namun pihaknya ingin juga mengkaji dua opini yang berkembang.
Kasus dugaan pembakaran santri di NTB ini, masih mejadi pertanyaan besar, siapa tersangka atau apa penyebabnya,dll. Sebab muncul dua opini soal penyebab dan kronologi, adanya dugaan kelalaian santri yang mengarah pada bully dan aksi balas dendam.
"Saat ini kalau berdasarkan kronologi yang dikeluarkan kemenag,Ā ini adalah kasus yang terjadi karena kelalaian pihak para santri, yang ingin membuat ketapel yang harus dipanaskan dengan api, tetapi juga muncul versi lain, ini adalah kasus balas dendam di antara mereka mengakibatkan pembully-an dan pembakaran," katanya, dikutip dari youtube berita satu, Kamis (9/7).
"Yang disebabkan diduga pelaku ini pernah dilaporkan kepada pengasuh telah melakukan pembullyan dan akhirnya dia dendam dan terjadi sesuatu. 2 versi ini tengah kita kaji bersama, dan kita berikan leluasan pihak kepolisian,Ā pihak ayo mondok sangat prihatin sekali dengan kasus ini dan tidak terulang lagi," katanya..
Sehubungan dengan kasus ini, diketahui ada lima santri yang berkumpul di sebuah ruangan, ingin bermain dan meluruskan kayu bengkok sebagai bahan pembuatan ketapel.
Dalam kronologi Kemenag, menyebutkan kelima anak itu, dalam satu ruang. Lalu pegang bensin dituangkan ke wadah mika kosong untuk dibakar.
Tanpa sengaja botol bensin itu belum ditutup tersenggol hingga api menyambar kasur bekas di belakang mereka.
Lalu kobaran api dengan cepat membesar dan memenuhi ruangan. Kemudian Reyhan bersama Yusuf Sapi'i berhasil keluar melalui pintu.
Lalu tiga santri lainnya, yakni Sahril Sobirin, Sahid Al Hudri, dan Ahmad Deven Ramadhan, tidak dapat menyelamatkan diri karena terhalang kobaran api.
Di sisi lain, juga ada hasil sementara penelusuran lembaga perlindungan anak atau LPA, Kota Mataram bahwa korban sempat diduga disiram bensin, dan dibakar oleh santri lain.
Load more