Pesan Terakhir Rachmat Gobel Sebelum Wafat Agar Produk Lokal Mampu Bersaing dengan Barang Impor
- Istimewa
tvOnenews.com – Sosok pengusaha besar sekaligus tokoh nasional Rachmat Gobel dilaporkan meninggal dunia pada Jumat (10/7/2026) dini hari, sekitar pukul 03.20 WIB di Rumah Sakit Brawijaya Tebet, Jakarta Selatan.
Pria yang namanya sangat identik dengan raksasa elektronik Panasonic tersebut menghembuskan napas terakhirnya pada usia 63 tahun.
Rekam jejaknya yang sangat panjang dalam membangun pondasi industri manufaktur nasional membuat kepergian Rachmat Gobel menjadi kehilangan raksasa bagi ekosistem pengusaha di tanah air.
- Istimewa
Sosoknya dihormati sebagai mentor dan role model bagi para pelaku usaha berkat kegigihannya mempertahankan kedaulatan ekonomi domestik.
Sebelum tutup usia, Mantan Menteri Perdagangan ini sempat menitipkan pesan berharga serta alarm keras agar industri nasional tetap berdiri kokoh di tengah hantaman badai krisis ekonomi global.
Rachmat Gobel semasa hidupnya sangat vokal mengingatkan pemerintah dan pelaku usaha untuk membangun benteng pertahanan industri dalam negeri yang tangguh.
Di tengah lesunya ekonomi dunia, ia mengaku sangat optimistis bahwa Indonesia memiliki senjata rahasia yang tidak dimiliki negara lain, yakni jumlah pasar lokal yang sangat masif.
“Ekonomi lemah ini kan bukan hanya Indonesia saja yang mengalaminya, seluruh dunia mengalaminya. Oleh karena itu, saya sangat optimis sekali apabila pasar Indonesia yang sangat besar ini bisa kita jaga dan kelola dengan baik,” ungkap Rachmat Gobel semasa hidupnya, dikutip dari tayangan YouTube BeritaSatu.
Menurutnya, pengelolaan pasar domestik yang bersih akan menjadi magnet alami untuk memikat para investor asing maupun lokal guna menanamkan modal di sektor manufaktur.
Namun, ia tidak menampik bahwa industri lokal saat ini tengah berdarah-darah membendung gempuran produk impor, terutama yang masuk melalui jalur ilegal.
Maraknya barang selundupan inilah yang dinilai merusak ekosistem pasar dan membuat investor asing emoh membangun pabrik di Indonesia.
- Istimewa
Ketika produk-produk asal Tiongkok merajai dan menggempur pasar tanah air, Rachmat Gobel menegaskan bahwa produk buatan anak bangsa sebenarnya sangat mampu bersaing, asalkan memiliki strategi hulu-hilir yang jelas.
Langkah pertama yang harus dievaluasi total oleh pemerintah adalah harmonisasi tarif produksi dan regulasi.
Ia menyoroti fenomena aneh di mana biaya membuat komponen di dalam negeri justru kerap kali lebih mahal ketimbang melakukan impor akibat kebijakan tarif yang belum sinkron.
"Misalnya kita bikin komponen dalam negeri, kita lebih baik impor komponen daripada kita bikin komponen dalam negeri. Harmonisasi tarif itu diperlukan," jelas sang taipan.
Selain regulasi yang saling menunjang, Rachmat menjabarkan tiga pilar utama yang wajib dimiliki produk lokal agar bisa menekuk produk Tiongkok di pasar, yaitu inovasi tanpa henti, perluasan jaringan pasar, dan senjata paling ampuh: layanan purnajual (after sales service).
Bagi Rachmat, industri yang menanamkan investasinya di tanah air memiliki tanggung jawab moral jangka panjang untuk merawat kepercayaan masyarakat, hal yang tidak dimiliki oleh para importir nakal.
"Yang harus kita jual adalah kita punya tanggung jawab terhadap para konsumen Indonesia. Konsumen harus kita bangun. Kalau terjadi sesuatu, makanya perlu after sales service harus dibangun karena bagian dari tanggung jawab daripada industri itu sendiri," pungkasnya tegas. Selamat jalan, sang patriot industri nasional.
Load more