Indonesia Dinilai Perlu Bertransformasi Menjadi Pusat Hilirisasi Sawit Global
- istimewa
Sementara, Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI), Tungkot Sipayung, mengatakan bahwa hilirisasi merupakan strategi untuk menghasilkan produk turunan bernilai tambah tinggi sekaligus memperluas pasar industri sawit Indonesia.
Ia menekankan, hilirisasi tak hanya berorientasi pada peningkatan ekspor tetapi juga berperan untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap berbagai produk impor.
“Dengan hilirisasi sawit, kita bisa berubah dari raja CPO dunia menjadi raja oleokimia, raja biofuel, raja biomaterial, dan raja oleofood global,” paparnya.
Ia mencontohkan, hilirisasi sawit di sektor energi berpotensi untuk menekan impor avtur melalui pengembangan sustainable aviation fuel (SAF) atau bioavtur.
Beberapa bahan baku yang potensial untuk produksi SAF seperti minyak sawit, PFAD, POME, minyak jelantah, hingga tandan kosong kelapa sawit.
“Dalam energi, kita mengimpor bensin dan avtur yang sangat besar setiap tahun. Padahal, dari produk hilir sawit bisa dihasilkan bensin sawit dan avtur sawit atau SAF untuk mengganti impor energi fosil tersebut,” terangnya.
Menurutnya, hilirisasi sawit juga memungkinkan Indonesia menjadi salah satu negara produsen oleokimia terbesar di dunia.
Kapasitas produksi oleokimia Indonesia tercatat sebesar 19,93 juta ton per tahun. Hilirisasi sawit di sektor oleokimia berpotensi menekan angka impor kimia organik.
“Demikian juga impor kimia organik yakni petrokimia yang cukup besar setiap tahun. Bisa kita substitusi dari produk hilir sawit yakni oleokimia sawit,” pungkasnya. (muu)
Load more