Jarang Orang Tahu, Keturunan Arab Penggagas Paskibraka hingga Pramuka: Husein Mutahar Ajudan Bung Karno
- Dok. Gerakan Pramuka
tvOnenews.com – Nama Mayor Husein Mutahar mungkin tak asing bagi dunia kepanduan dan musik nasional. Pemilik nama lengkap Sayyid Muhammad Husein bin Salim bin Ahmad Al-Muthahar ini merupakan sosok penting di balik sejarah perjuangan Kemerdekaan Indonesia, mulai dari menyelamatkan Bendera Pusaka, menggagas Paskibraka, hingga mendirikan Gerakan Pramuka.
Peristiwa paling dramatis terjadi saat Belanda melancarkan Agresi Militer II di Yogyakarta pada 19 Desember 1948.
Dalam kondisi Gedung Agung terkepung tentara musuh, Presiden Soekarno memanggil Mutahar dan memberikan mandat sakral untuk menjaga Bendera Pusaka buatan Fatmawati.
- Dok. Gerakan Pramuka
"Dengan ini aku memberikan tugas kepadamu pribadi. Dalam keadaan apapun juga, aku memerintahkan kepadamu untuk menjaga bendera kita dengan nyawamu!" tegas Bung Karno sebagaimana tertulis dalam buku Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.
Trik Cerdas Kelabuhi Belanda: Memisah Kain Merah dan Putih
Demi menghindari penyitaan oleh tentara Belanda yang berkeliaran, Mutahar mengambil keputusan nekat namun cerdas.
Ia memisahkan bendera pusaka menjadi dua helai kain—merah dan putih—dengan memotong jahitannya dibantu oleh Ibu Perna Dinata.
Kain terpisah itu kemudian disembunyikan di dasar tas di antara tumpukan pakaiannya. Strategi ini berhasil mengelabuhi musuh hingga Presiden Soekarno yang sempat diasingkan meminta bendera tersebut dikembalikan pada pertengahan 1949.
Sebelum diserahkan melalui delegasi Soedjono, Mutahar meminjam mesin jahit milik istri seorang dokter untuk menyatukan kembali kain Merah Putih tersebut persis mengikuti lubang jahitan aslinya.
Bendera itu pun berhasil dikibarkan kembali secara megah pada 17 Agustus 1949 di Yogyakarta.
Atas keikhlasan dan keberaniannya, Bung Karno menganugerahkan Bintang Mahaputera kepada Mutahar pada tahun 1961.
- Antara
Mumpuni di Jalur Diplomasi, Karya Lagu, dan Paskibraka
Kiprah patriotik pria kelahiran Bogor, 1 Juli 1916 ini tak berhenti di sana.
Tokoh keturunan Arab-Indonesia yang menguasai sedikitnya enam bahasa aktif ini juga melakoni karier diplomasi jempolan sebagai Duta Besar RI untuk Vatikan (1969–1973) serta Sekjen Departemen Luar Negeri.
Di dunia kebudayaan dan kepemudaan, Mutahar dikenal luas sebagai pengubah lagu-lagu legendaris tanah air seperti Hari Merdeka, Syukur, Dirgahayu Indonesiaku, hingga Hymne Pramuka.
Ia juga merupakan konseptor utama pembentukan Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka).
Husein Mutahar wafat pada 9 Juni 2004 di usia 87 tahun dan dimakamkan di TPU Jeruk Purut, Jakarta Selatan. Warisan semangat dan karya-karyanya hingga kini terus hidup mengiringi perjalanan bangsa Indonesia.
Load more