Lucky Hakim Bongkar Strategi Pertahankan Indramayu sebagai Lumbung Pangan Nasional
- Istimewa.
Jakarta, tvOnenews.com - Luas lahan pertanian di Indramayu, Jawa Barat, menghadapi tekanan di tengah pembangunan dan masuknya investasi. Kondisi tersebut membuat peningkatan produksi pangan tidak lagi bisa mengandalkan penambahan luas sawah.
Pemerintah Kabupaten Indramayu justru mencoba mendorong produktivitas dari lahan yang sudah tersedia melalui penerapan teknologi dan sistem pertanian modern.
Langkah tersebut salah satunya diuji coba di Desa Plosokerep, Kecamatan Terisi, melalui program Pertanian Modern–Advanced Agricultural System (PM-AAS).
Program itu diterapkan di hamparan sawah seluas sekitar 100 hektare dengan melibatkan sembilan kelompok tani, satu brigade pangan, dan 93 petani. Teknologi yang digunakan antara lain drone pertanian, pompa dan irigasi perpompaan, mekanisasi pertanian hingga combine harvester.
Bupati Indramayu Lucky Hakim mengatakan peningkatan produktivitas menjadi pilihan ketika luas lahan pertanian tidak memungkinkan untuk terus ditambah.
“Tujuannya untuk intensifikasi peningkatan tonase, karena hamparan sawah tidak bisa kita tambah, justru yang ada berkurang. Indramayu sudah punya LP2B sekitar 92 ribu hektare yang tidak bisa diutak-atik,” ujar Lucky Hakim dalam keterangannya, dikutip Sabtu (29/8/2026).
Penerapan PM-AAS dimulai sejak Mei 2026. Beberapa bulan kemudian, hasil uji coba tersebut mulai terlihat saat panen perdana digelar pada 26 Agustus 2026.
Pengukuran dilakukan BPS Kabupaten Indramayu melalui lima titik ubinan. Hasil pengukuran menunjukkan produktivitas rata-rata mencapai 10,45 ton per hektare. Bahkan, hasil tertinggi tercatat mencapai 12,35 ton per hektare.
Angka tersebut berada di atas target awal yang dipatok sebesar 8 ton per hektare. Jika dibandingkan dengan produktivitas sebelumnya yang berada di kisaran 5–6 ton per hektare, kenaikannya juga cukup signifikan.
Lucky Hakim menyambut capaian tersebut sebagai hasil yang memberikan optimisme terhadap upaya meningkatkan produksi pangan dari lahan yang ada.
“Dari yang tadinya sekitar 5 sampai 6 menjadi 8 ton. Alhamdulillah berkah. Ternyata pas diukur oleh BPS juga tadi sudah dapat angka 10 ton lebih,” katanya.
Menurut Lucky, penggunaan teknologi pertanian tidak cukup hanya ditandai dengan masuknya berbagai mesin ke area persawahan. Penerapannya harus mampu memberikan dampak terhadap hasil produksi dan mendorong petani untuk terus mengembangkan cara bercocok tanam.
Load more