Aktivitas Gunung Anak Krakatau Mulai Normal, Abu Vulkanik Bergerak Menjauh dari Jawa
- Antara
Jakarta, tvOnenews.com - Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau mulai menunjukkan tren penurunan pada Selasa, 8 September 2026. Kondisi tersebut ditandai dengan aktivitas erupsi yang tidak lagi berlangsung terus-menerus serta perubahan arah sebaran abu vulkanik yang kini bergerak menjauh dari daratan Pulau Jawa dan Sumatra.
Berdasarkan data terbaru Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), abu vulkanik Gunung Anak Krakatau pada Selasa pagi dominan bergerak ke arah selatan dan barat daya. Arah tersebut berbeda dibandingkan kondisi pada Minggu dan Senin ketika sebaran abu bergerak ke barat laut dan timur laut.
Perubahan arah angin tersebut membuat abu vulkanik diperkirakan bergerak menuju perairan terbuka di Samudra Hindia. Kondisi ini menjadi perkembangan positif setelah erupsi Gunung Anak Krakatau sebelumnya berdampak terhadap sejumlah wilayah di Pulau Jawa.
Kolom Abu Mencapai 2,1 Kilometer
Kolom abu vulkanik Gunung Anak Krakatau pada Selasa terpantau mencapai ketinggian 7.000 kaki atau sekitar 2,1 kilometer di atas permukaan laut.
Berdasarkan prediksi cuaca dalam 24 hingga 48 jam ke depan, angin pada lapisan rendah hingga menengah diperkirakan masih membawa abu vulkanik menjauh dari permukiman warga di Pulau Jawa.
Sebaran abu diprediksi bergerak menuju perairan terbuka sehingga dampaknya terhadap wilayah daratan dapat berkurang. Kondisi tersebut juga memungkinkan sejumlah bandara yang sebelumnya terdampak abu vulkanik untuk kembali beroperasi secara normal.
Meski demikian, perubahan arah angin tetap menjadi perhatian karena kondisi atmosfer dapat berubah sewaktu-waktu.
Gunung Anak Krakatau Masih Erupsi Empat Kali
Meski aktivitas erupsi terus-menerus telah berakhir, Gunung Anak Krakatau masih mengalami empat kali erupsi pada Selasa, 8 September 2026.
Erupsi tersebut berlangsung dalam durasi relatif singkat. Berikut catatan erupsi Gunung Anak Krakatau pada Selasa:
-
05.08 WIB: erupsi berlangsung selama 17 detik dengan amplitudo 44 mm.
-
05.34 WIB: erupsi berlangsung selama 10 detik.
-
07.49 WIB: erupsi berlangsung selama 19 detik.
-
11.34 WIB: erupsi berlangsung selama 17 detik.
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyatakan karakter aktivitas Gunung Anak Krakatau saat ini jauh lebih stabil dibandingkan erupsi masif yang terjadi pada 4-6 September 2026.
Pada periode tersebut, erupsi berlangsung selama sekitar 25 jam dan menyebabkan hujan abu vulkanik mencapai wilayah Jabodetabek.
Kini, aktivitas erupsi sudah tidak berlangsung secara terus-menerus. Erupsi yang terjadi pada Selasa juga memiliki durasi yang relatif pendek.
Status Gunung Anak Krakatau Masih Level III
Meskipun aktivitas vulkanik menunjukkan penurunan, Gunung Anak Krakatau hingga saat ini masih berada pada Status Level III atau Siaga.
Jurnalis Metro TV, Randi Al Faras, melaporkan dari pos pantau Desa Pasauran bahwa aktivitas warga dan nelayan di kawasan pesisir Serang hingga Pandeglang mulai kembali normal.
Namun, kewaspadaan tetap menjadi prioritas karena Gunung Anak Krakatau masih berstatus Siaga dan aktivitas vulkaniknya masih berlangsung.
Pihak berwenang juga meminta masyarakat, wisatawan, dan nelayan tetap mengikuti ketentuan keselamatan yang telah ditetapkan.
Warga Diminta Gunakan Masker
Ada dua imbauan utama yang perlu diperhatikan masyarakat di sekitar kawasan Gunung Anak Krakatau.
Pertama, masyarakat dan wisatawan dilarang mendekati area kawah Gunung Anak Krakatau dalam radius maksimal 3 kilometer.
Kedua, masyarakat diminta tetap menggunakan masker ketika melakukan aktivitas di luar ruangan. Meskipun sebaran abu tidak lagi sepekat beberapa hari sebelumnya, partikel vulkanik masih terasa di udara dan berpotensi mengganggu saluran pernapasan.
Kondisi cuaca di sekitar Gunung Anak Krakatau pada Selasa juga terpantau berawan dengan tiupan angin yang lemah.
Pemerintah daerah bersama tim SAR masih melakukan pemantauan terhadap perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau. Pemantauan dilakukan untuk mengantisipasi apabila terjadi perubahan arah angin secara mendadak yang dapat memengaruhi sebaran abu vulkanik.
Load more